Sultra akan Menghentikan Ekspor Biji Nikel, Mengapa?

SULTRAKINI.COM: KENDARI – Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melarang ekspor nikel mulai awal 2020. Peraturan Menteri ESDM yang akan mengatur larangan ini tengah diproses di Kemenkum HAM.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Tenggara, Suharman Tabrani, mengatakan terdapat beberapa pertimbangan pemerintah melarang tambang melakukan ekspor biji nikel, pertama nikel dengan kadar rendah sudah bisa diolah di dalam negeri karena perkembangan teknologi yang sudah maju.

“Nikel jika diolah dapat digunakan untuk bahan baku komponen mobil listrik, sehingga nilai ekspor dari biji nikel ini bertambah,” ujar Suharman, Jumat (7/2/2020).

Dampak yang terjadi jika biji nikel tidak diekspor lagi oleh industri pengolahan atau pertambangan, nilai ekspor atau jumlah ekspor akan menurun sebab biji nikel adalah salah satu komoditas penyumbang ekspor terbesar di Sultra.

Sesuai data BPS, jumlah ekspor Sultra Desember 2019 mengalami kenaikkan sebesar 56,01 persen dibanding ekspor November 2019, kelompok komoditas biji, kerak, dan abu logam berada di urutan kedua dengan nilai US$77,96 juta.

Fortune

“Akan terjadi penurunan nilai ekspor, tapi ini dihentikan agar Sultra mengekspor biji nikel dengan nilai yang lebih tinggi,” ucap Suharman.

Pertimbangan lainnya juga, pembangunan smelter nikel yang pesat beberapa tahun belakangan ini membutuhkan pasokan nikel cukup tinggi dari dalam negeri.

Dilansir dari CNBC Indonesia, Dirjen Minerba Kementerian ESDM Bambang Gatot, mengatakan smelter jumlahnya 25 unit yang sedang dalam proses pembangunan sehingga bila ini tuntas-RI mempunyai 36 smelter nikel.

“Karena smelter nikel sudah banyak, pemerintah ingin mempercepat dan bergerak mengambil inisiatif menghentikan ekspor nikel untuk segala kadar kualitas,” tambah Bambang.

Laporan: Wa Rifin
Editor: Sarini Ido

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.