Kisah Gani, Tarik ‘Perahu’ di Daratan Kendari Berisi Ilmu Pengetahuan

  • Bagikan
Gani dan gerobak Roda Pustaka Kabanti. (Foto: Dok.pribadi)
Gani dan gerobak Roda Pustaka Kabanti. (Foto: Dok.pribadi)

SULTRAKINI.COM: Buku adalah jendela dunia. Tapi masihkah buku difavoritkan generasi muda? Perkembangan teknologi informasi juga mempengaruhi gaya hidup setiap orang, begitupula minat bacanya terhadap buku. Masihkah setumpuk lembar kertas itu menarik di mata generasi muda? Terlebih mereka yang berada di ibu kota Provinsi Sulawesi Tenggara, yakni Kota Kendari.

Bagi Syaifuddin Gani, tak ada kata terlambat untuk menarik perhatian anak- anak memilih buku sebagai bahan bacaannya. Usahanya menarik gerobak, seperti memobilisasi pengetahuan mereka. Begitulah Gani, panggilan akrabnya.

Sejak 2017, gerobak berisikan 500 sampai 700 buku bacaan telah ditarik Gani menggunakan motor menelusuri sisi-sisi Kota Kendari dari daerah pinggiran sampai ruang publik.

“Buku secara psikis layaknya sebuah benda, tetapi di dalamnya ada ilmu pengetahuan. Ketika kita menggerakkannya melalui Roda Pustaka, sejatinya kita juga menggerakkan ilmu pengetahuan,” kata Gani ditemui SultraKini.Com, Sabtu (28/7/2018).

Gerobak Roda Pustaka Kabanti, itulah nama yang digagas oleh sekumpulan orang yang peduli akan buku di Komunitas Pustaka Kabanti. Gani tak sendirian menarik gerobak berbentuk perahu itu. Terhitung lima relawan setia mengantar ilmu pengetahuan lebih dekat dengan pembacanya.

Gerobak Pustaka Kabanti diserbu anak sekolah di Kota Kendari. (Foto: Dok.pribadi)
Gerobak Pustaka Kabanti diserbu anak sekolah di Kota Kendari. (Foto: Dok.pribadi)

Roda Pustaka Kabanti
Bentuk gerobak menyerupai perahu, ternyata memiliki filosofi bagi pria yang sedang menempuh S2 Program Studi Kajian Budaya di Universitas Halu Oleo itu. Lazimnya perahu yang berlayar di lautan dan membawa penumpang, kini dibuat seolah ikut berlayar di daratan dengan membawa segenggam harapan membangkitkan minat baca bagi orang-orang yang hidup di sana.

Baca:   8 Bahaya Kesehatan Berada di Depan Komputer Terlalu Lama

“Kami berlayar di daratan. Layar kami adalah buku-buku. Mengapa dalam bentuk gerobak? mungkin ia juga menarik secara visual sehingga ketika sampai di sebuah tempat, anak-anak juga antusias datang. Saya tidak datang sendirian, ada relawan yang ikut bergerak,” cerita Gani.

‘Perahu’ satu-satunya milik mereka itu sering berlabuh di sekitaran Teluk Kendari. Dimana anak-anak nelayan yang haus dengan bacaan tapi kurang memiliki bacaan. Begitu juga di wilayah Abeli, kawasan eks MTQ Kendari, Taman Kota Kendari, sekitaran Markas Angkatan Laut di Kasilampe, SDN IT Al Kalam, kantor Bahasa, kawasan Universitas Halu Oleo, Yayasan Al Fath Kendari, dan kawasan lainnya di setiap Sabtu dan Minggu.

Menurut Gani, lokasi tersebut memiliki banyak anak-anak, remaja, dewasa, maupun orang tua yang bersedia membaca buku-buku bacaan dari gerobak. Beragamnya usia dan minat baca, buku yang dibawa pun bervariasi, di antaranya buku sastra, bacaan anak, filsafat, agama, hukum, sejarah, fotografi, dan seni.

“Kenapa di kampus (lokasi kunjungan Roda Pustaka)? Di sana kan generasi emas bangsa kita. Mereka pembaca, anak-anak yang dipersiapkan menjadi pelanjut estafet literasi dunia bangsa kita. Mereka juga perlu kita sentuh,” jelas Gani.

Faktanya, minat baca anak-anak masih tinggi, hanya kurang digali. Antusias mereka nampak jelas seperti rindu dengan buku bacaan yang pantas dengan tingkat usia mereka.

Baca:   Kunci Tingkatkan Minat Baca Dimulai dari Pelayanan Kreatif dan Inovatif

“Buku yang paling diminati itu adalah buku anak, dan ternyata yang paling antusias menyongsong Roda Pustaka Kabanti ketika kami datang di sebuah tempat adalah anak-anak. Makanya, kami membawakan mereka buku anak, buku menggambar, buku cerita, ada gambar ada ceritanya. Mereka baca bahkan ada yang meminjamnya. Lalu diikuti buku sastra,” terang lulusan Pendidikan Sastra dan Bahasa Indonesia ini.

Di balik perhatiannya terhadap buku, dirinya berharap buku tidak akan hilang ditelan zaman. Karena buku juga bagian dari sumber ilmu pengetahuan untuk mencerdaskan anak bangsa.

“Belajar di waktu kecil itu bagai mengukir di atas batu. Pengalaman pribadi sendiri, saya ingat buku apa yang pertama saya baca ketika saya SD. Kami harap, anak-anak juga mengingat buku apa yang mereka baca ketika masih kecil. Kami yakin, itu akan terus berpengaruh di masa depan.Kami juga akan memberikan sentuhan menulis, jadi sekaligus mengabadikan pengetahuan, cita-cita, melalui media tulisan. Motivasi berikutnya ingin membangun masyarakat yang cerdas,” ucapnya.

Laporan: Muslimin
Editor: Sarini Ido

  • Bagikan