Impor Sultra dari Afrika Selatan Turun 100 Persen

  • Bagikan
Ilustrasi. (Foto: shutterstock)

SULTRAKINI.COM: KENDARI – Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) mencatat, nilai impor pada Agustus 2021 turun 7,08 persen, sementara volumenya naik 95,03 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Nilai impor Sultra pada Agustus 2021 terpantau US$109,91 juta atau turun dibandingkan bulan sebelumnya senilai US$118,28 juta. Untuk volume impornya senilai 325,09 ribu ton atau naik dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat 166,68 ribu ton.

Selama periode Januari 2019-Agustus 2021, nilai impor Sultra tertinggi terjadi pada November 2020, yaitu US$341,77 juta dan terendah pada Maret 2019, yaitu US$28,75 juta.

Sementara volume impor tertinggi tercatat pada November 2019, sebesar 1.707,17 ribu ton dan terendah pada Januari 2019 dengan volume 38,99 ribu ton.

“Peranan impor Sultra Agustus 2021 menurut golongan barang HS 2 digit, yaitu didominasi oleh kelompok bahan bakar mineral dengan nilai US$41,67 juta (37,91 persen) dan urutan kedua kelompok mesin-mesin/pesawat mekanik dengan nilai US$17,68 juta (16,09 persen),” jelas Kepala BPS Sultra, Agnes Widiastuti, Jumat (1/10/2021).

Sedangkan penurunan terbesar kelompok bahan bakar mineral senilai US$ 29,06 juta (61,91 persen), diikuti besi dan baja US$25,68 juta (37,13 persen), berbagai produk kimia US$5,28 juta (52,05 persen), dan mesin/peralatan listrik US$2,24 juta (32,76 persen).

Baca:   Komoditas Besi dan Baja Pengaruh Utama Kenaikkan Impor Sultra Agustus 2019

Selama Januari-Agustus 2021, nilai impor lima golongan barang naik US$165,95 juta atau 21,71 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Dilihat dari peranannya, lima golongan barang tersebut memberikan kontribusi 78,60 persen terhadap total impor nonmigas Provinsi Sultra.

“Total impor Sultra Agustus 2021 mengalami penurunan sebesar 7,08 persen dibanding bulan sebelumnya. Kondisi tersebut disebabkan oleh penurunan impor terbesar dari negara Afrika Selatan senilai US$24,51 juta (turun 100 persen),” terang Agnes.

ibu alimazi

Total nilai impor nonmigas dari tiga negara pada Agustus 2021 mencapai US$96,13 juta atau turun US$9,48 juta (8,98 persen) dibandingkan pada Juli 2021. Kondisi tersebut terutama dipengaruhi oleh turunnya nilai impor dari beberapa negara utama, seperti Afrika Selatan.

Dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, impor dari tiga negara utama selama Januari-Agustus 2021 naik US$129,76 juta (16,89 persen). Peningkatan nilai impor terutama berasal dari Afrika Selatan senilai US$142,6 juta (228,42 persen).

Dilihat dari peranannya terhadap total impor nonmigas pada Januari-Agustus 2021, kontribusi tertinggi masih didominasi oleh Tiongkok senilai US$546,10 juta (48,43 persen), disusul Afrika Selatan US$205,03 juta (18,18 persen), dan Australia US$147,01 juta (13,09 persen). Peranan ketiga negara asal barang utama tersebut mencapai 79,65 persen dari total impor Provinsi Sultra di periode itu.

Baca:   Impor Sultra Kembali Turun di Desember 2018

Agnes menyebutkan, impor menurut golongan penggunaan barang selama Agustus 2021, golongan bahan baku/penolong memberikan peranan terbesar, yaitu 89,43 persen dengan nilai US$95,10 juta; barang modal US$14,41 juta; dan konsumsi US$0,40 juta.

Perkembangan impor pada Agustus 2021 dibandingkan Juli 2021, untuk impor barang modal mengalami penurunan 58,74 persen; impor konsumsi naik 424,82 persen; dan bahan baku/penolong naik 14,19 persen.

“Dengan demikian total impor dibandingkan bulan sebelumnya itu mengalami penurunan 7,08 persen. Namun total impor dibandingkan keadaan Agustus 2020 seluruhnya mengalami kenaikkan dengan total kenaikkan 42,98 persen,” tambahnya.

Untuk diketahui, nilai neraca perdagangan Provinsi Sultra pada Agustus 2021 mengalami surplus senilai US$197,36 juta. Sedangkan secara kumulatif, neraca perdagangan pada Januari-Agustus 2021 mengalami surplus US$1.467,93 juta.

Kondisi tersebut sejalan dengan periode yang sama tahun lalu (Januari-Agustus 2020), nilai neraca perdagangan Sultra surplus US$170,89 juta. (B)

Laporan: Wa Rifin
Editor: Sarini Ido

  • Bagikan