SULTRAKINI.COM: Given Emanuel Hemawan dan Raden Ajeng Dativa Rahsa Pradnyanesti siswa Sekolah Dasar Marsudirini, Yogyakarta, mampu menciptakan 'jembatan garam' untuk mendeteksi hujan.
Siswa SD Mampu Bangun 'Jembatan Garam'
Given Emanuel Hemawan dan Raden Ajeng Dativa Rahsa Pradnyanestri. (Foto: viva.co.id)

Dativa mengatakan kondisi hujan bisa dideteksi berkat cairan elektrolit atau cairan penghantar listrik. Mereka menggunakan larutan garam yang nantinya menjadi konduktor listrik.

"Jembatan garam ini perumpamaan rangkaian alat untuk menyambungkan arus ke lampu supaya menyala dan alarm agar berbunyi ketika hujan turun," kata Dativa kepada VIVA.co.id, Jumat, 27 Oktober 2017.

Jembatan, menurut Given, dibuat dari bambu atau juga kayu, lalu dilengkapi kabel buaya dan dua buah lempeng tembaga. 

Kemudian kabel buaya dililitkan pada lempeng tembaga yang dirangkai dengan bilah untuk menyampaikan arus cairan elektrolit ke lampu serta alarm.

"Jadi, ketika hujan turun maka airnya mengalir ke pipa. Lalu, pada bagian akhir saluran pipa dibuat sebuah wadah, yakni jembatan dan garam di dalamnya," paparnya.

Apabila hujan turun, maka otomatis garam terlarut dan jembatan mendeteksi cairan garam tersebut. 

Karena cairan garam berfungsi sebagai konduktor listrik, maka alarm berbunyi dan lampu menyala. "Itu menandakan di luar lagi hujan," ujar Given. 


Sumber: viva.co.id

Tanggapan Anda?

Facebook Conversations