Tur Cagar Budaya: Inilah Sejarah Raja Sao Sao

SULTRAKINI.COM: KENDARI – Tur siswa SD di Cagar Budaya Kendari, salah satunya di Makam Raja Sao Sao. Para siswa riang menikmati perjalanan, dipandu Sudarso sebagai guide yang memberikan penjelasan mengenai cagar budaya yang dikunjungi.Seorang siswa SDN 8 Kendari, Nur Saqilah mengaku sangat senang terhadap kunjungan perdana ke cagar budaya Kendari ini. \”Senang, cagar budaya yang saya tahu hanya meriam (mortir). Itu pusat pengintaian Jepang,\” katanya, setelah diberi penjelasan dari pemandu tur.Makam Raja Sao Sao terletak di Jalan D.I Panjaitan Kelurahan Lepolepo Kecamatan Baruga, Kendari. Situs ini menyimpan sejarah tentang masa pemerintahan raja kesembilan abad XVIII, tahun 1876 sampai 1928 di Kerajaan Laiwoei Sulawesi Tenggara.Raja Tolaki terakhir itu lahir di Kendari, tanggal 18 Mei 1852. Raja Sao Sao dilantik di Unaaha pada 18 Mei 1876, dan baru diakui sebagai Raja Laiwoei dalam perjanjian Long Contrack pada 15 Mei 1880 yang ditandatangani oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Jenderal Een Landsh Grooten dan Raja Sao sao Van Laiwoi pada 14 November 1880.\”Pusat Kerajaan Laiwoei berada di Ranomeeto,\” kata seorang cucu Raja Sao sao, Andi Ani Baso di lokasi pemakaman raja tersebut.Selain diberi gelar Sangia Laiwoi, Raja Sao Sao juga memiliki enam istri selama hidupnya.Dalam kepemimpinannya, dia dikenal sebagai tokoh yang mempersatukan kerajaan-kerajaan dan menerima kedatangan suku lain di Kendari Dua, sebutan lama bagi Kecamatan Baruga.Makam Raja Sao Sao bin Lamangu tersebut, memiliki panjang 330 sentimeter dan lebar 150 sentimeter. Di bagian belakang papan nama makam, terdapat penutup transparan berbentuk persegi diantara tegel lantai yang memperlihatkan tanah makam, untuk membuktikan keaslian cagar budaya tersebut. Ada pintu pagar besi dengan motif Kalosara pada bagian tengah pagar yang dikelilingi tembok.Ketika wafat, Raja Sao Sao kemudian digantikan oleh Raja Tekaka tahun 1928 sampai 1955. Sedangkan makam raja ini, berada di TPU Punggolaka, Kota Kendari.(B)Editor: Gugus Suryaman

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.