Serly, Gadis Papua yang ingin Ditolong Presiden Agar bisa UN

SULTRAKINI.COM: WAKATOBI – Serly, warga Papua yang kini mengenyam pendidikan di SDN 3 Pongo, Kecamatan Wangi-wangi, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara meminta bantuan kepada Presiden RI Joko Widodo. Pasalnya, gadis Papua ini terancam tidak mengikuti ujian nasional 2020.

Nasib Serly belum jelas terkait ahwal dirinya yang terancam tidak bisa mengikuti ujian nasional 2020 di SDN 3 Pongo, Wakatobi. Rupanya gadis Papua ini tidak memiliki nomor di Data Pokok Pendidikan (Dapodik).

“Saya Serly dari SD Negeri 3 Pongo. Bapak presiden tolong bantu saya mau ikut ujian. Saya mau sekolah, tolong saya,” ucap Serly ditemui di sekolahnya, Rabu (22/1/2020).

Ia menaruh harapan besar agar segera dibantu oleh pemerintah, terutama Jokowi karena ia ingin sekolah selayaknya anak-anak lain.

Kepala SDN 3 Pongo, Abd. Maafi, mengatakan awalnya Serly masuk di SDN 3 Pongo pada Agustus 2018 dengan alasan titipan. Serly dibawa oleh orang tua angkatnya dari Papau, namun mereka tidak membawa surat pindahnya dari sekolah asalnya.

“Orang tua angkatnya kasih masuk sekolah ini dengan alasan dititipan saja. Saat itu saya sudah sempat tanya terkait dokumennya, tapi tidak ada sehingga kami pihak sekolah menerima saja karena kasian anak ini kalau tidak sekolah,” jelas Maafi.

Kampus

Menurut kepala sekolah, Serly tidak dapat mengikuti ijian nasional karena ia belum terdaftar sebagai peserta ujian di SDN 3 Pongo. Dia bisa mengikuti ujian nasional di sekolah tersebut terkecuali ia terdaftar.

Pihak SDN 3 Pongo terus berupaya agar Serly tetap mengikuti ujian. “Saat ini operator sekolah berupaya mendeteksi sekolah awal Serly untuk meminta data Serly. Operator sini sudah menghubungi operator kabupaten awal Serly berada,” sambungnya.

Serly masuk di SDN 3 Pongo sewaktu kelas V. Kala itu, dia belum dapat membaca, namun seiring waktu Serly pandai membaca dan mengaji.

Ibu angkat Serly, Sulistia, menerangkan dirinya kesulitan menghubungi orang tua kandung Serly di Papua karena jaringan di kampungnya itu susah, terkecuali mereka harus pergi lagi ke kampung tetangga untuk bisa menjangkau koneksi jaringan.

“Setengah mati juga jaringan di sana. Kita mau hubungi siapa untuk minta datanya di sana,” ujarnya.

Pernah beberapa kali Sulistia sempat tersambung dengan orang tua kandung Serly di Papua, namun ketika ia menyampaikan ke ibunya bahwa pihak sekolah membutuhkan akta kelahiran dan sejumlah dokumen kependuduk Serly, orangtua kandungnya tidak memahami dokumen kependudukan yang dimaksud.

Laporan: Amran Mustar Ode
Editor: Sarini Ido

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.