Ekonomi Sultra Terkontraksi, BPS Harap Program Vaksinasi Mendorong Aktifitas Masyarakat

  • Bagikan
Gedung BPS Sultra (Foto: Wa Rifin/SULTRAKINI.COM)
Gedung BPS Sultra (Foto: Wa Rifin/SULTRAKINI.COM)

SULTRAKINI.COM: KENDARI – Pukulan yang berat akibat pandemi Covid-19 membuat ekonomi di Provinsi Sulawesi Tenggara terkontraksi sangat dalam. Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS) Sultra pada triwulan I-2021 ekonomi Sultta minus sebesar 5,97 persen.

Sub Koordinator Fubgsi Neraca Produksi BPS Sultra, Abdul Murat Musyafir, menyampaikan pertumbuhan ekonomi di Sultra dengan adanya vaksinasi yang diprogramkan pemerintah diharapkan dapat meningkatkan kekebalan tubuh masyarakat terhadap Covid-19 sehingga dapat meningkatkan aktivitas masyarakat untuk bekerja diluar rumah, terutama ditempat-tempat aktivitas ekonomi. 

Ia mengatakan dilihat dari data realisasi belanja pemerintah sejak awal pandemi 2020 sampai triwulan I-2021, peningkatan realisasi belanja fungsi kesehatan dan perlindungan sosial selalu mendorong pertumbuhan ekonomi khususnya di kategori Jasa Kesehatan.

“Untuk pengaruh secara langsungnya adanya vaksin dapat mendorong pertumbuhan ekonomi tentu harus kita lihat lagi apakah program tersebut mempengaruhi besaran belanja pemerintah difungsi kesehatan atau hanya pengalihan belanja antar kegiatan dalam fungsi kesehatan. Jika betul menyebabkan peningkatan belanja fungsi kesehatan, maka tentu juga akan mendorong pertumbuhan ekonomi pada ketegori Jasa Kesehatan,” ungkap Abdul Murat Musyafir, Kamis (3/6/2021).

Lanjut Abdul Murat Musyafir, demikian juga pengaruhnya terhadap kategori lapangan usaha lainnya, vaksin dapat meningkatkan aktivitas masyarakat.

“Namun seberapa besar pengaruhnya terhadap pemulihan pertumbuhan ekonomi ini perlu dilakukan penelitian lebih mendalam dan tentu butuh data yang lebih lengkap dan akurat untuk mengukur hal tersebut,” katanya

Baca:   Maret 2020: Ekspor Sultra Terbesar di Tiongkok 47,75 Persen

Kemudian, Koordinator Fungsi Distribusi BPS Sultra, Surianti Toar, juga mengharapkan, para stakeholders mampu mengendalikan inflasi dan juga menekan jumlah pasien Covid-19 sehingga masyarakat dapat beraktivitas normal dan perekonomian lebih baik.

Dalam perhitungan inflasi, Surianti Toar mengatakan bahwa memang ada subkelompok untuk harga obat-obatan, namun tidak khusus untuk obat-obatan Covid-19.

“Inflasi yang meningkat di bulan Mei 202 dipengaruhi oleh kenaikan harga selama bulan Ramadhan dan Lebaran, jika dilihat dari pola data inflasi tahun sebelumnya pun, bulan Februari-Mei 2021 polanya adalah terjadi inflasi, meskipun tahun 2021 sedikit lebih tinggi dibanding 2020,” ujar Surianti Toar. (B)

Laporan: Wa Rifin
Editor: Hasrul Tamrin

  • Bagikan