Pembelajaran Efektif sebagai Upaya Membentuk Pribadi Paripurna

  • Bagikan
Muh. Hamiruddin S.
Muh. Hamiruddin S.

Oleh: Muh. Hamiruddin S.
(Penulis adalah Mahasiswa DPPS Magister Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah, Malang).

SULTRAKINI.COM: Manusia adalah makhluk individu dan makhluk sosial. Adapun manusia sebagai makhluk sosial maksudnya adalah manusia tidak dapat dipisahkan dari individu lainnya. Dalam konteks ini, mengingat keterbatasan akal dan keinginan manusia, kita perlu memahami dengan baik pentingnya proses dan interaksi pembelajaran.

Belajar dan pendidikan adalah dua kegiatan yang terpisah, tetapi memiliki makna yang berbeda. Belajar diartikan sebagai perubahan tingkah laku berdasarkan pengalaman yang didapat. Sedangkan mengajar adalah kegiatan menyediakan kondisi yang merangsang serta mangarahkan kegiatan belajar siswa/subjek belajar untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap yang dapat membawa perubahan serta kesadaran diri sebagai pribadi.

Mengajar (teaching) dapat membantu siswa memperoleh informasi, ide, keterampilan, nilai, cara berfikir, sarana untuk mengekpresikan dirinya, dan cara-cara belajar. Pembelajaran adalah upaya untuk membelajarkan siswa. Secara implisit dalam pengertian ini terdapat kegiatan memilih, menetapkan, mengembangkan metode untuk mencapai hasil pembelajaran yang diinginkan. Pemilihan, penetapan, dan pengembangan metode ini didasarkan pada kondisi pembelajaran yang ada.

Guru merupakan tenaga pendidik yang membagikan beberapa ilmu pengetahuan kepada anak didik di sekolah. Guru merupakan orang yang berpengalaman dalam bidang profesinya. Dengan ke ilmuan yang dimilikinya, ia bisa menjadikan anak didik jadi orang yang pintar.

Dalam dunia pembelajaran, guru ialah aspek berarti serta utama, karena guru merupakan orang yang bertanggungjawab terhadap pertumbuhan jasmani serta rohani peserta didik, paling utama di sekolah, buat menggapai kedewasaan peserta didik sehingga dia jadi manusia yang paripurna serta mengetahui tugas- tugasnya selaku manusia.

Guru sebagai kunci keberhasilan, maksudnya bila guru berhasil hingga mungkin murid- muridnya hendak berhasil. Serta guru ialah figure inspirator serta motivator murid dalam mengukir masa depannya. Bila guru sanggup jadi sumber inspirasi serta motivasi untuk anak didiknya, hingga perihal itu hendak jadi kekuatan dalam mengejar cita-cita besarnya di masa depan.

Guru dalam penafsiran simpel merupakan orang yang mempasilitasi alih ilmu pengetahuan dari sumber belajar kepada partisipan didik. Sedangkan, warga memandang guru selaku orang yang melakukan pembelajaran di sekolah, masjid, mushola ataupun tempat- tempat lain. Pertumbuhan pesat teknologi data dikala ini, rasanya meningkatkan tantangan tertentu bagu guru. Mengingat guru bukan lagi salah satunya sumber data sampai timbul komentar kalau Pembelajaran bias berlangsung pada guru.

Peran guru merupakan sosok seorang yang dijadikan pelaku atau pemain dalam dunia pendidikan sebagai tokoh terhormat dalam masyarakat sebab ia nampak sebagai orang yang berwibawa, sebagai penilai, sebagai seorang sumber karena ia memberi ilmu pengetahuan, sebagai pembantu, sebagai wasit, sebagai detektif, sebagai obyek identifikasi, sebagai penyangga rasa takut, sebagai orang yang menolong memahami diri, sebagai pemimpin kelompok, sebagai orang tua/wali, sebagai orang yang membina dan memberi layanan, sebagai kawan bekerja dan sebagai pembawa rasa kasih sayang.

Peran guru dipandang strategis dalam usaha mencapai keberhasilan proses belajar mengajar apabila guru mau menempatkan dan menjadikan posisi tersebut sebagai pekerjaan profesional. Dengan demikian, guru akan disanjung, diagungkan dan dikagumi, karena perannya yang sangat penting diarahkan ke arah yang dinamis yaitu menjadi pola relasi antara guru dan lingkungannya, terutama siswanya.

Sehingga proses belajar merupakan proses perubahan menuju tujuan pembelajaran, sebagai interaksi dengan lingkunganya. Belajar merupakan kata kunci dalam setiap usaha pendidikan, sehingga jika tanpa proses belajar ajar maka Pendidikan tidak akan terlaksana secara baik.

