Warga di Moramo Utara Konsel Keluhkan Beras Bantuan Pangan Non-tunai Tidak Layak Konsumsi

SULTRAKINI.COM: KENDARI – Beras bantuan pangan non-tunai (BNPT) di Kecamatan Moramo Utara, Kabupaten Konawe Selatan (Konsel) yang diberikan melalui Agen Penyaluran Dinas Sosial setempat dianggap tidak layak konsumsi. Masyarakat Moramo Utara bahkan menganggap beras ini justru membawa sumber penyakit.

Beras BNPT dianggap warga Moramo Utara bukan untuk menyeimbangkan gizi, justru menjadi sumber penyakit jika dikonsumsi karena kondisinya tidak layak untuk dikonsumsi, hitam warnanya dan sudah hampir lapuk.

“Bagaimana beras begini ini, modelnya kuning-kuning, mending juga beras sembako (beras bantuan raskin), rasanya kalau dimasak pahit-pahit, kerasa-keras lain-lain,” ucap seorang keluarga penerima manfaat di moramo Utara yang enggan menyebutkan namanya, Senin (4/11/2019).

Dia mengakui, jika dari pemberian bantuan ini memang tepat waktu setiap bulannya. Hanya saja kualitas beras yang diberikan tidak sesuai dengan harapan penerima manfaat.

“Jangankan kita, kadang ayam saja tidak mau makan lantaran kondisinya begini, mau tidak mau dari pada kita buang terpaksa kita belikan beras lain untuk campurannya supaya tetap enak dimakan, kalau sudah dicampur dengan beras lain sudah tidak terasami (pahit) dimakan,” ucapnya.

Merujuk pada aturan umum pedoman penyaluran program bantuan pangan non-tunai tahun 2019, harus mengedepankan enam poin penting dalam penyaluran bantuan tersebut, yakni tepat sasaran, jumlah, waktu, harga, kualitas, dan tepat administrasi.

Pada poin kelima tepat kualitas, jika dibandingkan dengan fakta langsung di Moramo Utara, oleh penerima manfaat bantuan ini dinilai sangat berbanding terbalik bahkan jauh dari kata layak.

Bukan itu saja, sebagaimana yang tertera dalam pedoman umum tujuan penyaluran bantuan ini, poin kedua, yakni memberikan nilai gizi yang seimbang kepada penerima manfaat, itu juga jelas-jelas telah melanggar pedoman.

gemilang simpeda bank sultra

Salah seorang Agen Penyalur BNPT di Wilayah Moramo Utara, Desa Wawatu dan sekitarnya, Suriana, membenarkan beras yang disalurkan tidak layak konsumsi. Dan hal itu sudah berlangsung sejak dua bulan terakhir. Katanya, dia juga kerap menerima keluhan dari masyarakat penerima manfaat yang datang menukarkan saldonya.

“Memang banyak juga saya terima keluhan masyarakat, kadang mereka bilang banyak kutu-kutunya, hitam berasnya. Tapi betul memang karena waktu saya ukur itu banyak juga saya liat berkutu, apalagi kalau sudah dicuci itu muncul semua kutunya,” ungkapnya.

Namun Suriana mengaku hal itu bukan kesalahannya dikarenakan ia hanya menunggu dan menerima beras dari distributor, yakni Bulog. Bahkan keluhan itu sudah pernah ia sampaikan melalui Bulog dan pendamping program BNPT, tetapi oleh keduanya hanya diberi harapan akan diganti dengan kualitas yang bagus tapi di bulan kedua masih tetap sama kualitas berasnya.

“Pernah mereka bawah turun 10 karung sebagian saya tolak supaya diganti dengan beras yang layak, tapi Bulog dan pendampingnya malah bilang nanti tunggu bulan depan, tidak boleh diganti pake-pake dulu yang ada,” jelasnya.

Suriana juga mengaku sebagai agen penyalur, ada tiga desa yang biasa melakukan transaksi di tempatnya atau sekitar sekitar 150 penerima manfaat (KPM) per bulannya.

“Yang parah itu bulan ini banyak sekali masyarakat mengeluh karena sampai hitam dan berkutu,” tambahnya.

Dirinya berharap, distributor agar dalam penyaluran berikutnya beras yang diberikan kepada agen agar betul-betul punya kualitas baik atau layak dikonsumsi oleh masyarakat penerima manfaat.

Laporan: Hasrul Tamrin
Editor: Sarini Ido

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.