Oleh: M. Djufri Rachim (Jurnalis dan Dosen Jurnalistik Universitas Halu Oleo)
SULTRAKINI.COM: Tanggal 30 September 2026 menjadi catatan tersendiri dalam perjalanan pers Sulawesi Tenggara. Harian Rakyat Sultra, yang sebelumnya dikenal dengan nama Kendari Ekspres, dijadwalkan mengakhiri operasionalnya. Kabar itu telah diberitakan sehari sebelumnya, 29 September 2026.
Bagi saya, kabar tersebut bukan sekadar informasi tentang berhentinya sebuah perusahaan media. Ada perjalanan panjang, pengalaman profesional, dan perdebatan tentang masa depan industri pers yang kembali terlintas dalam ingatan.
Saya teringat tahun 2010. Ketika itu, saya masih bekerja di Harian Kendari Pos, salah satu jaringan Jawa Pos Group yang juga menaungi Rakyat Sultra. Pada masa tersebut, saya mulai meyakini bahwa masa depan distribusi berita akan mengalami perubahan besar. Internet akan mengubah kebiasaan masyarakat membaca berita. Cepat atau lambat, perusahaan surat kabar harus menyesuaikan diri.
Keyakinan itulah yang mendorong saya merintis KendariNews.com, salah satu tonggak awal perkembangan media daring di Sulawesi Tenggara. Domainnya tercatat pada 22 April 2010, dan peluncurannya berlangsung pada Oktober 2010.
Namun, gagasan tersebut tidak serta-merta mendapat sambutan positif.
Sebagian manajemen tempat saya bekerja memandang kehadiran media daring sebagai ancaman terhadap kelangsungan koran. Kekhawatiran mereka dapat dipahami dalam konteks bisnis saat itu. Surat kabar masih mengandalkan penjualan eksemplar dan pendapatan iklan cetak. Kehadiran media daring yang menawarkan berita secara cepat dikhawatirkan akan mengurangi minat masyarakat membeli koran.
Saya memiliki pandangan berbeda. Bagi saya, media daring bukan musuh surat kabar. Keduanya dapat dikembangkan melalui strategi editorial dan bisnis yang berbeda.
Itulah alasan saya menggunakan nama KendariNews.com. Identitas tersebut sengaja dipisahkan dari nama Kendari Pos agar pengembangan media daring tidak secara langsung mengganggu posisi koran cetak.
Saya meyakini bahwa perusahaan pers perlu hadir di ruang digital sebelum perubahan perilaku pembaca memaksa mereka melakukannya.
Sayangnya, perbedaan pandangan tersebut membuat saya merasa semakin tidak nyaman. Saya menghadapi pilihan antara mempertahankan pekerjaan dan melanjutkan keyakinan profesional mengenai masa depan jurnalisme.
Akhirnya, saya memilih mengembangkan media sendiri.
Pada 4 Februari 2012, domain SultraKini.com tercatat. Media ini kemudian berkembang hingga beroperasi penuh pada Maret 2014. Melalui perusahaan yang didirikan pada 5 November 2014, SultraKini.com membangun fondasi kelembagaan untuk menjalankan kegiatan jurnalistik digital.
Saya mendirikan SultraKini.com bukan semata-mata untuk membangun perusahaan pers baru. Saya ingin membuktikan bahwa media daring dapat menjalankan fungsi jurnalistik secara profesional.
Kecepatan memang menjadi karakter utama internet. Namun, kecepatan tidak boleh mengorbankan akurasi, verifikasi, dan tanggung jawab editorial.
Perkembangan berikutnya memperlihatkan semakin banyak jurnalis Sulawesi Tenggara yang memilih jalur serupa. Pada 2014, sejumlah mantan wartawan Harian Media Sultra mendirikan ZonaSultra.com. Kehadiran media-media baru tersebut memperluas pilihan masyarakat dalam memperoleh informasi lokal.
Transformasi ini terus berlangsung. Pada 15 Februari 2020, sejumlah pemimpin media siber mendeklarasikan Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Wilayah Sulawesi Tenggara. Saya mendapat kepercayaan memimpin organisasi tersebut untuk periode pertamanya.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa media daring tidak lagi menjadi pelengkap surat kabar. Media digital telah membentuk industri pers dengan karakteristik, tantangan ekonomi, dan kebutuhan profesionalnya sendiri.
