Kerajaan Muna Curi Perhatian Pengunjung di FKN ke-XI

  • Bagikan
Stan adat Kerajaan Muna didatangi pengunjung yang antusias dengan kebudayaan Muna pada Festival Keraton Nusantara ke-XI di Kota Cirebon, Jawa Barat. (Foto: Arto Rasyid/SULTRAKINI.COM)

SULTRAKINI.COM: CIREBON – Stan Kerajaan Muna menyedot perhatian pengunjung di malam pergelaran Kesenian Keraton se-Nusantara pada rangkaian Festival Keraton Nusantara (FKN) ke-XI di Keraton Kanoman, Kota Cirebon, Jawa Barat, Sabtu (16/9/2017) malam. Dalam kesempatannya, Muna hadir dengan memamerkan benda pusaka tongkat atau dikenal oleh masyarakat Muna dengan nama “Katuko”.

Benda ini terbuat dari kuningan berbentuk kepala naga dan berukiran tulisan jawa kuno (Palawa). Menurut Ketua Lembaga Adat, Laode Sirad Imbo, tongkat sepanjang 90 centimeter itu, peninggalan Raja Sugi Manuru. Beliau adalah raja ke-VI Kerajaan Muna di masa itu. Tongkat kemudian berpindahtangan ke ayah kandungnya bernama Raja Laode Dika dengan gelar Komasighino yang selanjutnya diturunkan kepada dirinya sebagai Raja Muna saat ini.

“Kalau dilihat dari tulisan jawa kuno pada tongkat itu, mungkin pada masa kerajaan Sugi Manuri, erat hubungannya dengan kerajaan Jawa saat itu. Tapi belum bisa kita buktikan tanpa adanya hasil riset dari peneliti peninggalan pra sejarah,” kata Laode Sirad Imbo yang juga Raja Muna saat ini kepada SultraKini.Com.

Perhelatan pameran, juga ikut dipamerkan duplikat benda pusaka peninggalan Kerajaan Muna seperti kris kerajaan (Tobo), parang (Kapulu), tombak bermata tiga (Ponga), tombak satu mata (Karada) dan aksesoris kerajaan berupa payung, tempat tidur raja dan guci (gumbang).

Baca:   Kepala Staf AD Dijadwalkan Meresmikan Gedung Korem 143/HO

Selain pergelaran seni, Kerajaan Muna juga mengikuti jamuan para raja se-Nusantara dan Karnaval FKN yang terlanksana mulai 15-19 September 2017.

Diacara pembukaannya, FKN digelar pawai karnaval oleh 47 peserta keraton se-nusantara dan 113 peserta keraton peninjau. Khusus Muna, karnaval dipersembahkan dengan tema “Prajurit Kirab Budaya Sarano Wuna” dengan pakaian adat  Omputo oleh raja sampai pakaian adat Pasi untuk para pengawal kerajaan.

“Keikutsertaan Pemerintah Daerah dan Kerajaan Muna merupakan suatu upaya untuk menegaskan bahwa keragaman dan kebhinekaan yang ada di nusantara, mesti dijadikan sebagai sarana pemersatu bangsa. Selain itu Kebudyaan Muna merupakan salah satu budaya tertua yang wajib dilestarikan dan menjaga budaya agar anak cucu kita dapat melihat bahwa kita pernah menjadi bangsa yang besar,” jelas Kepala Bagian Humas dan Protokoler Pemda Muna, Amiruddin Ako, Sabtu (16/9/2017).

Untuk menjadikan Kerajaan Muna mendapatkan pengakuan dari para raja se-nusantara, sedikitnya kriteria berupa lembaga adat, logo, dan rumah adat harus terpenuhi. Kriteria lembaga adat dan logo adat telah diadakan pihaknya, namun rumah adat sedang dalam proses pembangunan.

Laporan: Arto Rasyid

  • Bagikan