Sudah Dikukuhkan, SDC Kendari akan Memetakan Data Masyarakat yang Pengangguran

SULTRAKINI.COM: KENDARI – Forum Skill Development Center (SDC) dikukuhkan Pemerintah Kota Kendari, Sulawesi Tenggara. Pengurus forum ini akan memetakan data masyarakat yang belum bekerja demi meningkatkan kompetensi angkatan kerja masyarakat yang menjurus ke penanganan angka pengangguran.

Data Badan Pusat Statistik 2018, jumlah angkatan kerja Kota Kendari atau penduduk usia produktif (15-64 tahun) yang mempunyai pekerjaan tetapi sementara tidak bekerja, maupun yang sedang aktif mencari pekerjaan mencapai 166.602 orang. Jumlah bukan angkatan kerja atau penduduk yang berumur 10 tahun ke atas yang kegiatannya hanya bersekolah, mengurus rumah tangga, dan sebagainya mencapai 9.141 orang.

(Baca juga: Siap-siap SP2020, Intip Sensus Penduduk Sultra 2010)

Wali Kota Kendari, Sulkarnain Kadir, menerangkan jumlah angkatan kerja yang bekerja 154.567 orang dan pengangguran terbuka berjumlah 12.305 orang atau 7,22 persen. Data tersebut menunjukkan masalah serius yang dihadapi Pemkot dalam menanggulangi masalah pengangguran dan kemiskinan.

“Supaya angka pengangguran dan kemiskinan dapat ditekan, saya berharap SDC ini dapat memetakan data masyatakat yang belum bekerja. By name (nama), by address (alamat), by phone (nomor hp). Melihat kebutuhan tenaga kerja untuk dunia usaha dan industri serta jabatan atau keterampilan yang dibutuhkan, sehingga kita dapat menentukan jenis pendidikan dan vokasi yang dibutuhkan,” jelas Sulkarnain, Sabtu (28/12/2019).

Fortune
Wali Kota Kendari, Sulkarnain Kadir mengukuhan Forum Skill Development Center, Sabtu (28/12/2019). (Foto: Ade Putri/SULTRAKINI.COM)

Tugas SDC nantinya, mencocokkan dan menselaraskan kebutuhan pengembangan keterampilan di dunia kerja dengan pembelajaran yang diperoleh di tingkat SMA/SMK maupun perguruan tinggi.

Ketua SDC Provinsi Sulawesi Tenggara, Affandy Agusman Aris, mengatakan skema kurikulum sekolah seyogyanya selaras dengan dunia industri. Pengurus SDC akan memetakan kebutuhan industri di lingkungan masyarakat dan menselaraskan dengan kurikulum sekolah terutama tingkat SMK dan perguruan tinggi.

“Jadi yang dipelajari di sekolah harus sama dengan yang ada di lapangan, sarana dan prasarana yang ada di SMK maupun politeknik labolatoriumnya harus sama dengan di industri,” ujarnya.

Laporan: Ade Putri
Editor: Sarini Ido

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.