Iklan Clarion
Festival Pesona Budaya Tua Buton

SmartVillage Bisa Majukan Sultra, Pertanian Modal Utama

SULTRAKINI.COM: KENDARI – Konsep SmartVillage atau Desa Cerdas, menjanjikan kemajuan untuk Provinsi Sulawesi Tenggara. Dengan mengandalkan sektor pertanian sebagai modal penggerak ekonomi, masyarakat Sultra bisa lebih sejahtera.

Hal ini mengemuka dalam diskusi Forum Jurnalis Sultra yang diikuti sekitar 30 jurnalis media cetak, televisi, online, dan radio se-Sultra, di salah satu hotel di Kendari, Rabu (12/4/2017) siang sampai sore. Mengusung tema “Pendekatan Pembangunan dan Perdesaan Melalui Smart Village”.

Diskusi ini diinisiasi oleh tiga jurnalis senior, yakni M Nasir Idris (Antv), M Djufri Rachim (SULTRAKINI.COM) dan Jumwal Saleh (Berita Kota Kendari). Menghadirkan pembicara, Dekan Fakultas Pertanian Universitas Halu Oleo (UHO) Prof. Dr. M. Tufaila, dan Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Lakidende (Unilaki) Rudi Azis, ST., M.Si.

Menurut Prof. Tufaila, pedesaan tidak terlepas dari komoditi pertanian. Bahkan kebutuhan pangan kota ditopang oleh hasil tani di desa. Dengan sumber daya alam, kualitas komoditi dan struktur tanah wilayah Sultra yang mendukung, masyarakat Sultra bisa lebih sejahtera. Efeknya, daerah bisa lebih maju.

“Kita bisa membangun mulai dari desa. Potensi di desa mendukung, adanya sumber daya alam, masyarakatnya yang mau bekerjasama, dan adanya otonomi desa. Ini semua mendukung percepatan pembangunan kalau dilaksanakan dengan bagus,” kata dosen Mata Kuliah Ilmu Tanah di Faperta UHO ini.

Sehingga, kata dia, dengan konsep Smart Village kemajuan bisa tercapai lebih cepat dan dapat mensejahterakan masyarakat. “Intinya dalam konsep Smart Village itu adalah penguasaan informasi dan teknologi,” katanya menyimpulkan.

“Label Smart Village sebenarnya bukan hal baru, kalau semua komponen dijalankan dengan bagus, didukung sentuhan teknologi, dengan sendirinya Smart Village itu terwujud,” tandas Prof. Tufaila.

Sementara Rudi Azis menekankan konsep Smart Village pada sinergi empat sektor yang disebut Quarter Helix, yakni perguruan tinggi, pemerintah daerah dan penguasaha dan masyarakat itu sendiri.

“Misalnya dengan menggunakan pertanian sistem Green House, lahan yang digunakan sedikit tapi hasilnya melimpah. Kami di Unilaki sudah mencoba melakukan itu dengan membuat tiga green house,” urainya.

Secara rinci, dosen di Unilaki ini memaparkan bahwa pemanfaatan teknologi dalam sistem pertanian, akan memudahkan masyarakat memproduksi komoditas pertanian dengan hasil besar. Bahkan mampu mensejahterakan petani lebih baik daripada menjadi pegawai.


Penulis: Gugus Suryaman

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.