SUARA

Siswa SD Ikut FLS2N, Dikbud Muna: Pesertanya Tampil di Dua Lomba

SULTRAKINI.COM: MUNA – Mengusung tema kecintaan terhadap seni dan budaya bangsa, menguatkan karakter, menggugah daya cipta, serta membentuk kelembutan hati siswa, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Muna menyelenggarakan Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) tingkat sekolah dasar.

Kepala Dikbud Muna, Ashar Dulu melalui Kepala Bidang Kebudayaan, La Ode Ane mengatakan FLS2N tingkat SD pada 29-30 Maret 2018 kemarin merupakan program nasional dalam membentuk penguatan bakat, minat, dan kreativitas siswa sejak dini sesuai program pemerintah.

Tujuannya adalah sebagai wadah berkreasi dengan menampilkan daya kreatif dan inovatif. Siswa diharapkan dapat meningkatkan kreativitas, motivasi sesuai dengan minat, bakat dan kemampuan para siswa itu sendiri serta dapat terpeliharanya, semangat dan komitmen para praktis pendidikan di Kabupaten Muna.

“Pentingnya memperkenalkan seni budaya secara dini, jangan sampai punah, karena menjadi aset bangsa sesuai dengan amanah UU Nomor 5 Tahun 2017 tentang kemajuan kebudayaan,” kata Laode Ane ditemui SultraKini.Com, Sabtu (31/3/2018) sore.

Diakuinya pada FLS2N kali ini, dari empat jenis lomba pihaknya hanya mengikuti dua kegiatan, yakni lomba menyanyi solo (tunggal) dan lomba tari dengan alasan minim anggaran.

“Sebenarnya ada empat kegiatan yang turut dilombakan, tapi karena provinsi kekurangan anggaran sehingga ada dua yang tidak diikutkan, yaitu lomba pantomim dan lomba gambar bercerita,” ungkap Laode Ane.

Metode penilaian lomba, berupa SD yang disiapkan oleh para peserta untuk dikirim ke Dikbud Provinsi sebagai bahan penilaian.

yamaha

Siswa peraih juara nantinya, kembali mengikuti FLS2N tingkat provinsi pada April. Begitu juga juara selanjutnya di tingkat itu akan diutus maju ke tingkat nasional di Bangka Belitung Juli 2018.

Adapun jenis tari yang diikuti pada FLS2N, di antaranya Tari Pokadulu artinya “gotong royong”, tari ini mengisahkan kondisi masyarakat Muna sejak dulu sampai sekarang masih memiliki budaya Pokadulu.

Kedua, Tari Popanga artinya “penancapan sebuah benda yang berbau gaib atau keajaiban.

“Tarian ini, dilakukan oleh orang tua terdahulu hanya di lingkungan (lahan baru) yang rawan terhadap gangguan jin dan setan yang kerap mengganggu anak perempuan.

Ketiga, Tari Kulidawa diadaptasi dari pohon jati, tumbuhan kuat dan paling banyak menyimpan cadangan air dan sebagai salah satu ikon Kabupaten Muna. Tarian Kulidawa ini, mengisahkan sekelompok anak-anak yang cinta alam, lingkungan, dan kepedulian sosial dengan melestarikan permainan tradisional seperti permainan Kasungki yang terbuat dari ranting pohon jati.

Keempat, Tari Kambe Kambera yang artinya “Kupu-Kupu”. Secara filosofi tari ini mengisahkan kedamaian, eksotisme, dan keindahan pulau Muna.

 

Laporan: Arto Rasyid

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.