Ulama Pewaris Nabi, bukan Stempel Penguasa

Tahun politik kini mulai bergejolak karena akan adanya pergantian presiden di tahun depan. Dua pasangan calon presidenpun mulai mencari suara dan dukungan. Potensi suara umat muslimpun kini mulai diperhitungkan, menginggat negeri ini mayoritas muslim. Suara mereka tidak bisa dibeli dengan janji-janji manis. Sehingga tak heran jika para calon penguasa mulai mendekati umat muslim khususnya para ulama dengan berbagai cara.  Mulai dengan cara mengandeng ulama sebagai wakil mereka dan meminta usulan ijtima ulama untuk mencalonkan beberapa nama sebagai wakil mereka.  Dan tak sedikit dari para ulama yang ikut mensukseskan dan mendukung agenda  politik tahun ini.

Sebagaimana yang dihasilkan pada sidang ijtima ulama II yang menyatakan secara resmi dukungannya kepada pasangan bakal calon presiden dan wakil presiden Prabowo-Sandi (republika.co.id, Jakarta, 16/9/2018).

Begitupun di tempat lain Arifin Junaidi, Sekjen Majelis Silaturahmi Kiai dan Pengurus Pondok Pesantren Indonesia (MSKP 3I) menyatakan mereka sepakat memilih Jokowi-Ma’ruf karena ingin Indonesia dipimpin oleh ulama (AntaraNews, Jakarta, 15/9/2018).

Hal senada pun dinyatakan oleh Kiai Anwar Iskandar selaku pengurus Ponpes Al Amin, Kediri, Jawa Timur, pihaknya telah menyepakati memilih Jokowi-Ma’ruf yang didapat dari ijtihad yang mendalam.

Sejatinya tidak ada masalah dengan dukungan ulama kepada para calon penguasa karena ulamapun tidak bisa dipisahkan oleh para penguasa. Pada hakikatnya ulama dan penguasa merupakan satu kesatuan yang sama-sama bertangung jawab terhadap terealisasinya syariah  Allah SWT di muka bumi ini. Namun tidak demikian dengan kondisi saat ini, umatpun menyaksikan sebagian besar ulama lebih memilih diam, bahkan tak sedikit dari kalangan ulama yang menjadi alat legitimasi kepentingan penguasa terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah yang mendzalimi rakyatnya bahkan melanggar aturan Allah SWT.

Tak sedikit juga dari kalangan ulama hari ini yang mengadaikan agamanya untuk kepentingan dunia semata, bahkan hanya untuk meraup kekuasaan. Padahal cinta dunia adalah pangkal dari semua keburukan. Sebagaimana Al-Imam al Hafizh al Munawi mengatakan  “Cinta dunia adalah pangkal keburukan. Cinta dunia akan menjatuhkan ke dalam ragam syubhat, lalu ke dalam ragam kemakruhan, kemudian ke dalam ragam keharaman.”.

Bahkan Imam al Ghazali pun menegaskan “Rusaknya rakyat disebabkan karena  rusaknya penguasa. Rusaknya penguasa disebabkan karena rusaknya ulama. Rusaknya ulama disebabkan karena dikuasai cinta harta dan ketenaran.”.

Ulama seharusnya menjadi gandan terdepan untuk menolak kebatilan dan mengoreksi penguasa yang lalai dari tangung jawabnya, bahkan penguasa-penguasa yang menyalah gunakan kekuasaannya. Ulama tidak boleh menjadi alat penguasa atau kelompok untuk membuat perpecahan di tengah-tengah kaum muslimin. Ulama harus menjadi penyatu umat untuk berjuang menegakkan syariah Allah dalam kehidupan ini. Ulama pun harus memperhatikan konstelasi politik internasional, dan konvensi internasional, dia juga harus memperhatikan kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh penguasa untuk rakyatnya. Hal ini dilakukan untuk mengawal kekuasaan agar berjalan sesuai aturan Allah SWT.

Ulama adalah pewaris Nabi dan pelita bagi manusia yang senantiasa menjaga kesucian Islam dan melindugi kepentingan umat muslim. Ulama juga mempunyai peranan penting dalam mencerdaskan manusia tentang politik Islam, ulama harus menyadarkan rakyatkan bahwa Islam tidak bisa dipisahkan dari kekuasaan (pemerintahan) seperti kondisi saat ini, agar umat mampu memahami problematika yang membelit mereka. Ulama juga merupakan petunjuk bagi manusia setelah Nabi untuk dapat menghantarkan manusia menuju jalan kebenaran. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW “Sesungguhnya ulama-ulama di bumi adalah seperti bintang-bintang di langit yang memberi petunjuk di dalam kegelapan bumi dan laut. Apabila dia terbenam, maka jalan akan tampak kabur.” (HR. Ahmad).

Ulamapun tidak pernah takut dengan apapun, termaksud dengan ancaman dan intimidasi yang dilakukan oleh musuh-musuh Islam, kecuali dengan azab dan murka Allah, karena dia mengetahui hakikat kehidupan yang sebenarnya. Sebagaimana firman Allah “Sesungguhya yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama.” (QS. Fathir : 28).

Oleh karena itu apabila ada ulama yang mendukung kebijakan-kebijakan penguasa yang melanggar aturan Islam dan bahkan lebih takut terhadap penguasa dzalim dari pada Allah atau lebih memilih kesenanggan dunia ketimbang kesenanggan akhirat maka bisa dikatakan dia belum mencapai derajat seorang ulama yang sesungguhnya, walaupun pada hakekatnya di dalam masyarakat dia mendapat gelar sebagai ulama. Wallahu a’lam Bish-shawab.

Oleh : Sitti Komariah, S. Pd. I (Komunitas Peduli Umat) Konda, Konawe Selatan

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.