Baca:   Hipokrisi Demokrasi Memperlakukan Umat Islam

Tinggi rendahnya kualitas perkembangan manusia merupakan hasil nyata dari proses belajar, dan tentunya sangat menentukan tingkat peradaban atau derajat manusia. Belajar dalam pendidikan formal merupakan kegiatan pokok yang menentukan berhasil atau tidaknya pencapain tujuan pendidikan. Oleh karena itu, belajar perlu direncanakan dengan mempertimbangkan aspek yang mempengaruhi pencapaian tujuan pendidikan.

Karakteristik Pembelajaran Efektif

Pembelajaran ialah proses dua arah, di mana mengajar dilakukan oleh pihak guru sebagai pendidik, sedangkan belajar dilakukan oleh peserta didik atau murid. Seorang guru membelajarkan siswa dengan menggunakan asas pendidikan maupun teori belajar merupakan penentu utama keberhasilan pendidikan.

Istilah pembelajaran lebih popular dan lebih tepat ketimbang proses belajar mengajar yang tekanannya pada motivasi peserta didik untuk aktif agar mereka dapat menemukan sendiri cara belajar yang tepat baginya (learn how to learn). Pembelajaran dapat efektif apabila mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan sesuai dengan indikator pencapaian.

Untuk mengetahui bagaimana memperoleh hasil yang efektif dalam proses pembelajaran, maka sangat penting untuk mengetahui ciri-cirinya. Adapun Pembelajaran yang efektif dapat diketahui dengan ciri:

Belajar dengan aktif baik mental maupun fisik. Aktif secara mental ditunjukkan dengan mengembangkan kemampuan intelektualnya, kemampuan berfikir kritis. Dan secara fisik, misalnya menyusun intisari pelajaran, membuat peta dan lain-lain.

Metode yang bervariasi, sehingga mudah menarik perhatian peserta didik dan ruang kelas menjadi hidup.

Motivasi guru terhadap pembelajaran di kelas. Semakin tinggi motivasi seorang guru akan mendorong siswa untuk giat dalam belajar.

Suasana demokratis di sekolah, yakni dengan menciptakan lingkungan yang saling menghormati, dapat mengerti kebutuhan siswa, tenggang rasa, memberi kesempatan kepada siswa untuk belajar mandiri, menghargai pendapat orang lain.

Pelajaran di Sekolah Perlu Dihubungkan dengan Kehidupan Nyata

Interaksi belajar yang kondusif, dengan memberikan kebebasan untuk mencari sendiri, sehingga menumbuhkan rasa tanggung jawab yang besar pada pekerjaannya dan lebih percaya diri sehingga anak tidak menggantungkan pada diri orang lain.

Pemberian remedial dan diagnosa pada kesulitan belajar yang muncul, mencari faktor penyebab dan memberikan pengajaran remedial sebagai perbaikan.

Guru yang efektif sangat berkaitan dengan pembelajaran yang efektif, Good and Brophy sebagai guru harus:
1). Sebagai guru agar memaksimalkan waktu dalam pembelajaran,
2). Pemenuhan kebutuhan peserta didik disajikan bahan atau materi pembelanjaran menyajikan dengan cara tertentu,
3). Program dan kemajuan terus dipantau,
4). Memberikan kesempatan belajar bagi peserta didik untuk menerapkan pengalaman belajarnya,
5). Mengulang kembali pembelajaran jika diperlukan, dan
6). Menargetkan harapan tinggi, dengan tujuan yang trealistis.

Berbicara masalah kualitas tentu sangat terkait dengan seberapa besar layanan yang kita berikan kepada peserta didik. Kita tidak bisa menuntut banyak kepada peserta didik, jika layanan yang kita berikan sangat terbatas. Artinya, layanan belajar yang kita berikan seharusnya memberikan peluang besar bagi perkembangan keseluruhan aspek peserta didik.

Kualitas pembelajaran merujuk pada aktivitas-aktivitas yang kita rancang dan tindakan-tindakan yang kita lakukan dan dilakukan oleh peserta didik, termasuk di dalamnya bahanbahan atau pengalaman belajar (kurikulum) serta media yang kita gunakan. Jika pembelajaran yangkita lakukan berkualitas, maka bahan atau informasi yang disajikan kepada peserta didik mudah dipahami, mudah diingat dan diaplikasikan oleh peserta didik. Hal yang terpenting tentang kualitas pembelajaran adalahseberapa tinggi tingkat atau derajad dimana pelajaran mudah bagi peserta didik.

