Fenomena Full Buck Supermoon akan Menghiasi Langit Indonesia, Di Sultra Nampak di 2 Daerah Ini

  • Bagikan
Foto Nasa

SULTRAKINI.COM: Fenomena astronomi purnama rusa super (full buck supermoon) akan menghiasi langit Indonesia, termaksud dua daerah di Provinsi Sulawesi Tenggara.

Dilansir dari Edukasi Sains dan Antariksa, fenomena yang terjadi sembilan tahun sekali ini akan berlangsung di Kota Kendari pada 13 Juli 2022 pukul 17.27 sampai 14 Juli 2022 sekitar pukul 06.15 Wita. Sedangkan di Kabupaten Wakatobi fenomena alam ini terjadi pada 13 Juli pukul 17.19 sampai 14 Juli 2022 pukul 06.13 Wita.

Fenomena ini terakhir kali terjadi di 2003 dan 2014, sehingga fenomena tersebut terjadi sembilan tahun sekali. Fenomena full buck supermoon akan berlangsung pada Kamis, 14 Juli 2022 pukul 01.57 WIB, 02.57 Wita, serta pukul 03.57 WIT (pada jarak 357.418 km).

Secara umum, bulan terbit dari arah tenggara 16-32 menit sebelum matahari terbenam dan berada di atas ufuk selama 12 jam 8 menit (Sabang) hingga 13 jam 16 menit (Rote Ndao). Kemudian terbenam di arah barat daya 15-27 menit setelah matahari terbit keesokan harinya.

Untuk menyaksikan fenomena rusa super, cukup arahakan pandangan sesuai arah terbit hingga terbenamnya bulan.

Bagaimana dampak dari fenomena supermoon?

Sebagaimana halnya fase purnama maupun fase bulan baru pada umumnya, Purnama Rusa Super dapat menimbulkan pasang laut yang lebih tinggi dibandingkan hari-hari biasanya. Pasang laut ini disebut juga sebagai pasang purnama. Hal ini karena konfigurasi matahari-bumi-bulan (ataupun matahari-bulan-bumi) yang segaris dan mengakibatkan masing-masing gaya diferensial (gaya pasang surut) yang ditimbulkan oleh objek yang menimbulkan gaya tersebut.

Baca:   BP Jamsostek Kampanyekan Program Jaminan Kehilangan Pekerjaan dan Anti Korupsi

Secara umum, resultan gaya di ferensial saat bulan perbani mikro berkisar 34-40 peraen lebih besar dibandingkan resultan gaya diferensial saat bulan perbani super berkisar 1.2-3,6 persen lebih besar dibandingkan bulan baru/purnama mikro. Dengan demikian, urutan resultan gaya diferensial dari kecil ke besar adalah sebagai berikut:

  1. Resultan Gaya saat Bulan Perbani Mikro.
  2. Resultan Gaya Saat Bulan Baru/Purnama Mikro= 1,38-1,4 Kali Resultan Gaya Saat Bulan Perbani Mikro.
  3. Resultan Gaya Bulan Perbani Super= 1,012-1,036 Kali Resultan Gaya Saat Bulan Baru/Purnama Mikro.
  4. Resultan Gaya Bulan Baru/Purnama Super = 1,27-1,29 Kali Resultan Gaya Saat saat Bulan Perbani Makro.

“Dengan demikian, perlu diwaspadai pasang laut tertinggi 14 Juli 2022 dan diimbau bagi sobat yang berprofesi sebagai nelayan untuk tidak melaut antara dua hari sesudah puncak fenomena ini, yakni antara 12-16 Juli 2022. Perhitungan ini semata-mata hanya mempertimbangkan faktor astronomis saja dan tidak mempertimbangkan gelombang laut akibat badai angin,” jelas peneliti pusat sains dan antariksa Lapan, Andi Pangerang. (B)

Laporan: Sela
Editor: Sarinin Ido

  • Bagikan