Mengenal Tombi, Bendera Kerajaan Konawe yang akan Berkibar di Istana Negara

  • Bagikan
Tombi Konawe. (Foto: Dok.Sultrakini.com)

SULTRAKINI.COM: Bendera Kerajaan Konawe, Sulawesi Tenggara (Sultra) atau Tombi akan kembali dikibarkan di Istana Negara bersama sejumlah bendera kerajaan nusantara lainnya untuk mengiringi bendera pustaka Republik Indonesia pada 17 Agustus 2022. Tahukah Kamu Apa itu Tombi?

Dalam tulisan Basrin Melamba, Dosen Jurusan Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Halu Oleo dilansir 16 Agustus 2022, Tombi merupakan nama lain dari sebutan bendera Kerajaan Konawe. Namun bendera ini tidak ditemukan lagi akibat kekacauan di daerah setempat, serta keberlangsungan Kerajaan Konawe.

(Baca juga: Panji Kerajaan Konawe dapat Kehormatan Kawal Bendera Pusaka RI)

Basrin yang yang juga peneliti ini mengatakan, eksistensi Tombi masih bisa terus direkonstruksi melalui berbagai sumber sejarah.

Oleh masyarakat Tolaki di Konawe, bendera dikenal term “metombi-tombi nggilo mebandera wae” atau dalam bahasa daerah Tolaki disebut tombi-tombi.

Pemegang bendera kerajaan dijuluki “Ana gili mandombi ana bali bandera” sedangkan julukan yang lainnya “Lakalea tombi labosi bandera”.

Ketika bendera dipegang osugi gelar Wutu Ahu, Tombi tidak lagi dikibarkan lantaran Konawe mengalami kemunduran. Eksistensi bendera ini diwariskan kepada Wepoindo ke Tosemba (memiliki kekerabatan dengan mantan Kepala distrik Wawotobi Rakala).

Bendera kerajaan selanjutnya dipegang oleh Mandaala dan terakhir dipegang oleh Rundu sebagai Kepala Meluhu pada 1953 terjadi pembakaran DI/TII termasuk kampung Meluhu sehingga bendera tersebut ikut terbakar.

Baca:   Banjir Landa Konawe, Ribuan Warga Mengungsi

Kabarnya bendera Kerajaan Konawe itu disimpan dalam wadah Beu.

Saksi mata atas eksistensinya bendera Kerajaan Konawe disaksikan Tosepu berusia 87 tahun, Laweo, Hadia, dan terakhir dilihat oleh Drs. H. Syarif Tabara. Kemudian dituturkan kepada Ajemain Suruambo hingga dijelaskan kembali oleh Basrin Melamba.

Tombi Konawe sempat dijadikan panji-panji pada berbagai momen. Seperti, Festival Budaya dan Kraton se-ASEAN di Kota Kendari yang dibawa oleh ombongan Kerajaan Konawe, Lembaga Adat Tolaki LAT (DPP LAT), dan Kerajaan Laiwoi pada 2015.

Filosofi Tombi Konawe

Bendera Kerajaan Konawe berbentuk segi empat melambangkan bentuk struktur Pemerintahan Kerajaan Konawe Siwole Mbatohu empat daerah barata.

Pada bagian tengah (pusat) terdapat bulatan merah (momata) melambangkan Tutuwi Motaha sebagai pemegang bendera atau yang bertanggung jawab, dan bulatan sebuah berada di tengah melambangkan eksistensi Mokole sebagai pucuk pimpinan kerajaan dan pusat kerajaan berada di titik sentral tanah Konawe, Unaaha.

Di dalam bendera terdapat tujuh unsur warna, yaitu Mopute atau putih, momea atau merah, meeto atau hitam, mokuni atau kuning, momata maido atau hijau, mouroro atau biru, dan cokelat. Ketujuh warna tersebut melambangkan “Pitu dula batuno Konawe” atau tujuh orang anggota Dewan Kerajaan Konawe.

Baca:   Polres Konawe Optimistis 70 Persen Warga Tervaksinasi Covid-19 Sampai Akhir Tahun

Warna-warna tersebut juga memiliki nilai simbol bagi orang Tolaki. Warna putih merupakan simbol kesucian. Warna putih adalah lambang tulang, langit (lahuene), siang, perdana menteri (Sulemandara), adat, kesucian, keadilan, kedamaian, keterbukaan, kematian, kelemahan, utara.

Warna merah/momea adalah lambang darah (obeli), matahari (mata oleo), raja (mokole), api (o’api), marah (saiune), keberanian (moseka), kekerasan, perjuangan, masalah, kesulitan, aspek laki-laki (polanggaia), dan aspek timur. Warna merah simbol keberanian.

Warna hitam melambangkan kewibawaan Kerajaan Konawe dan kewibawaan seorang raja Mokole.

Warna kuning simbol kejayaan (molae-laeo), selain itu warna kuning adalah lambang daging, kesetian (matilulu), bulan (owula), permaisuri (tina mokole), tanah (owuta), dendam, keuletan, kemuliaan, kejayaan, kemenangan, kebijaksanaan, aspek perempuan dan aspek barat.

Cokelat pereurehuano wonua atau tempat berpijaknya kedudukan tanah Konawe julukan wuta ipuasa lombo ilenggo baho.

Warna hijau adalah lambang tumbuh-tumbuhan dan tanam-tanaman, kesejukan, kesegaran, kesuburan, kemakmuran, kesejahteraan, senyum, dan tawa, umur panjang dan aspek darat.

Warna biru adalah lambang air, kehidupan yang kekal, keabadian, keseimbangan (tamanimba), keselarasan (konawawea), keharmonisan mombekameeriako (tasanggedo), dan aspek laut.

Sementara warna kombinasi dalam bentuk garis adalah lambang jasmani, benda-benda, kejadian yang selalu dalam proses yang tidak ada ujungnya, selalu berjalan dan selalu bergerak. Sedangkan warna kombinasi dalam bentuk kembang adalah lambang rohani, ruang, kejadian yang selalu kembali, berputar, bolak-balik, melingkar.

Baca:   Pemkab Minahasa Tenggara Mencontoh Pengembangan Pertanian di Konawe

Segi tiga berjejer pinehu (desain sudut), tepohu disebut barisi tolu (garis-garis benang tiga berderet dengan aneka ragam warna) melambangkan keberadaan mokole pemberi perintah, anakia mbuutobu menerima osara aturan, dan to’ono ngapa sebagai penerima atora atau osara.

Tiga melambangkan struktur atau pembagian strata masyarakat kerajaan Konawe yaitu anakia (bangsawan), to’ono nggapa, dan o’ata (budak).

Model segi tiga disebut tepohu seperti model lidah karena tanah Konawe terletak antara atau diapit oleh dua buah sungai Konaweeha dan Lasolo cerita segi tiga konsep “moiya ine elono owuta”.

Tiga tepohu adalah simbol-simbol matahari (mata oleo), bulan (owula), dan bintang (ana wula). Ketiga hal ini sebagai simbol atau lambang sifat yang dimiliki oleh seorang Mokole. Jumlah segi tiga yang berjejer sebanyak 12 (hopulo oruo) buah melambangkan jumlah unsur pemerintahan Kerajaan Konawe unsur eksekutif Mokole, unsur siwole Mbatohu, pitu dula batuno Konawe, ditambah osara.

Ukuran bendera menggunakan Yar atau bahasa Tolaki Yaro. Setiap satu Yar atau Yaro berukuran 90 sentimeter. (B)

Laporan: Tian
Editor: Sarini Ido

  • Bagikan