Baca:   Ramadan, Bulan Berkasih Sayang

Kualitas pembelanjaran dapat dialihat dari 6 hal mendasar dalam prktik yang ditandai dalam proses belajar dan pembelajaran, yaitu: 1) secara efektif guru merancang pembelajaran yang berpusat pada standar, 2) penyampaian pembelajaran berkualitas tinggi oleh guru yang berpusat pada peserta didik, 3) keterlibatan peserta didik perlu ditingkankan oleh guru, 4) penggunaan penilaian bagi peserta didik, 5) guru menggunakan strategi pengelolaan perilaku secara positif dan 6) adanya kejelasan belajar peserta didik.

Apa ciri-ciri pendidikan yang berkualitas itu? Dimensi yang menandai berkualitasnya pendidikan meliputi sebagai berikut: (UNICEF, 2000).

Para peserta didik dalam keadaan sehat, terpenuhi gizi dan siap untuk terlibat dalam proses belajar, ada dukungan keluarga dan masyarakat dalam belajar; 

Lingkungan yang sehat, aman, nyaman, terlidungi dan memperhatikan gender serta menyediakan sumber-sumber dan fasilitas yang memadai;

Isi atau bahan yang termuat dalam kurikulum relevan untuk mendukung pemerolehan keterampilan dasar, khususnya terkait bidang kemahirwacanaan, berhitung dan kecakapan hidup serta pengetahuan yang terkait misalnya masalah gender, kesehatan, nutrisi, pencegahan HIV/AIDS dan perdamaian;

Proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru yang terlatih dengan menggunakan pendekatan yang berpusat pada anak (child-centred teaching approaches) dalam kelas dan sekolah yang dikelola dengan baik serta asesmen tepat untuk memfasilitasi belajar dan mengurangi disparitas;

Hasil belajar yang mencakup pengetahuan, keterampilan dan sikap yang berkaitan dengan tujuan (standar) Pendidikan nasional sehingga mereka mampu berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat.

Kualitas hasil pembelajaran atau pendidikan ditandai oleh adanya siswa yang sehat, lingkungan sehat, nyaman dan aman, isi atau kurikulum yang relevan, pembelajaran berpusat pada peserta didik dan hasil belajar secara terintegrasi mecakup pengetahuan, keterampilan dan sikap.

Keberhasilan proses pembelajaran tidak terlepas dari kemampuan guru dalam mengembangakan model-model pembelajaran yang berorientasi pada peningkatan intensitas keterlibatan peserta didik secara aktif dalam proses pembelajaran. Pengembangan model pembelajaran yang tepat pada dasarnya untuk menciptakan kondisi pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat meraih hasil belajar dan prestasi secara maksimal.

Pengembangan model pembelajaran tidak terlepas dari pengetahuan mengenai konsep dan kemampuan guru dalam mengimplementasikan model pembelajaran tersebut. Berikut satu model pembelajaran sebagai tawaran solusi kepada guru untuk dikembangkan adalah model pembelajaran yang dikembangkan oleh Goerge Betts ini didasarkan pada konsep “pembelajar mandiri” (autonomous learner).

Pembelajar mandiri adalah mereka yang mampu menyelesaikan masalah atau mengembangkan gagasan-gagasan baru dengan mengkombinasikan cara berpikir divergen dan konvergen tanpa terlalu banyak dibantu orang luar untuk emmilih bidang-bidang tindakan yang dikehendakinya. (Huda, 2014).

Tujuan model pembelajaran ini adalah memfasilitasi perkembangan peserta didik agar menjadi pembelajar yang independen, mandiri, dengan pengembangan skill konsep-konsep, dan sikap-sikap positif dalam ranah kognitif, emosional, dan sosial. Model pembelajaran ini dapat digunakan secara fleksibel dalam berbagai situasi dan kondisi. Fokus utama model pembelajaran ini adalah belajar seumur hidup. Lima dimensi dalam model pembelajaran Goerge Betts, yaitu:

Orientasi, yaitu dengan memahami bakat dan potensi, aktivitas-aktivitas kelompok, pengembangan diri personal

Pengembangan individual dengan pemahaman intra atau inter personal, skill-skill belajar, dan pemanfaatan teknologi.

Kekayaan yaitu tentang pelajaran, eksplorasi, investigasi, aktivitasaktivitas kultural, layanan masyarakat, dan darmawisata.

Baca:   Ratusan Jamaah Hadiri Pengajian BKMT Kolaka

Seminar yaitu dengan presentasi kelompok kecil.

Studi mendalam melalui proyek-proyek individu, kelompok, presentasi penilaian diri dan orang lain.

