Dosen Faperta UHO Meningkatkan Produktivitas Padi Gogo di Desa Aoma Konsel

  • Bagikan
Tim dosen Faperta UHO bersama petani padi gogo saat panen. Foto: Dok Faperta UHO.

SULTRAKINI.COM: Produktivitas padi gogo petani Desa Aoma, Kecamatan Wolasi, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara meningkat drastis dari semula rata-rata 1,6  ton perhektar menjadi lebih dari 3,3 ton perhektar.

Peningkatan produktivitas padi gogo tersebut berkat jasa pendampingan dari tim dosen Fakultas Pertanian Universitas Halu Oleo selama tiga tahun berturut-turut atas dukungan pendanaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi tahun anggaran 2021.

Dosen pendamping yang tergabung dalam Program Pengembangan Desa Mitra (PPDM) terdiri Hj. Rahayu M, M. Tufaila, M. Taufik dan Rachmawati Hasid.

Menurut Rahayu, tren peningkatan produktivitas padi gogo dari rata-rata 1,6  ton perhektar menjadi lebih dari 3,3 ton sesunggunya masih dapat ditingkatkan lagi, namun hasil ini telah  memacu petani mitra untuk menerapkan  teknik budidaya padi gogo secara good agricultural practices (GAP).

Sesuai yang  telah dipraktekkan petani atas bimbingan tim dosen Faperta UHO,   penerapan GAP padi gogo yang diikuti dengan budidaya komoditas lain menjadi penting karena disamping mendapatkan hasil dari padi gogo juga menambah penghasilan dari hasil tanaman lainnya.

Adapun komoditas yang ditanam selain padi gogo adalah cabai, tomat, kacang panjang, kangkung, pepaya, sawi, jagung dan lainnya. Model budidaya polikultur tetap dilanjutkan oleh petani mitra, meskipun kegiatan ini telah berakhir.

Baca:   Kemenlu Agendakan Tanda Tangani MoU dengan UHO Hari Ini

Hal ini disebabkan petani mitra telah merasakan manfaat keberadaan PPDM selama tiga tahun terakhir.

Atas keberhasilan itu, tim PPDM akan melakukan replikasi dan elaborasi kegiatan pada kelompok masyarakat lainnya. Hal lain, kendati pogram ini berakhir pada tahun 2021 namun petani mitra masih mengharapkan kepada tim PPDM untuk tetap mendampingi.

Untuk itu tim PPDM UHO telah  menjadikan Desa Aoma sebagai laboratorium lapangan mahasiswa Jurusan Proteksi Tanaman Faperta UHO untuk melakukan penelitian sebagai bahan penyusun tugas akhir.

Kegiatan 3 Tahun

Pada tahun I, tim pelaksana telah mendampingi petani mitra dalam membudidayakan padi gogo dan selanjutnya lahan bekas padi gogo diolah kembali untuk ditanami dengan tanaman lain seperti cabai, semangka, pepaya, kacang panjang dan kangkung. Respon petani mitra cukup baik terbukti dengan penuh antusias untu mengikuti dan melakukan penanaman komoditi lain di lahan bekas tanaman padi gogo meskipun merupakan hal baru bagi petani mitra. Tumpang gilir ini dimaksusdkan untuk mengefisienkan penggunaan lahan.

Pada tahun II,  petani mitra sudah melakukan pengolahan lahan, pembuatan bedengan, input bahan organik-pupuk kandang terfermentasi dan pemupukan NPK yang terukur. Selain itu petani mitra menggunakan mikroba dekomposer  dari koleksi agens hayati Jurusan Proteksi Tanaman Universitas Halu Oleo (UHO). Fungsi dari agens hayati tersebut dapat mereduksi patogen penyebab penyakit tanaman termasuk padi gogo, khususnya penyakit yang tertular melalui tanah dan juga dapat membantu akar tanaman padi gogo mendapatkan nutrisi.

Baca:   Mahasiswa Perikanan UHO Angkut Sampah Pantai Toronipa

Pada tahun III, penanaman padi gogo telah dilakukan pada bulan Januari 2021 dan dipanen pada bulan Juni 2021.

Selama program berjalan di tengah pandemik Covid-19, program pengabdian kepada masyarakat sebagai salah satu tugas pokok dosen tetap berjalan dengan mengikuti protokol kesehatan baik tim pelaksana maupun petani mitra.

Program Kementan

Padi gogo sendiri sejak tahun 2020 dikembangkan oleh Kementerian Pertanian sebab dinilai dapat memberikan dampak positif terhadap pemanfaatan lahan marjinal di Indonesia.

Bahkan Kementan melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) telah melepas varietas padi unggul Biobestari Agritan, merupakan padi gogo yang memiliki produktivitas dengan potensi hasil bisa mencapai 7,5 ton per hektar.

Selain produktivitas dan potensi hasil yang tinggi, varietas itu juga memiliki kelebihan ketahanan terhadap penyakit hawar daun bakteri (HDB), tahan penyakit blas, toleran terhadap keracunan alumunium serta toleran kekeringan.

Sulawesi Tenggara merupakan satu dari sekian provinsi yang masuk dalam daerah pengembangan padi gogo, selain Sumatera Selatan, Sumatera Barat, Sumatera Utara, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, NTB, NTT, Kalimantn Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Maluku dan Papua.

Editor: M Djufri Rachim

  • Bagikan