Sketsa Budaya Tolaki dari Anyaman Tikar Sorume yang Terancam Punah

SULTRAKINI.COM: KONAWE – Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara menyimpan banyak keunikan dan kekayaan budaya. Misalnya, tikar sorume. Oleh masyarakat setempat, tikar ini kabarnya terancam punah lantaran bahan baku pembuatan tikar mulai langka.

Tikar sorume merupakan salah satu ciri khas Kabupaten Konawe sejak dulu kala dan disakralkan oleh Suku Tolaki. Benda ini biasanya digunakan sebagai pengalas peletakan-peletakan adat pada pernikahan atau acara adat lainnya.

Namun, warisan budaya ini terancam punah karena pembuatan anyaman tikar sorume menggunakan anggek hutan, yang tanamannya mulai langka.

Menurut Bendahara Dekranasda Kabupaten Konawe, Yusniati, anggrek hutan sulit ditemukan lantaran temperatur hutan Konawe telah berubah, sehingga habitat hidup anggrek hutan ikut terancam.

“Kita kesusahan mendapat anggrek hutan ini karena tidak dibudiyakan dan memang tidak bisa, karena ia hanya tumbuh di hutan yang temperaturnya sangat dingin, sementara hutan Konawe suhunya sudah berubah, tidak sedingin dulu,” jelas Yusniati ditemui di stan expo Konawe, Kamis (25/4/2019).

Tikar yang memiliki nilai sosial, religius, estetika, dan nilai ekonomi ini, tidak memakai bahan pewarna untuk membuatnya khas. Warna dominan kuning keemasan adalah murni dari warna anggrek hutan itu sendiri.

“Pada setiap ujung tikar yang menjadi sorume niwalu (pembungkusnya) ini, dibuat dari kain bludru berwarna merah hitam yang menjadi simbol gagah berani untuk Suku Tolaki,” tambahnya.

yamaha

Informasi dihimpun Sultrakini.com, tikar sorume memiliki filosofi di setiap lekukan anyaman maupun warnanya. Berikut maknanya.

1. Anyaman tikar sorume berbentuk persegi empat. Awalnya, berukuran 50cmx1,5cm. Kini berubah menjadi 40cmx1,30cm. Anyamannya adalah tunggal dengan motif geometris yang melambangkan suami, istri, mertua, anak, nenek, ayah, dan ibu;

2. Tikar sorume berbentuk persegi empat yang melambangkan keseimbangan pemerintah dalam menjaga kedaulatan kerajaan Konawe dengan sebutan Siwole Mbatohu, yakni sisi kanan-kiri dan sisi atas bawah; model segi empat wilayah alam, yaitu timur-barat, dan utara-selatan;

3. Warna tikar sorume kuning keemasan, merah, hijau, dan hitam artinya kejayaan, keberanian, kemakmuran, dan kematian.

4. Tikar sorume difungsikan untuk beberapa hal, yakni fungsi sosial artinya strata sosial mokole dan oata, tempat duduk seorang pemuka adat (tolea atau pabitara) dalam mombesara, tempat duduk seorang bangsawan seperti mokole dan anakia. Anyaman tikar sorume juga bagian dari seni atau ekspresi diri oleh budaya setempat.

Kini, jumlah pengrajin anyaman tikar sorume sekitar sepuluh orang dari Desa Ameroro, Kecamatan Uepai.

Setelah meninggalnya ibu Sui, sosok terkenal karena keahliannya membuat tikar sorume, keahlian tersebut diturunkan kepada keluarganya.

Laporan: Ulul Azmi
Editor: Sarini Ido

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.