Tari Tebaho Sangia Warnai Penutupan HPS Ke 39 di Sultra

SULTRAKINI.COM: KENDARI – Penutupan peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS) ke 39 yang digelar di Eks MTQ Kendari dan Kabupaten Konawe Selatan (Konsel) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) resmi ditutup pada Selasa (5/11/2019), dengan penampilan Tari Tebawo Sangia.

Tari tebaho sangia merupakan salah satu tarian khas Suku Tolaki. Dulu, tarian ini pada umumnya ditampilkan pada upacara pemakaman raja. Namun saat ini, Tari Tebaho Sangia kerap ditampilkan saat ada event berskala besar. Salah satunya, misalnya saat penutupan festival yang kerap dihadiri beberapa tamu penting dari Jakarta dan daerah lain.

Tari Tebaho Sangia dilakoni oleh 24 penari muda mudi. Para penari mengenakan busana motif suka Tolaki. Laki-laki dalan tarian itu menggunakan ikat kepala. Dalam tarian berdurasi sekitar 5 sampai 10 menit ini, beberapa penari perempuan membawa kain putih. Sementara para penari perempuannya memegang daun sagu dan daun panda.

Tari yang dimainkan oleh beberapa pasangan muda mudi itu berhasil membuat terkesima para peserta penutupan HPS ke 39 yang dihadiri oleh Direktur Perbenihan Holtikultura Kementan Ir. Sukarman, Pj. Sekda Sultra La Ode Mustari, beberapa bupati serta peserta dari provinsi lain.

Beberapa gerakan dalam tari itu juga membuat para tamu tegang dan rasa takut. Pasalnya, wajah para penari didandang menyerupai arwah orang yang meninggal. Suara musik tradisional pun diiringi dengan suara seram dari para pemain musik.

Dalam salah satu gerakan tariannya, mereka memegang kain kawan serta ada salah satu penari naik di atas teman-temannya lalu berteriak.

Koordinator Tim Tari Delegasi Dinas Pariwisata Provinsi Sultra, Elsa Saputri Gamoro, mengaku Tari Tebawo Sangia kerap ditampilkan dalam dibeberapa ivent baik provinsi maupun luar negeri.

Ia katakan, Tari Tebawo Sangia merupakan salah satu tarian yang digunakan pada saat upacara pemakaman raja pada waktu dulu. Dalam penampilan tarian tersebut, makna dari wanita yang berteriak karena dia dimasuki oleh roh lain.

“Untuk masyarakat Suku Tolaki, misalnya ada raja yang meninggal diadakan upacara seperti itu. Ini Khusus untuk raja yang sudah mendapatkan tahta, terus diupacarakan dengan tarian seperti itu dan lulo sangia,” katanya saat ditemui usai pentas.

Elsa Saputri menuturkan, sanggar tari dibentuk sejak tahun 1991. Melalui sanggar binaan Dinas Pariwisata Sultra tersebut Tari Tebawo Sangia tidak hanya tampil di event lokal dan nasional, namun sudah pernah tampil di kegiatan internasional.

“Hampir tiap kegiatan kita tampil. Baru-baru ini tampil di Amerika dalam kegiatan hubungan diplomatik 70 tahun Amerika – Indonesia,” ucapnya.

Laporan: La Niati
Editor: Habiruddin Daeng

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.