Curhat Guru Nurmin di Baubau: PJJ Tidak Maksimal, Rindu Belajar Tatap Muka

  • Bagikan
Siswa datang ke sekolah untuk ulangan semester di Kota Baubau, Sultra, Senin (30/11/2020). (Foto: Aisyah Welina/SULTRAKINI.COM)

SULTRAKINI.COM: BAUBAU – Nurmin adalah salah satu guru di MAN 1 Baubau. Sejak pembelajaran jarak jauh atau PJJ di masa pandemi Covid-19, tugasnya sebagai pengajar semakin tertantang.

Menjadi guru sejak 1999 tidak membuat Nurmin jauh dari kendala dan tantangan selama mengajar, terlebih suasananya PJJ. Aktivitas PJJ sejak Maret 2020, membuatnya prihatin dengan kemampuan siswa dalam penguasaan materi, serta pengembangan karakter siswa.

Menurutnya, terjadi sejumlah kendala selama PJJ secara daring. Artinya, partisipasi peserta didik tidak semulus mengajar pada umumnya. Tidak seratus persen aktif berpartisipasi.

“Banyak kendala sehingga peserta didik tidak bisa melaksanakan PJJ, misalnya tidak ada kuota internet, kurangnya signal di kampung, peserta didik merasa bosan belajar jarak jauh hingga peserta didik jarang menyelesaikan tugas,” jelas Nurmin, Senin (30/11/2020).

Kata guru Mata Pelajaran Bahasa Indonesia ini, kehadiran peserta didik khususnya di MAN aktif mengisi absen di E-learning hanya 90 persen dan keaktifan siswa atas pemberian tugas hanya 75 persen yang menyelesaikan tugas khususnya tugas darinya.

“Kalau pembelajaran akan terus seperti sekarang ini, kami sebagai guru rindu juga ingin mengajar, mendidik, dan memberikan arahan langsung, memantau langsung, memberikan nasehat-nasehat secara langsung untuk masa depan mereka,” ucapnya.

Baca:   Mayat di Bawah Jembatan Kuning Bungkutoko Kendari Divisum, Dokter Forensik: Korban …

Keprihatinanya dengan kondisi pendidikan di tengah pandemi, semakin disadari Nurmin berkaitan dengan perkembangan karakter para siswa. Selama PJJ, dirinya tidak begitu mengetahui jelas hal itu. Tentunya jika dibandingkan dengan bertatap muka.

“Sekarang saja kami tidak tahu bagaimana karakter siswa yang kami ajar sejak awal diberlakukanya PJJ, kami belum pernah bertemu atau bertatap muka dengan peserta didik sehingga kami tidak tahu bagaimana karakter mereka,” tambahnya.

Selama belajar secara daring, kata Nurmin, ia bersama guru-guru yhanya memberikan tugas tanpa pernah menyentuh dan membentuk akhlak siswa secara langsung, termasuk kedisiplinan dalam belajar. Sementara kedisiplinan waktu masuk belajar tidak lagi diterapkan. (C)

Laporan: Aisyah Welina
Editor: Sarini Ido

  • Bagikan