000 HPN Prov

Stunting Mengancam Sultra, Edukasi Gencar Dilakukan kepada Orang Tua

SULTRAKINI.COM: Stunting masih menjadi perhatian serius Kementerian Kesehatan Indonesia, terkhusus pemerintah di Provinsi Sulawesi Tenggara. Balita penderita stunting mencapai 36 persen dan terus mengalami peningkatan.

Stunting atau gizi buruk yang dialami balita yang gagal tumbuh dan kembang atau kerdil, dimana pertumbuhan anak tidak sesuai dengan umur. Selain dari ciri fisik, stunting mempengaruhi kecerdasan intelektual, emosional yang disebabkan gagal kembangya otak secara optimal.

Berdasarkan data Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) dan data Riskasdas 2013 yang kemudian ditindaklanjuti pihak BKKBN Sultra, terdapat dua kabupaten diintervensi stunting, yaitu Buton di tahun 2018 dan Kolaka di tahun 2019

“Kami mendapat data dari pusat melalui TNP2K dan Riskasdas 2013, dimana Buton di tahun 2018 dan Kolaka di tahun 2019 yang mendapat penangan serius,” ujar Kasubid BKB Kantor BKKBN Sultra, Andi Asryanti Umar, Kamis (3/10/2019).

BKKBN Sultra juga mencatat wilayah Kolaka turut diintervensi terkena stunting pada 2019 menjadi perhatian yang sebelumnya terjadi di wilayah Kabupaten Buton pada 2018.

(Baca juga: Puluhan Anak di Bombana Menderita Stunting)

Ditambahkan Andi, upaya penanggulangan stunting hingga kini dilakukan berupa edukasi kepada orang tua balita agar menjaga tumbuh kembang optimal buah hatinya. Edukasi tersebut terlaksanan melalui program kelompok Bina Keluarga Balita (BKB).

“Kami memberikan sosialisasi terhadap keluarga balita pentingnya 1.000 hari pertama kehidupan, itu sangat penting asupan nutrisi dan gizi yang cukup dan seimbang bagi balita, dari usia 0 sampai dua tahun,” terangnya.

BKKBN Sultra juga berharap, wilayah di Sultra terintervensi stunting bisa tertangangi melalui peran masing-masing instansi terkait.

Meski begitu, BKKBN memprediksi apabila stunting tidak tertangani dengan baik, pada 2020 jumlah wilayah yang terinterbensi akan bertambah. Misalnya saja di wilayah Sultra terdapat kabupaten bisa terinvensi stunting, yakni Wakatobi, Muna, Kolaka Timur, dan Buton Selatan.

Pihak BKKBN sendiri mengatan ditahun 2020 jumlah wilayah yang di intervensi terkena stanting akan bertambah dan diduga ada empat Kabupaten yang berada di Sulawesi Tenggara yang menjadi perhatian khusus.

“Ada empat kabupaten, yaitu Wakatobi, Muna, Koltim, Buton Selatan dan tidak menutup kemungkinan akan terus bertambah,” tambahnya.

Menurut catatan Badan Kesehatan Dunia atau WHO, satu dari tiga anak balita di Indonesia menderita stunting, batas toleransi stunting maksimal 20 persen atau seperlima dari jumlah keseluruhan balita.

Di Indonesia tercatat 7,8 juta dan 23 juta balita yang terkena stunting atau sekitar 35,6 persen sehingga WHO menetapkan Indonesia sebagai status gizi buruk. Dibandingkan dengan negara tetangga seperti Thailand, Singapura, Malaysia yang berada di bawah 20 persen.

Bahaya stunting memang perlu dikenali sejak dini, begitu pula ciri-cirinya. Berikut sejumlah ciri-ciri stunting dirangkum Sultrakini.com dari berbagai sumber.

1. Anak terlihat lebih pendek dari anak seusianya atau kerdil;
2. Anak menjadi lebih pendiam atau apatis (eye kontak rendah);
3. Performa memburuk (iQ, daya ingat, dan memori belajar rendah);
4. Proses pubertas terlambat akibat pertumbuhan melambat, pertumbuhan gigi terlambat;

Selain faktor gizi, stunting dipengaruhi dengan faktor infeksi penyakit yang menyerang si anak, bisa jadi infeksi ini terjadi karena anak ini tidak mendapatkan imunisasi secara memadai, lingkungan yang tidak bersih, dan pola pengasuhan.

Stanting juga terjadi bukan hanya faktor ekonomi akibat asupan nutrisi kurang, tetapi pola asuh orang tua karena ketidaktahuan mereka tentang gizi yang sesuai dan pas untuk ibu hamil, ibu menyusui, dan anak.

Stunting juga mempunyai dampak jangka panjang. Jika kualitas anak rendah dan tidak mempunyai daya saing, generasi anak-anak ini tidak bisa berkontribusi membangun bangsa dan dapat membuat kemunduran suatu bangsa.

Orang tua sangat berperan penting dalam menangani anak yang menderita stunting. Selain asupan nutrisi, pola asuh sangat diharapkan melalui pendekatan emosional dimana orang tua lebih peduli dari pengaturan makan dari anak staunting, cinta lebih banyak, kasih sayang yang lebih baik.

Laporan: Riswan
Editor: Sarini Ido

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.