Pemdes Laworo Sulap Rawa jadi Tempat Ekowisata 

  • Bagikan
Lokasi Rawa yang akan disulap menjadi tempat ekowisata di Desa Laworo. (Foto: Hasan Jufri/SULTRAKINI.COM)
Lokasi Rawa yang akan disulap menjadi tempat ekowisata di Desa Laworo. (Foto: Hasan Jufri/SULTRAKINI.COM)

SULTRAKINI.COM: MUBAR – Maksimalkan potensi yang dimiliki daerah dalam upaya  Pendapatan Asli Desa (PAD), Pemerintah Desa Laworo, Kabupaten Muna Barat, Sulawesi Tenggara menyulap Rawa menjadi tempat ekowisata.

Tidak main-main, pemerintah desa setempat menggelontorkan dana desa sebesar Rp112 juta berasal dari dana desa untuk menyulap rawa di kawasan hutan rimba tersebut.

Program tersebut akan berkorelasi dengan kegiatan pariwisata yang berwawasan lingkungan, dengan mengutamakan aspek konservasi alam, pemberdayaan sosial budaya ekonomi masyarakat lokal, serta aspek pembelajaran dan pendidikan.

Kepala Desa (Kades) Laworo,La Ode Ida mengatakan, ada dua petak lokasi yang akan dijadikan sebagai ekowisata. Pertama, lokasi dengan luas 20×25 meter persegi telah terbentuk, sedangkan lokasi berukuran 80×90 meter persegi sementara dibuat tanggul yang mengelilingi areal tersebut.

“Pengerjaan tahap awal sudah mulai ramping. Nantinya tempat ini (Rawa,red) kita akan sulap menjadi salah satu ikon tempat wisata di Laworo,” ungkapnya, Kamis (20/1/2022).

Lokasi ekowisata itu, akan di desain semenarik mungkin agar terlihat eksotis. Skemanya, dibentuk sebuah daerah mini, dengan gugusan pulau-pulau buatan. Untuk lokasi dengan ukuran 80×90 meter persegi, dibuatkan enam sampai tujuh gugusan pulau, dilengkapi dengan vila, lampu penerang, kafetaria, hingga lokasi wisata pemancingan.

Baca:   Empat Tahun Memimpin Wakatobi, Ini Capaian Arhawi di Bidang Kesehatan

Sementara, lokasi berukuran 20×25 meter, dibuatkan dua gugusan pulau, yang kini sudah terbentuk.

“Gugusan pulau-pulau ini semuanya akan terhubung. Ini akan menjadi tempat refresing. Enam pulau buatan akan dijadikan tempat VIP. Di sana nanti ada tempat karaokenya. Tempat makan dan minum, tempat mancing, dan posisinya berada ditengah pulau. Ini juga menjadi potensi pengembangan ekonomi masyarakat. Karena, membuka lapangan kerja. Masyarakat akan diberdayakan,” bebernya.

La Ode Ida menargetkan, Desa Laworo 2024 mendatang menuju kemandirian, yang tadinya tahun 2020 masuk kategori desa tertinggal. Ia menilai, 2021 ini, sudah masuk sebagai desa berkembang. Sebab, berbagai program pembangunan dari provinsi secara berkesinambungan, telah dilakukan disana.

La Ode Ida menambahkan, pengembangan ekowisata jika digenjot menggunakan dana desa, ditargetkan 2023 sudah tuntas pembangunannya. Akan tetapi, jika pemerintah kabupaten setempat memberikan suplai bantuan melalui dana APBD, maka dipastikan 2022 ini tuntas seratus persen pengerjaannya.

“Kita juga tetap kolaborasi dengan dinas terkait yakni Dinas Perikanan dan Pariwisata. Karena, pada dasarnya, kita berupaya mengangkat icon Kota Laworo. Alhamdulillah, kita sudah komunikasi dengan Kadis Pariwisata, kita akan undang untuk hadir dan berkunjung sekaligus memberikan petunjuk,” terangnya.

La Ode Ida mengaku, selama Desa Laworo terbentuk 23 tahun lamanya, hutan yang ada terabaikan. Kini, perlahan sudah menunjukkan progres signifikan. Makanya, di era kepemimpinannya, ekowisata diserahkan pada BUMDes untuk dikelola demi meningkatkan pendapatan keuangan desa.

Baca:   RSUD Buton Siap Menuju Rumah Sakit Berskala Internasional

“BUMDes selama ini mati suri. Kita akan hidupkan kembali supaya bisa berkembang cepat dengan wadah yang telah disiapkan,” akunya.

Ia berharap, dengan pengambangan itu, ada target-target yang mesti dicapai, demi kesejahteraan bersama. Mulai dari peluang lapangan kerja, hingga kegiatan usaha lainnya.

“Masyarakat yang tidak punya lahan pertanian, bisa diakomodir untuk menjaga dan melestarikan aset. Kemudian, generasi semakin sadar bagaimana peluang bisnis bisa dikembangkan. Dengan begitu, target Desa Laworo bisa menjadi desa mandiri ke depan bisa tercapai,” tutupnya. (B)

Laporan: Hasan Jufri
Editor: Hasrul Tamrin

  • Bagikan