Ngerinya! Ternyata Ini Bahaya Seks Bebas?

  • Bagikan
Ilustrasi

SULTRAKINI.COM: Pertemanan atau pergaulan jadi salah satu cara bagi para individu dalam belajar, bersosialisasi, dan langkah dalam mencari jati diri. Lalu bagaimana jadinya jika seseorang terjerumus ke dalam pergaulan bebas dan menimbulkan perilaku seks bebas di kalangan remaja? seperti apa bahaya seks di luar nikah dan kapan orang tua harus memberikan edukasi tentang seks kepada anak?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), seks adalah jenis kelamin atau hal yang berhubungan dengan alat kelamin, seperti sanggama. Kata bebas sendiri memiliki arti tidak terhalang, tidak terikat aturan. Jadi, secara garis besar seks bebas adalah suatu hubungan seksual yang tidak terikat oleh segala peraturan dan norma yang berlaku di dalam masyarakat.

loker wartawan sultrakini

Seks bebas lebih mengarah ke tindakan dan perilaku yang negatif. Perilaku ini sering dilakukan oleh para remaja dan orang dewasa, namun tidak menutup kemungkinan juga terjadi pada anak-anak.

Seks bebas menjadi salah satu perilaku yang menyimpang dalam masyarakat. Banyak bahaya dari seks bebas di luar nikah yang dapat merugikan para remaja, seperti mengakibatkan kehamilan, menciptakan kenangan buruk, cenderung melakukan aborsi, dan penyebaran penyakit dan virus.

Bahaya Seks Di Luar Nikah

  1. Mengakibatkan Kehamilan
Baca:   Wanita 24 Tahun Nikahi Kakek Sang Miliarder

Hubungan seks yang dilakukan pada masa subur akan mengakibatkan kehamilan. Hal ini tentunya sangat membuat beban mental karena kehamilan yang dianggap kecelakaan sehingga mengakibatkan kesusahan dan malapetaka bagi seorang anak/remaja dan keturunannya.

  1. Menciptakan Kenangan Buruk

Apabila seorang itu terbukti melakukan seks bebas atau seks pra nikah, secara moral akan dihantui oleh rasa bersalah berlarut-larut. Dan keluarga pun akan menanggung malu serta akan merasakan beban mental.

  1. Cenderung Melakukan Aborsi

Melakukan seks pranikah yang mengakibatkan hamil maka pelaku cenderung akan melakukan aborsi untuk menutupi aibnya. Dengan melakukan aborsi berpotensi mengakibatkan kemandulan bahkan kanker rahim. Aborsi sangatlah tidak aman karena dapat menyebabkan kematian.

  1. Penyebaran serta Penyakit dan Virus

Tentunya dengan seks bebas berpotensi dapat menyebarkan penyakit dan virus antarpasangan karena tidak ada yang tahu, mereka memiliki penyakit menular atau tidak. sehingga seks bebas ini lebih mudah menyebar penyakit maupun virus ringan maupun berat, dan lebih parahnya mengalami HIV AIDS.

Kapan Orang Tua Mememberikan Edukasi Seks Bebas kepada Anak/remaja

Sebagian besar orang tua pasti pernah mengalami kebingungan ketika anak atau remaja tiba-tiba bertanya hal-hal sensitif seputar seks. Atau mungkin bingung kapan waktu yang tepat untuk memberikan edukasi tentang seks kepada anak atau remaja.

Baca:   Bagaimana Peran Adik Bupati Muna dalam Dugaan Korupsi Usulan Dana PEN Koltim 2021?

Contoh pertanyaan yang mungkin diajukan oleh anak usia balita beserta jawabannya.

  1. Pertanyaan: Kenapa aku punya penis, tapi teman perempuanku tidak?
    Jawaban: Tubuh laki-laki dan perempuan memang berbeda.
  2. Pertanyaan: Bagaimana bayi bisa berada di perut ibu?
    Jawaban: Ibu dan ayah membuat bayi bersama dengan cara spesial.
  3. Pertanyaan: Bagaimana cara bayi dilahirkan?
    Jawaban: Ibu mengeluarkan bayi dari rahim dengan bantuan dokter dan bidan.
  4. Pertanyaan: Kenapa dada ibu besar?
    Jawaban: Tubuh perempuan akan berubah setelah dewasa nanti.

Waktu yang tepat untuk memberikan edukasi seks kepada anak-anak ketika mulai menginjak usia tujuh tahun. Pada masa ini mereka akan memberikan pertanyaan yang lebih kompleks dan membutuhkan jawaban yang lebih spesifik.

Memberikan pendidikan seksualitas kepada anak atau remaja bukanlah sekadar memberikan informasi tentang apa seks dan apa itu kontrasepsi, tetapi menumbuhkan perasaan dan kemampuan bertanggung jawab dalam diri anak atau remaja untuk membuat keputusan seksualnya berdasarkan informasi yang kredibel dan nilai-nilai yang dia anut. Untuk dapat menumbuhkan hal tersebut, pemberi informasi (misalnya orang tua) perlu:

  1. Memiliki sikap yang tidak berjarak terhadap seksualitas.
  2. Mau belajar berkomunikasi dua arah dengan anak/remaja. Bukan hanya memberikan informasi yang sifatnya menyuruh, tetapi juga mau mendengarkan pendapat anak dan menstimulasi keingintahuan dan pertanyaan-pertanyaan dari anak/remaja yang dapat berujung kepada diskusi dua arah.
  3. Mau memposisikan diri sebagai teman anak/remaja dalam membuat keputusan seksual yang bertanggungjawab
Baca:   Cuaca Ekstrem di Baubau, Penumpang Kapal Diimbau Tunda Perjalanan Tiket Tidak Hangus

Pada akhirnya, kita mau dilihat menjadi sosok yang kredibel tetapi juga approachable (bisa didekati) dalam memberikan pendidikan seksualitas (sex education). (B)

Laporan: Farhan
Editor: Sarini Ido

loker marketing sultrakini
  • Bagikan