Dampak PPKM di Sultra Sektor Transportasi Minus 26 Persen

  • Bagikan
Kepala Kanwil DJPb Sultra, Arif Wibawa (tengah), Pengamat Ekonomi Sultra Dr. Syamsir Nur (kiri). (Foto: Wa Rifin/SULTRAKINI.COM)

SULTRAKINI.COM: KENDARI – Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan Provinsi Sulawesi Tenggara menyampaikan selama Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) ikut mempengaruhi penurunan pertumbuhan sektor pusat transportasi.

Menurunnya aktivitas masyarakat saat PPKM di Sultra berimbas pada turunnya pertumbuhan sektor pusat transportasi, yakni minus 26 persen dan tempat kerja minus 16 persen.

Kepala Kanwil DJPb Sultra, Arif Wibawa, mengatakan penurunan aktivitas pada pusat transportasi umum diperkirakan berdampak pada sektor transportasi dan pergudangan, penyediaan akomodasi, makan dan minum di daerah.

“Walaupun terjadi penurunan di dua sektor ini, namun penurunannya tidak akan terlalu mempergaruhi pertumbuhan ekonomi dikarenakan pangsa kedua sektor tersebut relatif kecil, dibandingkan sektor toko bahan makanan dan apotek yang tumbuh positif 36 persen,” terangnya, Selasa (21/9/2021).

Dalam rinciannya, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) Sultra QII-2021 senilai Rp 23,62 triliun tidak jauh berbeda dengan PDRB QII-2019. Hal ini terjadi karena pemerintah di masa pandemi Covid-19 mendorong sektor perdagangan hingga tumbuh 6,78 persen melalui pembiayaan KUR, UMi, BPUM, dan subsidi bunga.

Kemudian dari sisi konsumsi masyarakat juga tumbuh seiring dengan peningkatan daya beli masyarakat yang didorong dengan program PEN kluater perlindungan sosial senilai Rp 809,87 miliar. 

Baca:   Operasi Patuh Anoa Digelar di Sultra, Tiga Penindakan Ini Fokusnya

“Ekonomi QII-2021 ini sangat dipengaruhi meningkatnya ekspor menggantikan peran PK-RT sebagai kontributor terbesar 54,48 persen dengan sumbangan pertumbuhan sebesar 41,41 persen (pengeluaran). Sedangkan pengeluaran pemerintah tumbuh 9,34 persen dengan kontribusi 15,58 persen. Serta PK-P berkontribusi 1,29 persen pada pertumbuhan Sultra,” jelas Arif Wibawa.

ibu alimazi

Kemudahan ekspor berdasarkan kebijakan hilirisasi nikel juga mampu meningkatkan nilai ekspor Sultra. Tercatat ekspor Sultra semester 1 meningkat 122,28 persen dengan produk utama besi dan baja 99,07 persen.

Sedangkan impor Sultra semester 1 tumbuh 14,19 persen dan produk impor utama besi dan baja 36,39 persen serta terjadi surplus perdagangan US$1.006,13.

Sementara itu, Pengamat Ekonomi Sultra Dr. Syamsir Nur, mengaku jika pemerintah terus memperpanjag PPKM di daerah, kondisi ekonomi akan tetap terkontraksi karena dinamika aktivitas pelaku ekonomi mewarnai denyut dani perekonomian di daerah.

“Jika tidak ada aktivitas masyarakat, tentunya di beberapa sektor yang mendorong pertumbuhan ekonomi tidak akan bergerak, apalagi kalau sektor-sektor itu yang sangat tergantung pada kegiatan-kegiatan masyarakat yang berada di perkotaan dan satu-satunya sektor yang kita harapkan, yaitu sektor pertanian dan lain-lain dan itupun kalau ada pembatasan tetap akan terjadi kontraksi,” terangnya.

Hingga saat ini kondisi ketenagakerjaan di Sultra berdasarkan Tingkat Pengangguran Terbuka perkotaan sebesar 7,82 persen dan TPT perdesaan sebesar 2,29 persen.

Baca:   PAW Joni Syamsuddin di DPRD Sultra Dilantik

Berdasarkan tingkat pendidikan, penggangguran di Sultra didominasi oleh lulusan SMK, SMA, dan Diploma/Sarjana. Sedangkan daya serap tenaga kerja terbesar di sektor pertanian mencapai 35,91 persen sementata produktivitas mengalami penurunan akibat pandemi.

Selanjutnya kondisi kemiskinan di Sultra turun 0,03 persen dengan rincian kemiskinan perkotaam meningkat 4,5 persen dan kemiskinan perdesaan turun 5,59 persen. (B)

Laporan: Wa Rifin
Editor: Sarini Ido

  • Bagikan