SULTRAKINI.COM: KENDARI – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Tenggara menggelar Seminar Edukatif bertajuk “Adab Literasi Media dari Perspektif Islam Menuju Generasi Emas Indonesia” di Aula Bahtiar FISIP Universitas Halu Oleo (UHO), Kamis, mulai pukul 08.00 WITA hingga siang hari. Kegiatan ini menjadi agenda terakhir MUI Sultra sebelum pelaksanaan musyawarah pemilihan Ketua MUI yang baru.
Ketua Komisi Bidang Seni dan Budaya MUI Sultra sekaligus Ketua Jurusan Ilmu Politik, Prof. Dr. H. M. Najib Husain, M.Si, mengatakan seminar ini difokuskan pada penguatan literasi digital bagi mahasiswa agar mampu menggunakan dan berinteraksi di media secara sehat serta sesuai dengan adab yang baik dan benar.
“Ini adalah kegiatan komisi bidang seni dan budaya yang memang fokus bagaimana memberikan literasi digital kepada mahasiswa agar mereka dapat menggunakan media dengan sehat dan sesuai adab,” ujarnya.
Menurut Prof. Najib, tema tersebut dipilih karena adanya kecenderungan generasi muda saat ini yang belum sepenuhnya memanfaatkan teknologi digital secara tepat. Banyak mahasiswa yang menggunakan gawai tidak sesuai fungsi yang seharusnya, bahkan cenderung menyalahgunakannya.
“Kita melihat generasi muda sekarang kadang menggunakan handphone tidak pada fungsi yang benar. Karena itu, kegiatan ini menjadi bentuk edukasi bagaimana memanfaatkan teknologi secara positif,” jelasnya.
Ia menambahkan, seminar ini menghadirkan narasumber dari kalangan akademisi dan praktisi, di antaranya dari IAIN serta Universitas Hasanuddin, guna memberikan pemahaman komprehensif terkait literasi media.
Sementara itu, Ketua Panitia kegiatan, Jumaidi, menyampaikan bahwa seminar ini diharapkan dapat membentuk sikap bijak mahasiswa dalam bermedia sosial, mengingat pesatnya perkembangan media digital saat ini.
“Perkembangan media digital sangat pesat. Karena itu, kita berharap mahasiswa betul-betul bijak dalam bermedia sosial,” katanya.
Jumaidi menjelaskan, melalui seminar ini mahasiswa diharapkan mampu menyaring informasi yang diterima serta memahami bahwa penggunaan media sosial harus disertai dengan aturan dan etika.
“Bermedia sosial itu boleh, tapi ada aturan-aturan yang harus diperhatikan. Kegiatan ini membantu bagaimana adab kita terhadap media sosial,” ujarnya.
Prof. Najib juga menekankan bahwa tantangan utama literasi media saat ini adalah rendahnya sikap kritis generasi muda dalam menyikapi informasi digital, khususnya dalam membedakan berita benar dan hoaks.
“Tantangan literasi media adalah generasi muda belum memiliki jiwa kritis. Mereka menerima informasi tanpa tabayun atau verifikasi,” tegasnya.
Ia menambahkan, konsep tabayun merupakan bagian penting dari adab literasi media dalam perspektif Islam yang perlu ditanamkan kepada mahasiswa.
Baik Prof. Najib maupun Jumaidi berharap, melalui seminar ini mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa dapat memanfaatkan teknologi digital secara bijak, beretika, dan berorientasi pada kepentingan pendidikan serta kemaslahatan bersama.












