Kontrol Pembersihan Longsor, Bupati Konut Sempat “Naik Pitam”

  • Bagikan
Salah satunya yang terparah di Desa Sambandete dikunjungi Bupati Konut, Ruksamin bersama jajarannya. (Foto: Arifin Lapotende/SULTRAKINI.COM)
Salah satunya yang terparah di Desa Sambandete dikunjungi Bupati Konut, Ruksamin bersama jajarannya. (Foto: Arifin Lapotende/SULTRAKINI.COM)

SULTRAKINI.COM: KONAWE UTARA – Bupati Konawe Utara, Ruksamin sempat “naik pitam” ketika mengarahkan membersihkan timbunan longsor di bahu jalan trans sulawesi, tepatnya di Desa Sambandete, Kecamatan Oheo saat salah seorang warga mencoba menghalang-halangi pembersihan jalan dari material longsor.

Kehadiran Ruksamin di tempat longsor untuk memastikan tidak ada lagi pungutan terhadap pengendara saat melintasi jalur tersebut oleh warga di sekitar jalan tertimbun longsor ataupun terendam banjir.

Bupati Konut, Ruksamin bersama Kepala BPBD Konut Rahmatullah dan Danramil Asera Hilman pada Rabu (19/6/2019) menyusuri jalan trans sulawesi mulai dari jembatan Asera di Kecamatan Asera yang sempat terputus sampai melewati daerah Sambandeta, Kecamatan Oheo yang terendam banjir sekitar dua meter dengan menggunakan perahu milik BNPB.

Menurut prediksi Kepala BPBD Konut Rahmatullah, jalur tersebut sudah bisa dilalui sekitar empat hari lagi. Antisipasinya, Pemda Konut menyiapkan lima unit katamaran milik BNPB guna membantu warga melintasi jalur.

Setelah melewati jalur itu, rombongan menumpang salah satu mobil milik warga yang melintas menuju titik longsor di jalan trans sulawesi, tepatnya di Desa Sambandete. Jalur tersebut tertimbun tanah longsor sejak Senin, 3 Juni lalu.

Pantauan di jalur trans sulawesi di Desa Sambandete, terjadi penumpukkan kendaraan roda dua maupun roda empat untuk mengantri di jalur tersebut. Parahnya, mereka harus membayar ketika melintas.

Baca:   Batasan Usia Calon Kepala Desa di Muna Masih akan Dikonsultasikan

Ruksamin yang berada di lokasi langsung membokar palang berbayar itu dan meminta Danramil mengerahkan anggotanya membongkar papan lintas berbayar, dirinya juga mengerahkan dua alat berat jenis loader untuk membersihkan tumpukan longsor.

Namun di tengah pembongkaran itu, salah seorang warga datang menghalang-halangi dengan dalih di seberang jalan tersebut tanah miliknya sehingga dirinya melarang untuk membuang tanah longsor di atas tanahnya.

Mendengar itu, Ruksamin sempat “naik pitam”. Dia meminta warga yang belakang diketahui warga dari luar Sultra tersebut menghitung berapa harga tanah tersebut untuk segera dibayarkan.

“Ini untuk kepentingan orang banyak, silakan hitung berapa harga tanahnya nanti saya bayar,” ucapnya dengan nada sedikit tinggi.

Salah satunya yang terparah di Desa Sambandete dikunjungi Bupati Konut, Ruksamin bersama jajarannya. (Foto: Arifin Lapotende/SULTRAKINI.COM)
Salah satunya yang terparah di Desa Sambandete dikunjungi Bupati Konut, Ruksamin bersama jajarannya. (Foto: Arifin Lapotende/SULTRAKINI.COM)

Kata dia, apabila tanah longsoran dibersihan, sekitar belasan ribu jiwa di tiga kecamatan bisa menerima sumbangan melewati jalur itu, misalnya menyuplai beras belasan ton.

Begitu juga adanya palang berbayar bisa menyulitkan warga, terlebih pengendara yang lewat adalah relawan atau penyalur bantuan.

“Kasian warga sudah kena musibah ditambah lagi harus membayar. Sengaja hari ini kami turun langsung guna memastikan tidak ada lagi pungli di jalan,” tambahnya, Rabu (19/6/2019).

Di lokasi ini juga bupati Konut ikut mengontrol pengoperasian alat beras saat membersihkan tanah longsoran sejak siang hingga sore hari. Usai pembersihan itu, jalur kembali digunakan para pengendara.

Baca:   BNPB RI Apresiasi Belum Ada Korban Jiwa Dampak Banjir di Konut

Pemilih tanah yang sempat melarang tanah longsoran dituang ke lokasinya, tidak mau memberikan keterangan ketika wartawan Sultrakini.com berusaha mengkonfirmasi terkait hal itu. Dia memilih pergi dari lokasi tersebut.

Setelah memperbaiki jembatan tersebut dengan menggunakan jembatan Baley Pemda langsung mengerahkan alat berat untuk membersihkan lumpur di bahu jalan di empat titik. Salah satunya yang terparah di Desa Sambandete.

Kondisi tersebut, menyulitkan warga yang hendak melintasi jalur penghubung Kecamatan Langgikima, Landawe dan Wiwirano itu. Bahkan jalur ini satu satunya akses darat menghubungkan Sultra-Sulteng. Kini, jalur ini sudah digunakan para pengendara.

Jalur trans sulawesi di Desa Sambandete sebelumnya terpasang papan berbayar, dimana pengendara yang melintas dikenai bayaran. Mobil besar seperti truk 1 juta rupiah, mobil kecil seperti Inova 500 ribu, sedangkan pengendara motor dipatok 50 hingga 100 ribu per motor.

Laporan: Arifin Lapotende
Editor: Sarini Ido

  • Bagikan