Sultrakini Institute Gelar Pelatihan Jurnalistik Kehumasan dan Desain Grafis

SULTRAKINI.COM: KENDARI – Sultrakini Institute menggelar pelatihan jurnalistik & kehumasan serta pelatihan desain grafis bagi kalangan umum di Kantor SultraKini.Com, Kota Kendari.

Pelatihan secara keseluruhan diikuti 12 peserta. Setiap peserta Kebanyakan mereka dari kalangan tenaga kehumasan dan mahasiswa yang berlangsung sejak 8 April sampai 28 Mei 2017. Peserta juga diberikan waktu magang selama sebulan di sebuah media. Tetapi peserta dari tenaga kehumasan akan mengaplikasikannya ke instansi masing-masing.

Direktur Program Sultrakini Institute, La Ode M. Nasir menekankan pentingnya membentuk kemampuan menulis yang bisa diserap dari teknik kerja jurnalistik.

“Karena ini pesertanya kebanyakan humas, maka kita harapkan mereka bisa membuat press release dengan baik dan bisa membantu meningkatkan citra positif di instansinya masing-masing,” katanya, Minggu (9/04/2017).

Menurut Nasir, peran humas secara umum dalam menyiarkan siaran pers belum maksimal begitu pula menjalankan kemitraan dengan media massa. Sehingga dirinya bersama sejumlah media di Sultra terlibat dalam pemberian materi pelatihan kepada peserta.

Kali ini media yang terlibat, seperti SultraKini.Com, Antarasultra.com, Mysultra.com, Berita Kota Online, Harian Rakyat Sultra, Antv, iNews TV, RRI Kendari, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sultra, Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Universitas Halu Oleo, Nahdlatul Ulama Sulawesi Tenggara (Unusra) dan Institut Agama Islam Kendari.

Kantor Bulog Raha

Terkait pokok materi, peserta akan dibimbing mengenal dasar-dasar jurnalistik, nilai berita, mengenal ragam konten media, hukum jurnalistik, manajemen media massa dan kehumasan.

“(kelas) Jurnalistik kehumasan itu dasar-dasar jurnalistik, bagaimana membuat konferensi pers,” ucap Nasir.

Pentingnya pelatihan juga dirasakan Kepala Kehumasan Pemerintah Kabupaten Konawe Utara, Rahman Sorau. Ia mengakui peran humas belum mampu menyebarkan siaran pers. Dikatakannya kendala utama yang dihadapi, yakni kurang dari segi kemampuan dan Sumber Daya Manusia.

“Humas dipandang tukang potretnya pemda. Sebagai penyambung lidah pemerintah itu kami belum maksimal. Bagamana komunikasi dengan wartawan kalau ilmu wartawannya kita tidak ada,” ungkapnya.

Untuk itu Rahman menargetkan pembuatan buletin di instansi setempat sebagai bagian evaluasi pelatihan tersebut pada 2018. Utamanya berperan mengklarifikasi informasi negatif di masyarakat. Pihaknya juga bakal membuat tanda pengenal khusus kehumasan dan wartawan dari media partner untuk meminimalisir wartawan gadungan.

“Harapannya peningkatan SDM, khususnya masalah pers dan kehumasan, kedua, lulusan institute sudah bisa meminimalisir wartawan abal-abal (gadungan),” jelasnya.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.