Iklan Clarion

Wa Ode Nurhayati Pimpin Hanura Sultra

SULTRAKINI.COM: KENDARI – Wa Ode Nurhayati terpilih sebagai Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) I Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), secara aklamasi dalam Musyawarah Daerah Luar Biasa (Musdalub) II di salah satu Hotel Kendari, Sabtu (5/1/2019).

Ketua Bidang Organisasi DPP Hanura, Benny Rhamdani, mengatakan Wa Ode Nurhayati merupakan calon tunggal yang mendapat rekomendasi dari DPP Hanura.

“Di internal partai kami calon itu, memiliki mekanisme yakni harus mendapatkan rekomendasi DPP. Jika calon yang direkomendasi lebih dari satu maka dilakukan pemilihan dan bagi yang mendapat suara terbanyak maka dia terpilih ketua. Tetapi jika rekomendasi hanya satu atau maka lansung ditetapkan secara aklamasi,” ungkapnya.

Menurut Benny, pertimbangan menunjuk Nurhayati, karena memiliki rekam jejak sebagai anggota DPR RI. Selain itu, ia juga dikenal sebagai sosok aktivis tulen dan juga sangat populer di kanca nasional.

Terlebih lagi, lanjut Benny, pada pemilu 2019 Nurhayati tidak mencalonkan diri sebagai anggota legislatif.

“Jadi kami berkeyakinan terpilihnya mantan anggota DPR RI itu, semata ingin bersunguh-sungguh membangun Hanura yang solid kuat dan membesarkan partai. Utamanya dalam upaya mewujudkan target pemenangan pemilu 2019 baik itu pileg maupun pilpres,” ucapnya.

Terkait Nurhayati perna menjalani pidana korupsi, dirinya menegaskan itu masa lalu.” Ia juga sudah menjalani masa tahanan sesuai ketentuan hukum,” katanya.

Wa Ode Nurhayati mengatakan, akan menjalankan tugasnya sebagai Ketua Hanura Sultra untuk memenangkan pasangan capres dan cawapres nomor urut 01 Jokowi-Ma’ruf pada pemilu 2019.

Untuk Pilcaleg, katanya, Hanura akan mendapat kursi lebih banyak dari periode sebelumnnya baik DPRD provinsi maupun di kabupaten/kota.

“Yah kita bisa mencapai target kemenangan 60 hingga 70 persen,” ujarnya

Untuk Diketahui, Wa Ode Nurhayati pernah divonis 6 tahun penjara akibat dua pelanggaran pidana. Ia terbukti menerima suap terkait pengalokasian DPID dan melakukan tindak pidana pencucian uang atas kepemilikan uang sebesar Rp 50,5 miliar dalam rekeningnya.

Laporan: La Ismeid
Editor: Habiruddin Daeng

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.