Apa yang terjadi pada Rakyat Sultra bukan fenomena yang berdiri sendiri.
Di Indonesia, sejumlah surat kabar nasional telah lebih dahulu menghentikan penerbitan cetaknya. Sinar Harapan mengakhiri penerbitan pada penghujung 2015. Koran Tempo berhenti mencetak koran pada akhir 2020, disusul Suara Pembaruan pada 2021, Republika pada 2022, dan Koran Sindo pada 2023.
Sebagian perusahaan tersebut melanjutkan kegiatan jurnalistiknya melalui platform digital. Sebagian lainnya menghadapi persoalan keberlanjutan usaha yang lebih kompleks.
Di Amerika Serikat, laporan State of Local News 2025 dari Northwestern University mencatat hilangnya hampir 3.500 surat kabar sejak 2005. Fenomena ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap industri pers cetak merupakan perubahan struktural yang berlangsung secara internasional.
Perubahan teknologi menjadi salah satu faktor penting. Namun, persoalannya tidak sesederhana persaingan antara koran dan internet.
Perusahaan teknologi mengubah sistem distribusi informasi sekaligus pasar periklanan. Mesin pencari, media sosial, dan platform digital memperoleh posisi penting dalam menentukan bagaimana masyarakat menemukan dan mengonsumsi berita.
Perusahaan pers menghadapi dua persoalan sekaligus. Mereka harus mengikuti perubahan perilaku pembaca sambil mencari model bisnis yang mampu membiayai produksi jurnalistik.
Saya tidak beranggapan bahwa kehadiran KendariNews.com pada 2010 pasti dapat menyelamatkan bisnis surat kabar. Transformasi digital tidak memberikan jaminan keberhasilan ekonomi.
Namun, saya tetap meyakini bahwa perusahaan pers yang melakukan adaptasi lebih awal memiliki waktu lebih panjang untuk bereksperimen, membangun audiens, mengembangkan kompetensi digital wartawan, dan mencari sumber pendapatan baru.
Dalam konteks itulah, pengalaman saya pada 2010 menjadi relevan untuk direnungkan kembali.
Kekhawatiran bahwa media daring akan mematikan koran justru memperlihatkan persoalan yang sering dihadapi organisasi ketika berhadapan dengan inovasi. Perusahaan berusaha mempertahankan model bisnis yang sudah berjalan, sementara teknologi mengubah perilaku konsumennya.
Padahal, keputusan untuk tidak mengembangkan media digital tidak akan menghentikan masyarakat beralih ke internet.
Kini, enam belas tahun kemudian, Rakyat Sultra menyusul sejumlah surat kabar lain yang menghentikan penerbitannya.
Saya menghormati perjalanan panjang perusahaan tersebut, terutama para wartawan, editor, tenaga percetakan, dan seluruh pekerja yang telah mengabdikan diri dalam industri pers daerah.
Mereka telah menjadi bagian penting dalam sejarah penyebaran informasi di Sulawesi Tenggara.
Namun, peristiwa ini juga mengingatkan bahwa mempertahankan jurnalisme tidak selalu berarti mempertahankan koran dalam bentuk cetak.
Teknologi distribusi dapat berubah. Model bisnis dapat berganti. Bahkan, perusahaan media dapat berhenti beroperasi.
Yang harus terus dipertahankan adalah fungsi jurnalistiknya. Menghadirkan informasi yang akurat, mengawasi kekuasaan, melayani kepentingan publik, dan menjaga ruang demokrasi.
Enam belas tahun lalu, saya memilih percaya pada masa depan jurnalisme digital. Hari ini, ketika Rakyat Sultra bersiap mengakhiri penerbitannya, saya semakin yakin bahwa pertanyaan terpenting bukan lagi apakah koran akan bertahan, melainkan bagaimana jurnalisme dapat terus hidup di tengah perubahan teknologi. ([email protected])












