Terus Merugi, Dewan Soroti PDAM Wakatobi

SULTRAKINI.COM: WAKATOBI – Setiap tahun Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Wakatobi terus mengalami kerugian. Pada tahun 2017 lalu PDAM Wakatobi mengalami kerugian sebesar Rp 1.826.919.003,40,- sementara pada tahun 2018 mengalami kerugian sebesar Rp 2.085.734.350,27.-

Kerugian yang terus mengalami peningkatan setiap tahun ini membuat sejumlah anggota DPRD Wakatobi mempertanyakan kinerja Direktur PDAM Wakatobi, Subardin Bau.

“Setiap tahun rugi terus. Coba bagaimana caranya agar mereka bisa mandiri. Paling tidak untuk operasional mereka bisa biayai sendiri,” kata ketua Fraksi Asri, La Moane Sabara saat rapat kerja bersama pemda tentang pertanggung jawaban APBD tahun 2018, Senin (8/7/2019).

Direktur PDAM Wakatobi, Subardin Bau, menjelaskan sejak PDAM Wakatobi didirikan pada tahun 2007 lalu, PDAM Wakatobi selalu mengalami kerugian.

“Dari dulu PDAM Wakatobi ini selalu sakit dan kurang sehat, tidak pernah sehat. Dan ini bukan saja Wakatobi tapi hampir seluruh daerah di Sultra. Yang sehat hanya Kolaka,” kata Subardin Bau saat dikonfirmasi diruang kerjanya, Selasa (9/7/2019).

Ia menjelaskan jika ingin PDAM sehat dan mandiri maka salah satu jalannya, harus menaikkan tarif pembayaran pelanggan, karena tarif yang digunakan saat ini masih menggunakan tarif pada tahun 2007 lalu.

“Tarif ini masih yang ditetapkan pada 13 tahun lalu sedangakan setiap tahun selalu inflasi, setiap tahun barang -barang selalu naik, harga BBM naik, onderdil mesin naik, bahkan sembako saja naik, tarif daftar listrik tapi tarif pelanggan PDAM kita tidak naik,” paparnya.

Tambahnya, saat ini ada empat jenis tarif, yaitu kelompok rendah Rp 1500 perkubik, kelompk sedang Rp 2500 perkubik, kelompok umum Rp 3500 perkubik, sedangkan untuk tarif khusus Rp 13 ribu perkubik.

Lanjutnya, tunggakan pelanggan juga menjadi salah satu faktor penyebab meruginya PDAM, dari sekitar 7 ribuan pelanggan, yang membayar hanya sekitar 60 hingga 70 persen saja.

Operasional PDAM Wakatobi perbulan sekitar Rp 300 juta, sementara penghasilannya hanya dibawa Rp 200 juta.

Laporan: Amran Mustar Ode
Editor: Habiruddin Daeng

beras pokea

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.