Iklan Clarion

Tukang Foto Yang Tak Punya Kamera

Ini murid saya tak percaya kalau saya bisa motret dengan skill yang tak kalah dengan fotografer ternama dan karyanya banyak dipajang di media.Tak enak hanya bicara soal teknik fotografi di depan kantin sekolah beberapa pekan lalu sembari menikmati sebatang rokok dua tiga empat,akhirnya saya meminjam kamera digital single lens reflex (DSLR) yang sengaja dia bawa ke sekolah. Tak perlu lama untuk memastikan settingan diafragma dan kecepatan bukaan lensa kamera nikon itu sudah tepat.Saya lalu mengarahkan empat orang murid saya untuk saya potret dengan teknik levitasi, menangkap kesan melayang di atas tanah.Hasilnya seperti ini.

Seni fotografi itu sebenarnya saya sudah lama saya ditinggalkan karena saya tak lagi bisa membeli kamera dslr yang sesuai standar.Kamera nikon terakhir yang saya miliki lima tahun lalu entah bagaimana nasibnya.Tapi saya yakin sudah jadi bangkai setelah berpindah tangan ke teman yang baru belajar motret dan saat itu dia baru saja jadi jurnalis lokal.Sejak itu saya tak lagi bernafsu jika melihat obyek yang menarik jika direkam dengan foto digital.Paling banter saya pakai kamera bawaan vivo7 untuk mendokumentasikan sesuatu yang sangat penting.Dengan cara ini saya anggap lebih efisien dan tidak berat dibawa kemana-mana.

Saya masih ingat semasa kuliah di Fakultas Bahasa dan Seni (FPBS)IKIP Ujungpandang, dengan dua jurusan yang saya pilih, bahasa dan sastra Indonesia dan minor seni rupa.Dengan jurusan ini menuntut banyak referensi gambar yang apik dipandang mata, gunanya sangat banyak jika saya kehabisan ide untuk melukis atau membuat tugas-tugas matakuliah ilustrasi dan disain komunikasi visual.Jadi kegiatan mengumpulkan gambar,kliping bahkan membeli dengan cara ngutang penjual majalah dan surat kabar di depan ruko permatasari di depan kampus IAIN Alaudin harus saya lakukan untuk mendapatkan pengetahuan terkait dengan jurusan yang saya tekuni saat itu.Saya beruntung berkawan dengan salah satu fotografer yang biasa digunakan keahliannya oleh maskapai penerbangan, dan perusahaan raksasa bergerak di sektor pertambangan dan migas.

Dari kawan itulah saya belajar fotografi sambil mencobanya dengan kameranya yang harganya tak mampu saya beli pada masa itu.Kamera manual dengan roll film hanya 36 kali jepret saja.Memotret di zaman itu, saya serba hati-hati untuk pengambilan gambar karena terbatasnya roll film yang harganya juga mahal jika dibeli satu biji saja.Untuk kegiatan hunting foto saya selalu ikut serta dengan tugas jadi tukang bawa tas berisi kamera dan peralatan pendukungnya, termasuk tripod harus dibawa serta untuk kegiatan itu.Lokasi hunting biasanya di pelabuhan jembatan besi (jambas) kawasan jalan nusantara dan paotere.Selebihnya Toraja menjadi lokasi yang paling eksotik jika saya dan kawan saya berburu obyek foto untuk jadi koleksi atau pesanan dari perusahaan yang jadi mitranya. Hampir setiap bulan september kegiatan hunting kami lakukan untuk keperluan foto untuk kalender perusahaan atau perbankan.Saya tak berharap diberikan upah karena ikut jadi tukang bawa tas kamera, diikutkan saja saya sudah bersyukur meski tak diupah, bagi saya bisa belajar dengan fotografer profesional itu jauh lebih penting.

Watuliandu,25/10/2018

Oleh : Ridwan Demmatadju

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.