Ustadz Pudo : Isra Miraj, Peristiwa yang Agung

SULTRAKINI.COM : KOLAKA – Isra’ M’iraj merupakan peristiwa yang sangat agung, dengan Inti dan hakekatnya adalah peritiwa Nabi menerima perintah ibadah Shalat untuk disampaikan kepada umat manusia.

 

Pesan tersebut disampaikan Ustadz Syaifuddin Mustaming, saat memberikan tausiyah hikmah pada acara peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW yang digelar Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) Kolaka bekerjasama dengan Pengurus Masjid Nurul Yaqin Laloeha Kecamatan Kolaka, Minggu, (15/05/2015).

yamaha

 

\”Peristiwa Isra’ Mi’raj, telah Allah SWT abadikan melalui Firman-Nya, pada surah Al Isra ayat 1. \’Maha Suci ALLAH SWT yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad SAW) pada suatu malam, dari Masjid al Haram ke Masjid Al_Aqsha yang telah Diberkahi sekelilingnya, untuk membuktikan sebagian dari tanda-tanda Kekuasaan Kami, Sesungguhnya ALLAH SWT Maha Mengetahui lagi Maha Melihat,\” ulas Kepala Seksi (Kasi) Penerangan Agama Islam (Penais), Zakat dan Wakaf Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Kolaka ini, mengutip Al-Quran.

Pada ayat tersebut, sambung Ustadz Pudo, sapaan akrab Syaifuddin, Allah SWT menunjukkan Kemahakuasaan-Nnya dengan memperjalankan hamba-Nya, Nabi Muhammad SAW meliputi lahir dan batinnya. Hal ini sekaligus sebagai penegasan Allah SWT terhadap pandangan atau pendapat yang mengasumsikan bahwa Rasulullah diperjalankan pada Isra’ Mi’raj itu hanya dengan rohnya saja, termasuk bagi yang tidak percaya dengan peristiwa ini.

“Kata ‘Abdihi yang dimaksud yakni Rasulullah SAW meliputi lahir dan batinnya. Artinya bahwa yang diperjalankan oleh Allah SWT adalah Nabi Muhammad SAW secara utuh jasad dan ruhnya,” terang Ustadz Pudo.

Mantan Ketua KNPI Kolaka ini, mengungkapkan, inti hikmah dari perjalanan Nabi SAW itu adalah untuk menerima perintah ibadah Shalat dari Allah SWT. Karena itu, hikmah yang paling utama adalah terkait ikhtiar hamba menyempurnakan ibadah shalatnya.

Dijelaskannya, sebelum menerima perintah ibadah Shalat saat bermi’raj, Nabi SAW melakukan Isra’ dari Masjid Al Haram di Makkah ke Masjid Al Aqsa di Palestina. Hal ini mengandung tuntutan sekaligus tuntunan untuk memakmurkan masjid.

 

“Selain itu, hal ini juga merupakan perjalanan Nabi dari suatu tempat ke tempat yang lain. Ini bermakna sebagai perjalanan Nabi menelusuri bumi. Hikmahnya buat kita adalah adanya tuntutan dan tuntunan untuk melakukan syiar serta menebar silaturrahim,” jelas Ustadz Pudo.

Setelah diIsra’kan, lanjut dia, sesaat sebelum di Mi’rajkan, Nabi SAW disucikan oleh Allah SWT. “Hal tersebut mengandung makna dan hikmah, bahwa setiap hamba patut mensucikan diri dan jiwanya untuk dapat sampai kepada ALLAH atau melakukan komunikasi kepada Allah SWT. Termasuk mensucikan dari berbagai penyakit batin,” terangnya.

Terkait peningkatan kualitas shalat sebagai hikmah yang tak kalah pentingnya dan paling utama dari Isra’ Mi’raj ini, ia menjelaskan hal pertama yang patut menjadi perhatian setiap hamba sebelum melaksanakan shalat adalah cara mensucikan diri. “Mulai dari istinja’, kesempurnaan wudlu hingga seluruh pakaian dan sarana yang digunakan saat Shalat, harus suci,” imbuhnya.

 

Selain itu, tambah ustadz Pudo, sebelum niat dan Takbiratul Ihram, maka upaya hamba untuk melakukan Muraqabah atau pendekatan dengan penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah SWT serta selalu meyakini dan merasa diawasi oleh Allah SWT, patut pula diwujudkan.

 

“Begitupun puncaknya saat Takbir, dengan meniadakan yang lain selain Allah,” pungkasnya.

Hadir dalam acara tersebut, para Alim Ulama, pengurus Muslimat NU Kolaka, pengurus Masjid Nurul Yaqin Laloeha, sejumlah tokoh masyarakat bersama ratusan jamaah. (ar/sm)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.