Manfaat Jatuh Cinta Untuk Kesehatan, Ini Kata Sains

  • Bagikan
Ilustrasi Foto: gedubar.com
Ilustrasi Foto: gedubar.com

SULTRAKINI.COM: Jatuh cinta, bukan kata asing lagi. Bukan hanya di kalangan dewasa, ramaja, bahkan anak-anak dengan segala keterbatasan pengetahuan mereka tentang cinta mereka juga merasakannya.

Konon saat jatuh cinta, kita merasa dunia menjadi tempat yang indah. Namun, tahu kah? ternyata jatuh cinta punya manfaat besar bagi kesehatan seseorang.

Sebuah penelitian baru mengkonfirmasi, perasaan jatuh cinta bisa membantu memperbaiki kondisi kesehatan seperti tekanan darah tinggi, nyeri, hingga reaksi alergi.

Menurut para peneliti dari University of Western Virginia, California, jatuh cinta merupakan hasil dari aktivitas 12 area otak yang bekerja bersama. Mereka menyebut, perubahan aktivitas otak ini dimulai hanya dalam seperlima detik setelah seseorang jatuh cinta.

Ada lonjakan bahan kimia seperti dopamin dan oksitoksin. Dopamin adalah hormon yang mengatur respons emosional. Sedangkan oksitoksin dikenal juga sebagai “cuddle hormone” yang menginduksi rasa percaya dan mengurangi kecemasan.

Temuan yang dipublikasikan dalam jurnal Annals of Behavioral Medicine ini mungkin menjadi penjelasan mengapa seorang jatuh cinta cenderung memiliki tekanan darah lebih rendah.

“Peristiwa hidup yang penting, seperti jatuh cinta, memiliki efek fisiologis serta emosional yang mendalam,” ungkap Sir Cary Cooper, psikolog dari University of Manchester dikutip dari Daily Telegraph, Rabu (14/11/2018).

Baca:   Apakah di Indonesia Terjadi Gelombang Panas? BMKG Menyebut

“Sistem kekebalan tubuh, hormon, dan banyak faktor lain kemungkinan terlibat,” imbuhnya.

ibu alimazi

Pada penelitian lain, jatuh cinta juga bisa mempengaruhi kemampuan tubuh seseorang dalam melawan infeksi. Hal ini didapatkan peneliti setelah melakukan pengamatan terhadap 50 perempuan.

Dalam jurnal Psychoneuroendocrinology temuan yang diterbitkan itu meyebut, dalam studi selama dua tahun, perempuan yang jatuh cinta memiliki perubahan genetik. Perubahan genetik yang dimaksud berkaitan dengan konsentrasi senyawa yang lebih tinggi untuk melawan virus.

Tingkat dopamin yang berubah mungkin terlibat dalam hal ini, asumsi para peneliti.

Dalam temuan lain, para peneliti di Stanford University menemukan bahwa romansa bisa mengubah ambang rasa sakit.

Mereka melakukan pemindaian otak untuk menilai respons terhadap rasa sakit selama peserta melihat foto orang yang dicintai. Hasilnya, ketika melihat foto tersebut, rasa sakit yang dirasakan para peserta turun sebanyak 40 persen. Dengan kata lain, hanya melihat foto orang tercinta bisa meningkatkan produksi dopamin yang memicu pelepasan “obat” penghilang rasa sakit.

“Ketika pasien terlihat jauh lebih baik, kami menemukan bahwa mereka berada dalam sebuah hubungan yang bergairah, itu mungkin tidak berhubungan dengan pengobatan apapun,” tulis para peneliti dalam jurnal PLOS pada 2010. Dikutip dari Kompas.com

Baca:   Masih Covid-19, Salat Idul Fitri di Rumah Saja Bersama Keluarga Inti

Di luar itu, berbagai penelitian juga punya hasil temuan serupa. Penelitian di jurnal Comprehensive Psychology menemukan, memeluk orang yang dicintai bisa menurunkan tekanan darah dan mengurangi detak jantung. Itu karena adanya peningkatan kadar oksitoksin.

Orang yang secara teratur dipeluk oleh pasangan cenderung kurang mengalami depresi atau gangguan cemas, studi lain dari University of California.

Sumber: Kompas.com
Laporan: Saswita

  • Bagikan