Kebiasaan Multitasking, Benarkah Bikin Lebih Produktif?

Gambar: https://share.google/4vr4axOInnYyvOkJW

SULTRAKINI.COM: KENDARI— Pernah mengerjakan tugas sambil membalas chat, membuka media sosial, hingga menonton video dalam waktu yang bersamaan? Kebiasaan seperti ini mungkin terasa membuat pekerjaan lebih cepat selesai. Padahal, terlalu sering membagi perhatian justru bisa membuat konsentrasi menurun dan pekerjaan menjadi lebih lama.

Kita sering menyebutnya multitasking. Kelihatannya produktif karena beberapa pekerjaan berjalan bersamaan. Tapi, benarkah demikian?

Ternyata, Otak Tidak Benar-Benar Mengerjakan Semuanya Bersamaan

Saat melakukan multitasking, otak sebenarnya tidak mengerjakan semua hal dalam waktu yang sama. Otak hanya berpindah fokus dari satu pekerjaan ke pekerjaan lainnya dengan cepat. Akibatnya, kita bisa lebih mudah kehilangan konsentrasi, membutuhkan waktu lebih lama untuk menyelesaikan tugas, dan melakukan kesalahan.

Jadi, Haruskah Kita Berhenti Multitasking?

Tidak selalu.

Beberapa aktivitas sederhana dan sudah terbiasa dilakukan mungkin masih bisa dilakukan bersamaan. Namun, untuk pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi, kreativitas, analisis, atau pengambilan keputusan, berpindah-pindah perhatian terlalu sering dapat membuat pekerjaan menjadi kurang efisien.

Penelitian tentang gangguan pekerjaan juga menunjukkan bahwa seseorang bisa menyelesaikan tugas yang terinterupsi dengan lebih cepat, tetapi hal tersebut dapat disertai peningkatan stres, frustrasi, tekanan waktu, dan usaha mental.

Bukan Multitasking, Tapi Smart Tasking

Daripada berusaha mengerjakan semuanya sekaligus, kita bisa mencoba cara yang lebih sederhana (dilansir dari inixindobdg.co.id):

Tentukan satu pekerjaan utama yang perlu diselesaikan.

Matikan notifikasi yang tidak penting ketika membutuhkan fokus.

Kelompokkan pekerjaan sejenis, misalnya membalas email dalam satu waktu tertentu.

Berikan jeda setelah menyelesaikan satu bagian pekerjaan.

Saat sedang mengerjakan pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi tinggi, hindari terlalu sering berpindah perhatian.

Jadi, kuncinya bukan menghindari multitasking, tetapi mengetahui kapan harus melakukannya dan kapan perlu memberikan perhatian penuh pada satu pekerjaan.

Laporan: Mardiyah & Putri