SULTRAKINI.COM: KENDARI – Wilayah Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, diguncang gempa bumi tektonik pada Rabu (15/4/2026) pukul 06.55 WIB.
Berdasarkan hasil analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa tersebut memiliki magnitudo 2,7. Episenter gempa terletak pada koordinat 3,97 Lintang Selatan dan 122,53 Bujur Timur, atau sekitar 3 kilometer di timur Kota Kendari, dengan kedalaman 3 kilometer.
BMKG menjelaskan, gempa ini tergolong gempa dangkal yang dipicu oleh aktivitas Sesar Kendari North.
Berdasarkan peta guncangan (shakemap) dan laporan masyarakat, getaran gempa dirasakan di wilayah Kendari dengan intensitas III MMI. Pada skala ini, getaran terasa nyata di dalam rumah, seperti ada kendaraan berat yang melintas.
Sejumlah warga melaporkan merasakan getaran singkat yang cukup mengejutkan, terutama bagi mereka yang sedang beraktivitas di dalam rumah. Meski demikian, kondisi tetap terkendali dan tidak menimbulkan kepanikan yang meluas di masyarakat.
Hingga saat ini, belum ada laporan kerusakan bangunan maupun korban jiwa akibat peristiwa gempa tersebut. Aktivitas masyarakat di Kota Kendari juga terpantau berjalan normal pascakejadian.
BMKG memastikan gempa ini tidak berpotensi tsunami, mengingat magnitudo yang relatif kecil serta lokasi gempa yang berada di darat.
Selain itu, hingga pukul 06.30 WIB, hasil monitoring BMKG belum menunjukkan adanya aktivitas gempa susulan (aftershock).
BMKG mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Warga juga diharapkan selalu mengikuti arahan dari pihak berwenang serta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana.
Sebagai langkah mitigasi, masyarakat disarankan untuk mengenali jalur evakuasi di lingkungan masing-masing serta memastikan bangunan tempat tinggal dalam kondisi aman dan tahan terhadap guncangan.
Informasi resmi terkait gempa bumi hanya disampaikan melalui kanal komunikasi resmi BMKG, seperti media sosial terverifikasi, situs web, dan aplikasi resmi yang dapat diakses oleh masyarakat luas.
Laporan: Andi Mahfud






