Menangkal Hoaks, Pembaca Perlu Logika Serap Informasi

  • Bagikan
Literasi digital sebagai upaya pencegahan radikalisme dan terorisme di masyarakat oleh FKPT Sultra, Kamis (18/10/2018). (Foto: Rifin/SULTRAKINI.COM)
Literasi digital sebagai upaya pencegahan radikalisme dan terorisme di masyarakat oleh FKPT Sultra, Kamis (18/10/2018). (Foto: Rifin/SULTRAKINI.COM)

SULTRAKINI.COM: KENDARI – Wakil Ketua Dewan Pers, Ahmad Djauhar, mengatakan pengguna media sosial harus berhati-hati menyebarkan informasi sebelum mengetahui kebenarannya. Apalagi disadari hoaks atau segaja membuatnya untuk disebar di media sosial. Informasi hoaks lebih berbahaya lagi jika sifatnya menghujat atau ujaran kebencian.

Ahmad Djauhar dalam materinya di kegiatan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Sultra bertemakan literasi digital sebagai upaya pencegahan radikalisme dan terorisme di masyarakat, menerangkan media massa harus ambil bagian dalam pencegahan hoaks. Misalnya, bijak menggunakan kata dalam penulisan berita agar tidak menimbulkan multi tafsir.

loker wartawan sultrakini

Selain memecah persaudaraan, hoaks juga punya konsekuensi hukum dari si pembuat atau penyebarnya.

“Ini masih sering kita jumpai di media massa. Memakai kata yang menimbulkan multi tafsir ini tidak boleh, apalagi nanti menimbulkan ujaran kebencian,” ucap Ahmad Djauhar.

Perang melawan hoaks perlu digalangkan, cara sederhana dengan berhati-hati menggunakan judul sensasional yang provokatif oleh media massa. Pembaca juga cermat memilih portal informasi, memeriksa fakta maupun foto atau video, kalau perlu adukan ke pihak berwajib jika ditemukan informasi hoaks.

(Baca: FKPT Sultra Gaungkan Literasi Digital Cegah Radikalisme Dan Terorisme Di Masyarakat)

Ketua Bidang Media, Humas, dan Sosialisasi FKPT Sultra, Milwan dalam materinya bijak menggunakan medsos, mengungkapkan medsos kerap dipergunakan oknum untuk menyebar hoaks bermuatan ujaran kebencian.

Baca:   Tingkat Kinerja dan Pelayanan Masyarakat Wali Kota Kendari Lantik Direktur Perusda dan Rotasi Pejabat

“Penggunaan media sosial harus menggunakan logika menyerap informasi, kemudian informasi itu harus dilihat kebenarannya sebelum menyebar di grup-grup kita,” jelas Milwan.

Laporan: Rifin
Editor: Sarini Ido

loker marketing sultrakini
  • Bagikan