SULTRAKINI.COM: Kanker menjadi salah satu penyakit yang mematikan di Indonesia. Ada beragam akibat yang ditimbulkan oleh kanker, salah satunya nyeri.

Tahun 2020, Indonesia akan Bebas Nyeri karena Kanker
Ilustrasi (foto: google)

Dari berbagai gejala gangguan fisik yang dialami penderita kanker, nyeri adalah keluhan yang paling sering dan harus segera diatasi. Nyeri merupakan pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan berkaitan dengan adanya kerusakan jaringan yang aktual.

Selain itu, nyeri juga terkait dengan potensi terjadinya kerusakan jaringan, atau segala keadaan yang tergambarkan seperti adanya kerusakan jaringan. Jadi, rasa nyeri itu bersifat subjektif.

"Nyeri pada kanker itu sesuatu yang pasti terjadi, diakibatkan dari tumor yang semakin tumbuh dan menekan atau bisa juga dikarenakan efek dari kemoterapi yang dilakukan," ucap Prof. Dr. dr. H. Abdul Kadir, Ph.D,Sp.THT(K) KL,MARS , dalam sambutannya ketika membuka acara Simposium dan Workshop Mewujudkan Indonesia Bebas Nyeri Kanker 2020, di Auditorium, Rumah Sakit Kanker Dharmais, Jakarta, Kamis (2/11).

Dengan latar belakang penderitaan pasien kanker yang begitu berat dan ketakutan yang paling dirasakan, maka dibentuklah program Indonesia Bebas Nyeri Kanker 2020. Program yang akan segera diwujudkan tersebut, merupakan program yang diadakan untuk menanggulangi nyeri pada pasien secara tepat, cepat dan efisien yang dilakukan oleh seluruh pelayanan kesehatan.

Program ini juga akan berperan dalam penatalaksanaan nyeri kanker di rumah sakit dan tempat-tempat pelayanan kesehatan lainnya, maupun pasien dalam perawatan di rumah atau yang biasa disebut home care. Adapun tujuan dari diciptakannya program Indonesia Bebas Nyeri Kanker 2020 tersebut, yaitu untuk menghilangkan atau mengurangi dan mencegah nyeri kanker sehingga mengurangi penderitaan dan memperbaiki kualitas hidup pasien dan keluarganya.

"Di Rumah Sakit Kanker Dharmais akan mendahului program Indonesia Bebas Nyeri Kanker tersebut dengan mewujudkannya lebih awal, pada 2018," tambahnya.

Lebih lanjut, Prof Abdul Kadir  menuturkan program Indonesia Bebas Nyeri Kanker 2020 tidak hanya sekadar jadi wacana, untuk itu dibutuhkan kerjasama dari para dokter. Nantinya dokter-dokter akan segera membentuk tim yang solid, dan juga harus ada aksi nyata untuk capai program ini.

"Diharapkan mampu mencapai Indonesia bebas nyeri kanker pada 2018 dan mendapat predikat rumah sakit nasional kanker," ujarnya sambil menambahkan rumah sakit tersebut juga sudah menerima surat keputusan Menteri Kesehatan sebagai Pusat Kanker Nasional.


Sumber: Okezone.com

Tanggapan Anda?

Facebook Conversations