Pilkada koltim

Tiga Warga Butur Pilih Mundur dari Kepesertaan PKH

SULTRAKINI.COM: BUTON UTARA – Tiga orang warga Desa Koepisino, Kecamatan Bonegunu, Kabupaten Buton Utara (Butur), Sulawesi Tenggara memilih mundur dari Program Keluarga Harapan (PKH) dengan alasan tidak layak mendapatkan program tersebut.

Kepala Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial Butur, Alman, mengatakan tiga orang warga Desa Koepisino ini adalah Suriana, Wa Ode.Murniati, dan Endang wani Satri. Mereka merupakan aparat desa dan merasa mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari, sedang program tersebut untuk masyarakat kurang mampu.

“Mereka inisiatif sendiri dari Desa Koepisino ke sini Kantor Dinas Sosial Butur hanya untuk memundurkan diri kepersertaan program PKH dikarenakan mereka sebagai aparat desa dan merasa sudah mampu,” kata Alman, Jumat (26/6/2020).

Pihak Dinas Sosial Kabupaten Butur mengapresiasi sikap dari warga tersebut.

“Dan di tempat lain sebelum kita melakukan pelabelan juga ada di Kelurahan Lemo dia sendiri juga datang sukarela untuk memundurkan diri dari program ini,” sambungnya.

Alman menambahkan, terdapat dua graduasi terkait penerima bantuan, yakni graduasi sejahtera adalah graduasi yang dilihat dari perkembangan sosial ekonomi keluarga penerima manfaat dan graduasi sejahtera mandiri adalah graduasi sejahtera mandiri yang mengundurkan diri secara sukarela.

Pilkada

Dinsos melakukan upaya persuasif dan ekukatif kepada KPM untuk berbesar hari memberikan kesempatan kepada warga kurang mampu lainnya menerima program tersebut.

“Kita harapkan mereka memberi kepada yang lebih layak karena kita akan mengusulkan ke kementerian, usulan mereka ini yang mengakomodir yang sangat layak untuk menerima, kecuali ada kuota kosong,” ucapnya.

Pihaknya mengaku, informasi dari Kementerian Sosial targetnya sebanyak 10 persen PKM tergraduasi tahun ini. Di Butur sendiri terdata 3.670 keluarga masuk KPM PKH.

Dinsos Butur juga melakukan empat kali pemutakhiran data melalui aplikaksi Siks-NG kepada Kemensos untuk memastikan program tersebut tepat sasaran.

“Data ini kan dinamis, bisa jadi hari ini orang sejahtera, mungkin besok atau mungkin hari ini hidup, besok meninggal, sehingga kita mutakhirkan terus,” terangnya. (C)

Laporan: Ardian Saban
Editor: Sarini Ido

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.