Muna  

Dokter Kandungan RSUD Muna Ungkap Minimnya Fasilitas Operasi Melalui Medsos

SULTRAKINI.COM: MUNA-Seorang dokter spesialis kandungan di RSUD dr. H. L. M. Baharuddin, Muna, mengungkap kondisi fasilitas ruang operasi yang dinilai tidak memadai melalui unggahan di media sosial. Unggahan itu menjadi viral dan memicu perhatian publik.

Dalam unggahannya, dokter tersebut menyampaikan bahwa ruang operasi hanya memiliki dua set kain operasi steril padahal terdapat tiga pasien yang harus menjalani operasi sesar secara cito. Ia juga menyinggung jubah operasi serta kain penutup pasien yang disebut sering tidak tersedia ketika waktu operasi tiba.

Keluhan lain yang diungkap termasuk benang dan jarum operasi yang mudah putus, pendingin ruangan ruang operasi yang tidak berfungsi, terbatasnya sarung tangan medis, serta meja operasi yang hanya dilapisi underpad. Ia juga menyoroti keberadaan alat CT-Scan senilai sekitar Rp 15 miliar yang menurutnya tidak dimanfaatkan dan hanya disimpan di gudang.

Unggahan tersebut kemudian memicu reaksi dari manajemen rumah sakit. Direktur RSUD Muna, dr. Muhammad Marlin, memberikan klarifikasi bahwa alat-alat yang dipersoalkan sebenarnya tersedia namun terkendala proses sterilisasi dan koordinasi internal.

“Kita punya tujuh set jubah operasi. Namun jubah ini harus melalui proses sterilisasi selama 50–60 menit. Mungkin terjadi miskomunikasi dengan kepala ruangannya,” ujarnya.

Ia juga menyesalkan penyampaian keluhan tersebut langsung ke media sosial.

“Kalau ada keluhan, harusnya disampaikan ke kami. Tiba-tiba dia ekspos di medsos, ini yang kami sesalkan.”bebernya.

Terkait keluhan benang operasi yang disebut mudah putus, Marlin menjelaskan bahwa bahan tersebut selama ini digunakan oleh seluruh dokter bedah tanpa keluhan serupa.

“Benang yang sama dipakai seluruh dokter dan tidak pernah menimbulkan masalah.”ungkapnya.

Marlin menambahkan bahwa pihak rumah sakit telah berkoordinasi dengan pemerintah daerah mengenai tindak lanjut terhadap dokter yang mengunggah keluhan tersebut.

“Masalah sanksi kami sudah koordinasikan. Kalau begitu kita hentikan dulu izin prakteknya di Rumah Sakit.”ucapnya.

Selain itu, ia mengungkap bahwa bagian penanggung jawab perlengkapan ruang operasi telah dipanggil untuk evaluasi internal serta memastikan ketersediaan alat tidak terhambat oleh proses administrasi atau miskomunikasi.

Belakangan, tindakan dokter yang mengunggah keluhan fasilitas itu juga menuai sorotan dari sejumlah pihak, baik yang mendukung transparansi maupun yang meminta agar penyampaian kritik dilakukan melalui mekanisme internal terlebih dahulu.

Wakil Bupati Muna, La Ode Asrafil, memberikan pernyataan penyeimbang terkait isu ini. Dalam inspeksi langsung, ia menyampaikan bahwa ketersediaan perlengkapan operasi tidak seluruhnya sesuai klaim dalam unggahan viral tersebut.

“Ternyata masalahnya bukan karena kurang. Ada tujuh set, cukup. Hanya tidak ada konfirmasi dengan penjaga ruangannya.” ucap Asrafil

Ia juga memastikan pemerintah daerah akan melakukan evaluasi menyeluruh untuk memastikan pelayanan kesehatan di RSUD Muna berjalan sesuai standar.

 

Laporan: Riswan