Kado HPN, Quid Pro Quo

  • Bagikan
Ilustrasi. (Foto: Jakarta Globe)

Moral Pers kini jatuh terjun bebas. Layaknya sebuah kapal, kini berjalan limbung di tengah ombak keras dan cuaca buruk.

Lengan Pers yang dulu kokoh menjadi sandaran rakyat kini makin kurus, malnutrisi tak bertenaga.

Danny JA menggambarkannya begitu pilu dalam tulisannya beberapa hari lalu menyambut Hari Pers Nasional.

Kesimpulan survei yang dilakukan oleh CareerCast selama 3 tahun berturut-turut (2013-2015) menyimpulkan, bekerja di koran itu menempati ranking terburuk. Banyak kriteria yang digunakan untuk menyusun ranking. Antara lain tingkat stres, pendapatan, dan potensi karier ke depan.

Seperti petir menyambar, koran cetak (saya pun memulai karier dari sana) divonis akan menjadi gerbong pertama industri pers yang akan segera menghuni museum. Zaman baru akan membunuh koran.

Riset juga menunjukkan, “Menonton semakin digemari daripada membaca”. Terutama pada generasi muda, jika ada pilihan berita untuk dibaca versus berita yang sama dalam bentuk audio visual, maka audio visual akan dipilih.

Sketsa fenomena ini mulai terlihat jelas di Indonesia. Satu per satu media cetak gugur. Pun jika mengabaikan penyebabnya hantaman pandemi Covid-19, zaman memang tengah berubah.

Yang akan bertahan dan maju adalah mereka yang berubah, lebih sesuai dengan zamannya.

Dunia virtual semakin dominan. Internet yang semakin baik memungkinkan banyak hal akan terjadi, koneksi akan lebih cepat, lebih banyak, gambar dan video ada di mana-mana.

Pers nasional awalnya tidak gagap merespon kecepatan perubahan dan perkembangan teknologi. Respon awal yang baik adalah konvergensi media.

Baca:   BI Sebut Pemulihan Ekonomi Global Tertahan Virus Corona

Tapi lambat laun kekuatan konten juga semakin melemah. Saya membayangkannya seperti karat yang terus menggerogoti kekuatan pers dari dalam. Akan terus membesar dan membunuh jika diabaikan.

Kaidah-kaidah dalam penulisan berita masih banyak yang ditabrak, lebih tepatnya tabrak lari. Tanpa minta maaf dan tanggung jawab, dalam istilah kami itu disebut RALAT.

Banyak jurnalis muda malas mendalami teknik penulisan berita indepth reporting. Model penulisan berita yang memang membutuhkan jiwa jurnalis sejati, narasumber yang lengkap dan riset data yang kuat.

Mereka lebih senang mengurus hard news, berita pendek yang hanya memindahkan omongan narasumber ke dalam bentuk berita, tanpa referensi apapun. Berita ece-ece lah. Jurnalis semacam ini akan lebih cepat masuk museum.

Pada akhirnya pembaca, penonton, dan pendengar tidak mendapatkan referensi media untuk mengambil keputusan. Karena yang tersaji hanya informasi kering.

Tidak ada informasi berkualitas mengenai isu-isu penting di sekitar masyarakat (ilmu jurnalistik menyebutnya proximity) yang bisa membantu untuk mengambil keputusan pribadi, lingkungan, dan bisnis.

Quid Pro Quo adalah bahasa latin yang berarti “ini untuk itu”. Selamat Hari Pers Nasional, semoga tidak hanya menjadi rutinitas perayaan kita semua, tapi menjadi momentum untuk berbenah agar tidak masuk museum.

Baca:   Korem 143 HO Olahraga Bersama Insan Pers, Di Tengah Pandemi Tubuh Harus Bugar

Penulis: AS. Amir

  • Bagikan