Iklan Clarion

Tahukah Anda? Ternyata PJR Pondidaha Ada Hubungannya dengan Hugua

SULTRAKINI.COM: KENDARI – Setiap orang yang melakukan perjalanan melalui jalan poros Kendari-Unaaha, pasti tidak asing dengan Penjual Jagung Rebus (PJR) di daerah Pondidaha Kabupaten Konawe. Pernah singgah mengunyah jagung manis, atau paling tidak sekadar membalas panggilan para gadis penjaja jagung yang berparas manis.

Namun tidak banyak yang tahu, ternyata cikal bakal lahirnya bisnis kuliner yang terkenal itu, ada hubungannya dengan Ir. Hugua, mantan Direktur Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Sintesa yang juga pernah menjabat Bupati Wakatobi dua periode. Bahkan boleh dibilang, Hugua lah pencetus lahirnya bisnis PJR di Pondidaha.

Tidak percaya? Mari kita kulik ke beberapa tahun silam, tepatnya antara tahun 2002 sampai 2003. Saat itu, Hugua belum menjadi bupati di Kepulauan Tukang Besi atau Wakatobi. Ia masih memimpin LSM Sintesa, membuat program-program padat karya untuk masyarakat akar rumput di Indonesia terutama Sulawesi Tenggara, dengan pendanaan dari luar negeri seperti Jepang dan Uni Eropa.

Ketika itu, Sintesa membuat program-program pengembangan pertanian khususnya Palawija di beberapa kabupaten, diantaranya di wilayah Buton dan Konawe. Didukung oleh Japan International Cooperation Agency (JICA) dalam bentuk JICA Partnership Program (JPP) atau Program Kemitraan JICA.

JICA sendiri bertujuan mendorong pelaksanaan berbagai proyek pembangunan pada tingkat masyarakat akar rumput di berbagai negara berkembang yang diprakarsai oleh berbagai mitra pembangunan Jepang (khususnya lembaga swadaya masyarakat atau LSM, pemerintah daerah, dan perguruan tinggi), yang memiliki teknologi dan pengalaman dalam pembangunan. Proyek JPP ditujukan untuk memberikan manfaat langsung kepada masyarakat di berbagai negara.

Nah, di Konawe kala itu, Sintesa yang dipimpin Hugua menjalankan program pengembangan pertanian (palawija), pembuatan gerabah dan briket, serta pengembangan usaha-usaha rakyat.

Ir. Hugua (dok/SULTRAKINI.COM)

“Sebenarnya banyak program-program kita saat itu yang kemudian ditiru oleh pemerintah. Salah satunya Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Nasional (JPKN) yang sekarang pemerintah bentuk BPJS kesehatan, ada juga program primary health care,” tutur Hugua saat bincang-bincang, Kamis (21/6/2018).

Progam pengembangan pertanian di Konawe, tidak hanya terpaku pada hasil pertaniannya. Tetapi lebih jauh pada produk olahan hasil pertanian maupun limbahnya. Diantaranya membuat gerabah dan briket, serta tungku hemat energi yang bahan bakarnya briket.

“Kemudian produk gerabah kolaps di semua daerah di Indonesia waktu itu, tersisa tungku hemat energi dan briket,” kenang Hugua.

Tungku dengan bahan bakar briket itu digunakan oleh salah satu petani Jagung di Konawe memasak jagung rebus untuk dijual. Selain karena hemat bahan bakar, briket yang digunakan merebus jagung awet dipakai memasak banyak dan lama.

Kemudian ide menjual jagung rebus itu berkembang sedikit demi sedikit. Banyak petani jagung kemudian menjual jagung rebusnya kepada pengendara yang lewat di jalan poros Kendari-Unaaha.

“Entah bagaimana kemudian cepat menjadi ramai seperti sekarang. Dulu itu hanya beberapa, sekarang saya sudah tidak tahu berapa jumlahnya, banyak sekali,” ucap Hugua.

Editor: Gugus Suryaman

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.