Suhu Panas Indonesia Kalahkan Suhu Maksimum pada 2018, Klimatologi Ranomeeto Bahkan Keluarkan Potensi Awas

SULTRAKINI.COM: Suhu panas beberapa hari terakhir ini melanda sejumlah wilayah di Indonesia. Rasa panas ini bahkan mencapai suhu maksimum tertinggi tercatat di tiga stasiun meteorologi. Suhu tersebut merupakan catatan suhu tertinggi dalam satu tahun terakhir, dimana periode Oktober pada 2018 tercatat suhu maksimum 37 derajat celcius.

Stasiun Meteorologi Sangia Nibandera mencatat 37.8 derajat celcius, Stasiun Meteorologi Hasanuddin (Makassar) 38.8 derajat celcius, dan Stasiun Klimatologi Maros 38.3 derajat celcius. Tiga stasiun ini mencatat suhu maksimum tertinggi pada 20 Oktober 2019. Suhu tersebut merupakan tertinggi dibandingkan tahun 2018.

Stasiun-stasiun meteorologi di Pulau Jawa hingga Nusa Tenggara mencatatkan suhu udara tertinggi maksimum terukur berkisar antara 35 derajat celcius-36.5 derajat celcius pada periode 19-20 Oktober 2019.

Kondisi ini bahkan membuat pihak BMKG UPT Stasiun Klimatologi Ranomeeto mengeluarkan peringatan dini di wilayah Sulawesi Tenggara berpotensi terjadi kekeringan meteorologist dengan potensi “awas” di daerah Baubau, Bungi, Batauga, Tongkuno. Kekeringan meteorologist dengan potensi “siaga” di daerah Sorawolio pada 22 Oktober 2019.

Berdasarkan persebaran suhu panas yang dominan berada di selatan Khatulistiwa, hal ini erat kaitannya dengan gerak semu matahari. Seperti diketahui pada September, matahari berada di sekitar wilayah khatulistiwa dan akan terus bergerak ke belahan bumi selatan hingga bulan Desember. Sehingga pada bulan Oktober ini, posisi semu matahari akan berada di sekitar wilayah Indonesia bagian Selatan, seperti Sulawesi Selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan sebagainya.

Kondisi ini menyebabkan radiasi matahari yang diterima oleh permukaan bumi di wilayah tersebut relatif menjadi lebih banyak, sehingga akan meningkatkan suhu udara pada siang hari. Selain itu pantauan dalam dua hari terakhir, atmosfer di wilayah Indonesia bagian selatan relatif kering sehingga sangat menghambat pertumbuhan awan yang bisa berfungsi menghalangi panas terik matahari.

Minimnya tutupan awan ini akan mendukung pemanasan permukaan yang kemudian berdampak pada meningkatnya suhu udara.

“Gerak semu matahari merupakan suatu siklus yang biasa dan terjadi setiap tahun, sehingga potensi suhu udara panas seperti ini juga dapat berulang pada periode yang sama setiap tahunnya,” jelas Deputi Bidang Meteorologi, Drs. R. Mulyono R. Prabowo M.Sc dalam keterangan tertulisnya.

Diterangkan Mulyono, dalam waktu sekitar satu minggu ke depan masih ada potensi suhu terik di sekitar wilayah Indonesia mengingat posisi semu matahari masih akan berlanjut ke selatan dan kondisi atmosfer yang masih cukup kering sehingga potensi awan yang bisa menghalangi terik matahari juga sangat kecil pertumbuhannya.

“BMKG mengimbau masyarakat yang terdampak suhu udara panas ini untuk minum air putih yang cukup untuk menghindari dehidrasi, mengenakan pakaian yang melindungi kulit dari sinar matahari jika beraktivitas di luar ruangan, serta mewaspadai aktivitas yang dapat memicu kebakaran hutan dan lahan khususnya di wilayah-wilayah yang memiliki potensi tinggi karhutla,” ucap Mulyono.

Selain itu, BMKG juga mengimbau masyarakat untuk mewaspadai adanya angin kencang yang berpotensi terjadi di pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, dan Kalimantan Selatan.

Rilis BMKG
Laporan: Hasniar

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.