Tradisi Lisan: Kisah Hubungan Sedarah Kolo-Imba dari Wesalo

CITIZEN JOURNALISM

yamaha

SULTRAKINI.COM: KOLTIM – Di Desa Wesalo Kecamatan Lalolae Kabupaten Kolaka Timur, terdapat sungai Koloimba. Tempat itu masih dianggap sakral oleh sebagian masyarakat, karena dipercaya bisa menjadi media untuk menyampaikan pesan dan harapan kepada alam gaib.Berdasarkan tradisi lisan yang dituturkan turun-temurun warga setempat, konon, seorang wanita melahirkan seekor buaya di sungai itu atas hubungan seks antara saudara kandung. Ditengah kehidupan modernisasi yang melanda seantero jagat raya, masih ada kisah kuno yang dianggap oleh sebagian masyarakat sebagai warisan budaya. Mereka tetap mensakralkan cerita para leluhurnya dan mengaplikasikannya pada hari-hari tertentu.Sebelum agama tersebar di Desa Wesalo, Kecamatan Lalolae, warga setempat masih percaya dengan tempat-tempat tertentu yang dianggap sakral. Dimana, saat itu mereka masih menggunakan sesajen sebagai media untuk berkomunikasi dengan hal-hal yang dipercaya bisa mengabulkan permohonan. Melakukan ritual untuk menyampaikan pesan atau harapan kepada alam ghaib. Sebuah tradisi lisan yang disebut \”Mesosangia Mosehe Wonua\” yang berarti meminta pada sang pemilik kampung, kini masih dipercaya sebagian warga setempat.\”Warga Wesalo hingga kini percaya bila pada zaman dahulu kala, pria bernama Kolo melakukan hubungan layaknya suami istri kepada sang adik, Imba,\” ungkap seorang tokoh masyarakat yang minta dirahasiakan namanya. Dia bercerita, kala itu, dua anak manusia yang berasal dari darah yang sama tinggal di sebuah desa yang kini disebut Kecamatan Lalolae. Imba memang kembang desa karena tak ada seorang wanita yang mengalahkan kecantikannya. Olehnya itu, Kolo berikrar akan menikahi seorang wanita dengan syarat memiliki kecantikan wajah yang melebihi adiknya.

Sayangnya, Kolo tak menemukan lawan jenis dengan paras yang menyerupai sang adik. Akhirnya, Kolo memutuskan untuk hijrah di daerah lain dengan mimpi mencari wanita yang menyerupai wajah sang adik untuk dipersunting. Selama beberapa tahun mencari wanita yang didambakannya, Kolo pun kembali ke kampung halamanya tanpa pendamping. Sebab dirinya tidak juga menemukan wanita secantik adiknya.Adik Kolo bekerja sebagai pengrajin anyaman. Berbagai jenis anyaman mampu dibuatnya dengan tangan yang cekatan. Suatu hari, adik Kolo kehabisan bahan mentah untuk membuat anyaman tikar atau semacamnya.
Imba pun memutuskan untuk mencari daun \”Tio-tio\” sebutan warga lokal yang dipakai sebagai bahan anyaman. Menyusuri hutan, ia ditemani oleh sang kakak. Ditengah perjalanan, Kolo mulai memperhatikan sang adik. Terus melihat ujung rambut hingga ujung kaki adiknya. Kolo pun tak kuasa menahan libidonya, akal dan fikiran sehatnya dikuasai oleh nafsu. Kolo tak bisa mengontrol perintah iblis yang memintanya untuk melampiaskan nafsu birahinya kepada sang adik tercinta. Imba pun digagahi oleh saudara kandungnya sendiri. Beberapa bulan setelah kejadian itu, Imba pun mengandung anak dari hubungan terlarang itu. Warga setempat lantas mengetahui kelakukan mereka karena perut Imba membesar. Warga pun memutuskan untuk mengasingkan mereka di sebuah bukit. Suatu hari, Imba mendadak meraskan perih di perutnya. Ia harus menahan rasa sakit tersebut selama tujuh hari dan tujuh malam. Memasuki hari ke delapan, dimana mentari pagi mulai bersinar tiba-tiba darah merah bersama seekor buaya berwarna kebiru-biruan keluar dari rahim Imba. Saat itu Imba tak kuasa menahan rasa sakit hingga akhirnya meregang nyawa. Ia pun menghembuskan nafas terakhir setelah melahirkan seekor buaya. Tiba-tiba langit bergemuruh, angin berhembus kencang, dan hujan turun dengan deras. Darah Imba yang bercucuran dari atas bukit mengalir bersama air hujan. Menyatu hingga menghasilkan warna kehitam-hitaman. Akibat derasnya hujan, membuat tempat tinggal Imba terendam banjir. Buaya yang dilahirkan Imba berenang dan berubah warna menjadi kuning keemasan yang disebut Ombu Iwoi Sorume. Sedangkan Kolo terapung selama tujuh hari tujuh malam. Kakak Imba pun menghembuskan nafas terakhirnya. Peristiwa itu diketahui seorang dukun melalui mimpinya. Kini lokasi Imba dan Kolo diasingkan, mengeluarkan mata air dan disekitarnya menjadi rawa yang sangat luas. Bahkan, anak dari pasangan Imba dan Kolo diberi nama Koloimba yang berarti tempat persetubuhan antara Kolo dan Imba.Medio 1950 silam, Ketua Swapraja Mekongga menggelar acara Monahu Ndau dan Mosehe Wonua di Kecamatan Lalolae karena mendengar cerita dukun yang bermimpi tentang kejadian yang menimpa Kolo dan Imba. Mereka melangsungkan acara tersebut di pinggir jembatan sungai Koloimba. Mereka menyembelih seekor kerbau putih, dimana darah hewan kurban tersebut mengalir ke sungai Koloimba.Kini sungai tersebut masih dianggap tempat yang sakral. Bahkan sebagian masyarakat masih melakukan ritual untuk memohon dan menyampaikan pesan kepada alam gaib.(Catatan: Cerita ini dihimpun dari berbagai sumber yang minta namanya dirahasiakan)CitizenS: Dekri
Redaksi SULTRAKINI.COM menerima kiriman artikel citizen journalism (jurnalisme warga), barupa info, berita, maupun foto seputar wilayah Sulawesi Tenggara. Pembaca dapat mengirimkan artikel/foto melalui email: [email protected] atau [email protected] Kontributor artikel/foto kami menyebutnya CitizenS (jurnalisme pembaca SULTRAKINI)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.