Kenaikan Harga LPG Nonsubsidi dan Rokok Picu Inflasi di Sultra

  • Bagikan
LPG Nonsubsidi (Foto: ANTARA/M Risyal Hidayat)
LPG Nonsubsidi (Foto: ANTARA/M Risyal Hidayat)

SULTRAKINI.COM: KENDARI – Kator Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) menyampaikan per Januari 2022 di Sultra mengalami inflasi 0,48 persen (mtm) yang dipicu oleh kenaikan harga LPG nonsubsidi dan rokok.

“Kenaikan harga dua komoditi ini karena kebijakan penyesuaian harga oleh Pertamina serta kenaikan harga rokok karena peningkatan cukai rokok oleh Pemerintah,” kata Plt. Kepala KPwBI Sultra, Doni Septadijaya, Kamis (24 Februari 2022).

PT Pertamina (Persero) telah resmi memberlakukan harga LPG nonsubsidi sejak 25 Desember 2021 lalu dengan rerata kenaikan antara Rp1.600 hingga Rp2.300 per Kg.

Meskipun demikian, angkutan udara di Sultra di awal tahun mengalami penurunan harga akibat normalisasi mobilitas masyarakat pasca Natal dan Tahun Baru (Nataru) dan penurunan harga ikan selaras dengan stabilnya produksi ikan segar dapat menahan inflasi Sultra. 

Secara spasial, kedua kota pencatatan inflasi di Sultra mengalami inflasi yaitu Kota Baubau dengan inflasi sebesar 1,14 persen (mtm), sedangkan Kota Kendari mengalami inflasi sebesar 0,29 persen (mtm).

“Inflasi Januari 2022 mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 0,23 persen (mtm) dan lebih rendah lagi dibandingkan dengan inflasi nasional yang tercatat sebesar 0,56 persen (mtm),” terang Doni.

BI Sultra, kini telah memproyeksikan bahwa inflasi pada triwulan I-2022 meningkat menjelang bulan Ramadan dan Hari Besar Keagamaan Negara (HBKN) Idul Fitri.

Baca:   Tekanan Inflasi di Sultra Saat Ramadan

Adapun faktor pemicu inflasi diantaranya, penurunan produksi ikan akibat adanya pembatasan penangkapan ikan di WPP 714 yang saat ini berubah menjadi zona spawning ground.

Selanjutnya, peningkatan konsumsi masyarakat menjelang bulan Ramadan dan HBKN Idul Fitri dan resiko penyebaran Covid-19 varian Omicron yang di sertai pengetatan PPKM berpotensi menghambat distribusi logiatik bahan pangan dari luar Sultra.

“Selain volatile food, tekanan inflasi juga di picu oleh peningkatan harga komoditas administered price,” kata Doni.

BI Sultra berupaya kerjasama antar daerah dapat memberikan solusi untuk menjaga ketersediaan pasokan serta keterjangkauan harga bagi daerah dengan kondisi surplus/ defisit pangan. 

Pada tahun 2021, Kota Kendari melaksanakan KAD dengan dua daerah, antara lain Kabupaten Muna dengan komoditas sapi dan Kota Baubau dengan komoditas ikan segar. (B)

Laporan: Wa Rifin
Editor: Hasrul Tamrin

  • Bagikan