Mengapa Ada Foto Bagus dan Menarik serta Terlihat Biasa Saja?

  • Bagikan
Fotografer senior, Jojon memberikan pelatihan fotografi pariwisata pada workshop ekonomi kreatif sub sektor media di Kabupaten Muna. (Foto: Dok.Sultrakini.com)

SULTRAKINI.COM: MUNA – Mengapa ada foto bagus dan menarik serta mengapa ada yang biasa saja? Workshop ekonomi kreatif sub sektor media, penulisan konten dan fotografi pariwisata membahas hal ini untuk milenial di Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara.

“Jika sebuah foto mempunyai nilai estetika tentu ada unsur-unsur yang membuat foto itu jadi menarik dan enak untuk dilihat. Beberapa bentuk teori komposisi bisa digunakan untuk membantu mengharmonisasikan elemen-elemen foto menjadi menarik,” ucap fotografer senior, Jojon dalam materinya pelatihan fotografi pariwisata di Kabupaten Muna, Sabtu (20/11/2021).

Elemen-elemen yang dimaksud fotografer Antaranews ini, yakni sepertiga atau rule of third, ruang aktif, komposisi objek atau filter the frame, pattern and repetition, dan background/foreground.

Dikatakannya, rule of third merupakan salah satu komposisi foto paling mendasar dan wajib diketahui, yang mana bidang foto dibagi menjadi sembilan kotak sama besar dan meletakkan point of interest pada titik atau garis pada bidang yang berbagi menjadi 3×3 tersebut. Interesting point terdapat empat titik.

Sementara ruang aktif dibuat lebih besar dari ruag lawannya. Ruang aktif juga bisa diterapkan pada objek yang tidak bergerak dengan menempatkannya sesuai arah pandang subjek tersebut.

“Ketika memotret objek bergerak akan ada ruang dalam bingkai untuk ‘gerak’ objek, ruang itu disebut ruang aktif. Kasih porsi lebih banyak untuk ruang aktif karena itu yang mempengaruhi mata,” terangnya.

Baca:   Milenial Kendari Belajar Menulis Konten Pariwisata, Dua Hal Ini Perlu Diingat Penulis

Poin fill the frame menyangkut komposisi yang memenuhi frame dengan objeknya, tidak menyisahkan ruang kosong atau background.

Sedangkan pattern and repetition sehubungan dengan foto berpola atau perulangan.

Jojon juga mengenalkan pada milenial Muna terkait keterangan gambar atau caption. Sebab bagian ini tidak bisa terpisahkan dari sebuah foto. Selain berfungsi untuk mengunci fakta, caption juga harus ditulis dengan bahasa ringkas, lugas, jelas dengan pemilihan kata yang sederhana.

Contoh deskripsi foto, yaitu Fardan berusia 9 tahun memiliki mata berwarna biru dan tenunan khas Suku Buton membalut kepalanya, Kendari, Sulawesi Tenggara, Selasa (15/9/2020). Untuk informasi atau background-nya adalah Fardan merupakan salah satu dari belasan orang Suku Buton di Sulawesi Tenggara yang memiliki genetik langka bernama sindrom waardenburg atau mata berwarna biru. Antara Foto/Jojon.

Caption itu penting, dia tidak terpisahkan dari foto. Caption mengandung elemen jurnalistik 5W+1H (what, who, where, when, why, how),” tambahnya.

Fotografer senior, Jojon memberikan hadiah kepada peserta dengan foto terbaik dalam pelatihan fotografi pariwisata, workshop ekonomi kreatif sub sektor media di Kabupaten Muna. (Foto: Dok.Sultrakini.com)

Selama pelatihan fotografi pariwisata di Kabupaten Muna, puluhan peserta dari kalangan milenial ini diajak memotret di sekitar lokasi kegiatan dengan tema bebas untuk mengekspresikan hasil pelatihan tersebut. Alhasil, sejumlah foto mendapatkan evaluasi langsung dari pemateri. Dan satu foto terbaik pun diberikan hadiah menarik.

Baca:   Workshop Ekonomi Kreatif di Bombana, Dispar inginkan Milenial Aktif Eksplorasi Keunggulan Daerah

(Baca juga: Yuk Promosikan Pariwisata Muna melalui Konten! Tentukan Angle-nya)

Untuk diketahui, workshop ekonomi kreatif sub sektor media tidak sebatas memotivasi sekaligus menambah pengetahuan dan keterampilan milenial dalam meningkatkan pariwisata di daerahnya, tetapi mereka berkesempatan mengikuti lomba menulis konten dan fotografi pariwisata yang digelar Dinas Pariwisata Provinsi Sultra bekerja sama dengan Lulopedia dengan total hadiah jutaan rupiah.

Editor: Sarini Ido

  • Bagikan