Tiga Ahli Perikanan FPIK UHO Bantu Atasi Kematian Ikan di Soropia

SULTRAKINI.COM: Tiga ahli budidaya perairan dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Halu Oleo (UHO) membantu menyelesaikan permasalahan rendahnya produksi budidaya ikan yang dialami nelayan Desa Leppe, Kecamatan Soropia, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara.

Mereka adalah Dr Muhammad Ramli, M.Si ahli manajemen sumberdaya perairan, Indriyani Nur S.Pi, M.Si, Ph.D ahli manajemn kesehatan ikan atau penyakit ikan, serta Dr. Ir. Yusnaini, D.E.A ahli sistem budidaya ikan pada karamba apung dan karamba tancap.

Ketiga ahli tersebut membantu nelayan melalui program kemitraan masyarakat internal perguruan tinggi (PKMIPT).

Mereka memilih lokasi Desa Leppe karena budidaya ikan laut berkembang di lokasi tersebut, umumnya dengan sistem karamba tancap dengan membudidayakan ikan kuwe, ikan beronang, ikan kerapu, dan lobster.

Namun nelayan setempat, mengalami permasalahan beberapa tahun terakhir ini produksi mereka rendah karena munculnya penyakit pada ikan yang dibudidayakan.

Menurut Dr Ramli, berdasarkan identifikasi permasalahan pada lokasi budidaya, terdapat beberapa faktor yang diduga sebagai penyebab munculnya penyakit, yaitu pengelolaan lingkungan dan pengetahuan teknis pengendalian penyakit ikan yang masih terbatas.

Untuk itu melalui tim ahli, mereka mengganggap perlu dilakukan bimbingan teknis tentang pengelolaan lingkungan budidaya, dan peningkatan pengetahuan gejala penyakit serta pengendaliannya dengan melakukan penyuluhan, pelatihan dan demonstrasi pengendalian penyakit ikan.

Pelatihan dan bimbingan teknis tersebut mendapat respon yang baik. Berbagai unsur masyarakat seperti nelayan, tokoh masyarakat, pemuda, aparat desa dan ibu rumah tangga cukup antusias menghadiri kegiatan.

Materi disampaikan dalam bentuk penyuluhan, pelatihan, diwujudkan dalam bentuk pengobatan dan pencegahan penyakit pada kegitan budidaya ikan dan lobster.

Penyampaian materi diselingi dengan kegiatan aktif dalam diskusi serta praktik langsung yang dilakukan oleh peserta seperti pengenalan konstruksi dan model kantong jaring karamba serta teknik pemberian obat pada ikan.

“Peserta dengan mudah mengikuti kegiatan pelatihan, mereka sangat antusias dan aktif pada mengikuti kegiatan setiap segmen materi,” jelas Ramli dalam siaran pers yang dikirimkan kepada SultraKini.com, Selasa (11 Desember 2018).

Diakui, keterbatasan pengetahuan menjadi salah satu kegagalan yang umum terjadi dalam proses budidaya ikan. Beberapa di antara peserta pelatihan kurang atau belum pernah mengikuti kegiatan serupa sehingga kurangnya pengetahuan dan informasi menyebabkan timbulnya berbagai masalah yang dihadapi selama kegiatan budidaya yang dilakukan.

Mereka mendapatkan pengetahuan tersebut dari belajar dengan sesama pembudidaya ikan yang lain atau pengetahuan turun temurun. Pengetahuan budidaya yang rendah ditunjukkan dengan tingkat kematian ikan masih tinggi, pengelolaan lingkungan yang kurang maksimal.

Dari hasil diskusi dengan mitra kelompok usaha budidaya ikan laut, disepakati bersama bahwa yang menjadi permasalahan utama dalam usaha mereka adalah, antara lain adalah lambatnya pertumbuhan ikan, hama dan timbulnya penyakit ikan, serta kematian ikan bahkan hingga kematian dengan populasi besar.

Sumber: Press release FPIK UHO

beras pokea

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.