Usia Gua Liangkabori masih Misterius

SULTRAKINI.COM: MUNA – Arkeolog Balai Pelestarian Cagar Budaya Makassar, Drs. Laode Muhammad Aksa, mengaku hingga kini usia Gua prasejarah Liangkabori belum diketahui dan masih menunggu hasil uji laboratorium dari Australia dengan menggunakan teknologi laboratorium dan uji nuklir.

Namun untuk usia gambar pada dinding Gua Liangkabori yang mengisahkan peradaban sudah ada hasil. Usia gambarnya ada sejak 10 ribu tahun lalu atau lebih mudah dibandingkan dengan gambar di Gua prasejarah Leang-Leang di Maros, Makassar yang lebih tua 40 ribu tahun.

“Itu masih dalam perkiraan sementara berdasarkan penelitian usia gambar, tapi bisa saja sebelum ada gambar sudah ada yang tinggal lebih dulu dan bisa saja usia Liangkabori lebih tua, karena masih menunggu hasil uji ahli,” jelas Aksa di seminar budaya DPC Koalisi Pemuda Merah Putih (KPMP) Muna, Sabtu (21/10/2018).

Menurutnya, peradaban Gua Liangkabori juga banyak memiliki kemiripan dengan Gua prasejarah Zuojiang Huashan di Guangxi, China yang berdinding terjal dekat muara sehubungan cara menggambar.

“Saya lihat banyak kemiripan cara penggambarannya, tapi motivasinya saya belum tahu. Bahan dasar perwarnaannya beda di China merah, kalau di Liangkabori berwarna coklat (menggunakan tanah merah),” terangnya.

Banyak bukit yang harus kita telusuri ada jejak peninggalannya atau tidak, tapi yang baru temukan ada 38 gua prasejarah dulunya hanya 11 gua pada tahun 1980an yang ditemukan.

Dalam kawasan Liangkabori untuk sementara terdapat 38 situs gua prasejarah dengan jarak 100 kilometer persegi perlu untuk dijaga kelestariannya, karena banyak warisan budaya yang memang sangat menakjubkan tersimpan di dalamnya.

Ia berharap, semua pihak mulai dari tokoh adat, pemerintah setempat mau pun Balai Pelestarian Cagar Budaya harus melindungi Gua prasejarah Liangkabori dengan cara menetapkan status hukum yang tertuang dalam SK Bupati.

“Teman saya dosen di ITB yang meneliti tentang Muna setelah diuji lab, partikel yang ada dalam pewarnaan mengandung unsur yang membuat gambar cap tangan di Gua Pomisa dan gua Latuko tidak bisa luntur, contoh lainnya seperti gambar perahu di Gua Metanduno juga tidak bisa luntur,” ungkapnya.

Seminar budaya tersebut berlangsung hingga Minggu, 21 Oktober 2018 di Aula Galampano Kantolalo dengan tema mengungkap identitas budaya Muna yang tersosialisasi dalam kehidupan masyarakat sebagai fakta sejarah peradaban masa lalu, masa kini dan masa akan datang.

Kegiatan juga dihadiri sejumlah narasumber, di antaranya tokoh adat dan tokoh masyarakat dari 22 kecamatan, arkeolog, akademisi, ilmiah, tokoh masyarakat lokal yang tergabung dalam lembaga adat, wakil bupati Muna, SKPD, dan Kasat Intel Polres Muna.

Laporan: Arto Rasyid
Editor: Sarini ido

beras pokea

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.