Sehingga membentuk pribadi Paripurna sebagai output pembelajaran efektif bukan hanya pintar dari segi rasio tetapi juga memiliki kepekaan hati yang selalu terikat dengan nilai-nilai tauhidiyah. Bagi pendidikan Islam memang akal tidak selamanya mampu menyelesaikan persoalan kehidupan.

Seperti dijelaskan oleh (Shihab, 1996) adakalanya akal itu buntu tak sanggup menemukan solusi ketika ada persoalan. Maka dengan demikian manusia paripurna berarti manusia yang memahami tentang Tuhan, diri, dan lingkungannya. Jadi pendidikan Islam memiliki prinsip dan keyakinan manusia harus ditempatkan pada posisi makhluk yang diciptakan sehingga ia membutuhkan pendidikan untuk mewujudkan keseluruhan esensi dirinya secara kodrati.

Manusia adalah makhluk individu, makhluk sosial, makhluk bermoral, dan sekaligus makhluk yang ber-Tuhan. Karena ia makhluk ber-Tuhan, maka manusia harus patuh, tunduk dan berterima kasih kepada-Nya dengan melakukan ibadah sebanyak-banyaknya agar segala aktivitasnya tetap pada prinsip dasar kemaslahatan diri, umat dan alam.

Ada tiga tugas utama atau tugas pokok guru, yaitu mencakup merancang (design), melaksanakan (execute) dan menilai (evaluate), dan menurut Permendiknas 41/2007 ditambah lagi dengan tugas pengawasan. Tugas utama tersebut terarah untuk mendukung pencapaian kualitas pendidikan, atau pembelajaran secara khusus. Untuk mewujudkan standar proses, ditentukan adanya tiga tahap pokok kegiatan, yang mencakup kegiatan pendahuluan, pokok dan penutup.

Semoga kedepannya Guru bisa terus beinovasi dalam pengembangn model pembelajaran efektif, apalagi ditengah pandemi Covid-19 sehingga mampu membentukn pribadi paripurna bagi peserta didik, yang akan berguna untuk dirinya, lingkungan bangsa dan Negaranya.

Selamat Hari Guru Nasional 2021 Bergerak dengan Hati, Pulihkan Pendidikan. (***)

DAFTAR PUSTAKA

Asmani, J. M. (2010). Tips Menjadi Guru Inspiratif, kreatif dan Inovatif. Yogyakarta: DVA Press.

Dedi Supriadi. (1999). Mengangkat Citra dan Martabat Guru. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa.

Hamalik, O. (2002). kurikulum dan pembelajaran. Jakarta: PT. Bumi Aksara.

Hamdani, I. R. (2016). KONSEP GURU DAN PENDIDIKAN AKHLAK MENURUT IMAM AL-GHAZALI. Tarbiyah al-Aulad, 1.

Hermawan, A. (2014). Konsep Belajar dan Pembelajaran menurut Al-Ghazali. JURNAL QATHRUNÂ, 88.

Kunandar. (2001). Guru Profesional. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Kuswanto, E. (2014). Peranan Guru PAI dalam Pendidikan Akhlak di Sekolah . Mudarrisa: Jurnal Kajian Pendidikan Isalam, 194.

Mudjiono, D. d. (2013). Belajar dan Pembelajaran. jakarta: Rineka Cipta.

Mujito, W. E. (2014). KONSEP BELAJAR MENURUT KI HADJAR DEWANTARA DAN RELEVANSINYA DENGAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM. Jurnal Pendidikan Agama Islam, 66.

Mulyassa, E. (2003). Menjadi kepala sekolah profesional: dalam konteks menyukseskan MBS dan KBK. Bandung: Remaja Rosda Karya.

Nizar, R. d. (2005). Ensiklopedia Tokoh Pendidikan Islam. Jakarta: Quatntum Teaching.

Priyatno. (2009). Dasara Teori dan Praksis Pendidikan. Jakarta: Grasindo.

Purwanto, N. (2001). Psikologi Pendidikan Remaja. Bandung: Remaja Rosda Karya.

RI, Kmentrian Agama. (2019). Al-Qur’anul Qarim for Word. Jakarta: Kementrian Agama RI.

Slameto. (1995). Belajar dan Faktor-faktor Belajar yang Mempengaruhi. Jakarta: Rineka Cipta.

Slameto. (2003). Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.

Solehudin, M. (2018). PERAN GURU PAI DALAM MENGEMBANGKAN KECERDASAN EMOSIONAL (EQ) DAN KECERDASAN SPIRITUAL (SQ) SISWA SMK KOMPUTAMA MAJENANG. Jurnal Tawadhu, 310.

Tim Pengembang Ilmu Pendidikan. (2007). Ilmu dan Aplikasi Pendidikan. Jakarta: Cet 2. PT Intima.

  • Bagikan