Februari 2020: Kendari Deflasi 0,47 Persen

  • Bagikan
Kepala BPS Sultra, Muhammad Edy Mahmud (tengah), Senin (2/3/2020). (Foto: Wa Rifin/SULTRAKINI.COM)

SULTRAKINI.COM: KENDARI – Kota Kendari mengalami deflasi sebesar 0,47 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) 103,09 pada Februari 2020.

Berdasarkan hasil pemantauan Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Tenggara, secara nasional dari 90 kota
yang menghitung inflasi, 17 kota mengalami deflasi, dan 73 kota mengalami inflasi. Deflasi terdalam terjadi di Kota Tanjung Pandan (Provinsi Bangka Belitung) sebesar 1,20 persen dengan IHK 103,66 dan deflasi terendah tercatat di Kota Padangsidimpuan sebesar 0,01 persen dengan IHK 104,01.

Kepala BPS Sultra, Muhammad Edy Mahmud, menagatakan deflasi yang terjadi di Kota Kendari disebabkan oleh turunnya indeks harga pada kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau 1,95 persen; rekreasi olahraga dan budaya 0,59 persen; kelompok pakaian dan alas kaki serta kelompok transportasi masing-masing 0,04 persen; serta kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga 0,02 persen.

“Kelompok pengeluaran yang mengalami kenaikkan indeks harga, yaitu kelompok kesehatan 1,91 persen; kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran 0,91 persen; kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya 0,63 persen; kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga 0,35 persen; serta kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan 0,21 persen. Sedangkan kelompok pengeluaran pendidikan tidak mengalami perubahan/relatif stabil,” jelas Edy, Senin (2/3/2020).

Baca:   Intake PDAM Tirta Anoa Bakal Dipindahkan dari Sungai Pohara ke Tabanggele

Kelompok pengeluaran makanan, minuman dan tembakau pada Februari 2020 tercatat deflasi 1,95 persen atau terjadi penurunan indeks dari 104,80 pada Januari 2020 menjadi 102,76 pada Februari 2020.

Klik gambar diatas untuk melihat jadwal tes

“Subkelompok yang mengalami deflasi, yaitu subkelompok makanan 2,70 persen dan subkelompok minuman yang tidak beralkohol 0,16 persen. Sedangkan subkelompok rokok dan tembakau mengalami inflasi sebesar 2,05 persen,” ujar Edy.

Kelompok tersebut pada Februari 2020, memberikan dampak deflasi sebesar 0,62 persen. Komoditas yang dominan memberikan sumbangan deflasi, antara lain ikan layang/ikan benggol 0,22 persen; daun kelor 0,12 persen; ikan selar/ikan tude 0,10 persen; ikan teri 0,08 persen, dan ikan kembung/ikan gembung/ikan banyar/ikan gembolo/ikan aso-aso 0,06 persen.

Edy menjelaskan, beberapa komoditas yang mengalami penurunan harga pada Februari 2020, antara lain ikan layang 0,22 persen, daun kelor 0,12 persen, ikan selar 0,10 persen, ikan teri 0,08 persen, ikan kembung 0,06 persen, ikan cakalag 0,05 persen, ikan katambah 0,04 persen, ikan rambe 0,03 persen, cabe rawit 0,03, dan ikan barona 0,03 persen.

“Sedangkan komoditas yang mengalami kenaikkan harga antara lain bawang merah 0,09 persen, bawang putih 0,08 persen, emas perhiasan 0,04 persen, tarif dokter spesialis 0,04 persen, rokok kretek filter 0,04 persen, beras 0,03 persen, rokok putih 0,03 persen, angkutan udarah 0,02 persen, laptop/notebook 0,02 persen, dan pisang 0,01 persen,” ungkapnya.

Baca:   Jumlah Angkutan Udara dan Laut di Sultra Terus Meningkat Dibanding Awal Pandemi 2020

Laporan: Wa Rifin
Editor: Sarini Ido

  • Bagikan