Penurunan Harga Nikel: Dampak Transisi ke Baterai LFP dalam Industri Kendaraan Listrik

  • Bagikan

SULTRAKINI.COM: Dunia sedang menyaksikan pergeseran signifikan dalam teknologi baterai kendaraan listrik, dari dominasi baterai berbasis nikel ke adopsi baterai Lithium Ferrophosphate (LFP).

Baterai LFP, yang dikenal dengan ketahanan termal yang luar biasa dan keselamatan yang lebih tinggi, mulai mendapat tempat dalam produksi kendaraan listrik. Tesla, sebagai pemimpin dalam industri mobil listrik, telah mengadopsi baterai LFP untuk model standard range mereka, menandai transisi yang mungkin mengubah dinamika pasar baterai global.

Penurunan harga nikel di pasar global adalah salah satu dampak langsung dari perubahan ini. Menurut Pengamat Energi Universitas Gadjah Mada, Fahmy Radhi, pergeseran menuju LFP, yang relatif lebih murah dan memiliki kualitas yang kompetitif, dapat mengurangi ketergantungan industri pada nikel.

Hal ini dapat mengakibatkan penurunan harga nikel yang drastis, dimana Fahmy memprediksi bahwa harga bisa turun hingga di bawah US$ 10 ribu per ton metrik kering (dmt).

Data terkini menunjukkan bahwa harga nikel telah mengalami penurunan signifikan. Pada awal 2024, harga nikel acuan Indonesia merosot hingga 7,17% ke level US$ 16.386,86 per dmt, dari US$ 17.653,33 per dmt pada Desember 2023, menurut

Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 8.K/MB.01/MEM.B/2024. Januari 2024 menandai titik terendah dalam dua tahun terakhir, menggantikan rekor sebelumnya pada Desember 2023.

Penurunan harga nikel ini mempunyai implikasi serius, khususnya bagi negara-negara produsen nikel seperti Indonesia. Indonesia, sebagai salah satu produsen nikel terbesar di dunia, mungkin akan menghadapi penurunan penghasilan yang substansial.

Fahmy Radhi menyatakan bahwa apabila harga nikel mencapai level di bawah US$ 10 ribu per dmt, hal ini akan mendatangkan dampak negatif bagi ekonomi Indonesia.

Dalam menghadapi dinamika ini, diperlukan strategi adaptif dan proaktif dari pemerintah dan pelaku industri. Diversifikasi produk dan inovasi dalam teknologi pengolahan nikel mungkin menjadi kunci untuk meminimalisir dampak negatif dari penurunan harga. Selain itu, eksplorasi pasar baru dan pengembangan aplikasi nikel dalam industri lain, seperti sektor energi dan teknologi, mungkin memberikan peluang baru untuk mengimbangi penurunan permintaan dalam industri baterai.

Transisi ke baterai LFP dalam industri kendaraan listrik merupakan fenomena yang memiliki dampak ekonomi yang luas, khususnya terhadap pasar nikel global. Dengan penurunan harga nikel yang signifikan, pemerintah dan pelaku industri perlu merespons dengan strategi yang inovatif dan adaptif.

Dalam menghadapi tantangan ini, kemampuan untuk menyesuaikan dan memanfaatkan peluang baru akan menjadi faktor kunci dalam mempertahankan stabilitas dan pertumbuhan ekonomi di tengah pergeseran teknologi baterai yang dinamis. (Djufri Rachim)

  • Bagikan
Exit mobile version