SUARA

Urusan Pangan, Unilaki Gandeng Korem 143/HO dan Organisasi Internasional 4-H

SULTRAKINI.COM: Abad 21 adalah era modern yakni era kolaborasi. Guna mencapai percepatan kemajuan maka kolaborasi adalah pilihan utamanya. Atas dasar pemikiran itu maka Universitas Lakidende (Unilaki) Unaaha Sulawesi Tenggara kembali melakukan kolaborasi guna mencapai tujuan program smart village yang dicanangkan Rektor Prof. Dr. Ir. Laode Masihu Kamaluddin, M.Sc.,M.Eng.

Selasa (13 Maret 2017) pagi, Rektor Unilaki Prof Laode Masihu Kamaluddin kembali menandatangani memorandum of understanding atau MoU dengan Komandan Korem 143/Halu Oleo Kolonel Inf Andi Perdana Kahar, SH serta Vice President 4-H (Head, Heart, Hands, and Health) Indonesia Ooy Haerudin, SE, MM.

Ketiga lembaga tersebut sepakat berbagi peran untuk menunjang kebutuhan pangan nasional yang dimulai pada proyek green house dengan penanaman komoditi cabe, tomat, dan tanaman hortikultura lainnya. 

Pihak Korem 143/HO akan menyediakan lahan, Unilaki menyediakan teknologi dan tenaga lapangan dari kalangan akademik, serta 4-H Indonesia membantu dari sisi pembiayaan.

Rektor Unilaki, Prof Laode Masihu Kamaluddin menjelaskan alasan merangkul Korem 143/HO dalam kerja sama ini karena pihak TNI AD telah melakukan kerja sama dengan Kementerian Pertanian RI untuk membantu petani dalam meningkatkan produktivitasnya, hal ini sejalan dengan program Unilaku yang telah mempunyai 100 Ha lahan eksperimental. 

“Tidak ada bangsa yang kuat  dan mandiri kalau tidak bisa mengontrol pangannya sendiri,” kata Prof Laode Masihu Kamaluddin.

Dia pun menjelaskan bahwa Indonesia hanya tahun 1983 melakukan swasembada pangan, selebihnya adalah melakukan impor pangan. 

yamaha

Danrem 143/HO Kolonel Inf Andi Perdana Kahar, SH menjelaskan pangan menjadi kebutuhan dasar dunia yang penduduknya sudah mencapai 8 miliar. “Mereka semua membutuhkan pangan, sementara ketersediaan pangan sangat terbatas,” jelas Andi Perdana.

Guna mendukung program pemerintah tersebut, pihak Korem 143/HO pada tahun 2017 ini mempunyai target cetak sawah baru seluas 4.400 Ha untuk menambah sawah baru yang dicetak tahun 2016 seluas 6.000 Ha.

Pada bagian lain kuliah umum di hadapan civitas akademika Unilaki, Andi Perdana, menguraikan permasalahan pelaksanaan pertanian di Indonesia  antara lain adalah terbatasnya infrastruktur seperti jalan, irigasi, modal dan lemahnya sistem alih teknologi. Hal lain yang menjadi kendala adalah adanya tengkulak (sistem ijon) dan keterbatasan jumlah penyuluh pertanian lapangan (PPL).

Secara terpisah Vice Presiden 4-H Indonesia Ooy Haerudin menjelaskan pihaknya ikut mendorong program smart village yang dilakukan Unilaki karena telah melihat kenyataan di beberapa negara seperti Amerika Serikat, Taiwan, Jepang, Korea Selatan, Thailand dan beberapa negara di Eropa yang menerapkan sistem smart village cukup berhasil.

Kehadiran 4-H Indonesia akan ikut membantu pemasaran global produksi pertanian melalui aplikasi online, sehingga kebutuhan pangan negara-negara anggota organisasi internasional ini bisa saling melengkapi dengan muda. 

“Dengan demikian maka produksi pertanian Indonesia pun akan ikut mensuplai kebutuhan negara-negara luar, utamanya kebutuhan pangan 70 negara anggota 4-H,” jelas Ooy.

Sebelumnya 4-H Indonesia telah menandatangani kerja sama dengan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) guna mewujudkan smart village yang akan diterapkan di sejumlah daerah di Jawa Timur.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.